Di antara Istana Merdeka dan Istana Negara, ada halaman yang pernah berdiri gazebo untuk taman kanak-kanak. Murid-muridnya adalah anak tukang kebun, anak juru masak, anak pelayan istana, anak pegawai sekretariat negara, dan anak menteri serta duta besar. Salah satunya bocah bungsu Presiden.
Guruh menceritakan adegan itu kepada rekan saya, Sa’duddin Sabilurrasad ketika wawancara untuk skripsi filsafatnya tentang Konsep Tauhid menurut Bung Karno. Dan cerita itu, hampir tujuh puluh tahun kemudian, dalam diskusi sejarah lisan yang digelar Arsip Nasional Republik Indonesia pada Februari 2024. Ia mengenang masa kembali kisah itu dengan nada yang nyaris datar.
Hidup di Istana, katanya, terasa biasa-biasa saja. Lalu ia menambahkan satu detail yang membuat kalimat “biasa-biasa saja” itu retak. Masa kecil setiap kali turun dari tangga istana menuju taman sudah ada yang mengawal. Anak-anak lain boleh mencoret-coret tembok di rumah mereka, sementara anak-anak Soekarno dan Fatmawati, katanya, sudah harus paham sejak kecil mereka tidak boleh macam-macam. Mereka tidak boleh sembarang corat-coret tembok karena itu aset negara, bukan milik bapaknya. Ia menyebut perasaannya dengan satu frasa, yakni hidup seperti dalam sangkar.
Dua kalimat itu, biasa-biasa saja dan sangkar tidak pernah benar-benar ia damaikan. Barangkali memang tidak perlu.
Guruh wafat Sabtu dini hari, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB, di RS MRCCC Siloam Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan kabar itu. Jenazahnya dibawa ke rumah duka di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, kawasan tempat rumah ibunya dulu membesarkan anak-anak. Kabar pagi ini menyebutnya dengan urutan yang sudah bisa ditebak: putra bungsu Bung Karno, adik Megawati, seniman, politikus berpulang. Nama ayahnya selalu datang lebih dulu.
Sang Ayah yang Juga Sebuah Republik
Tidak mungkin menulis Guruh tanpa mengiris cerita tentang Soekarno. Tapi juga tidak adil menganggap Guruh hanya pantulan cahaya Putera Sang Fajar, Sang Penjambung Lidah Rakjat.
Kesaksian Guruh sendiri dalam berbagai kesempatan ia gambarkan Bung Karno sebagai sosok yang, bukan hanya ayah tetapi juga guru, pemimpin, dan teman. Dalam diskusi ANRI yang sama, ia katakan, kedua orang tuanya jarang mendidik dengan kata-kata. Mereka mendidik lewat perbuatan, termasuk soal kebudayaan dan politik. Ia mengingat bagaimana ayahnya bersikap sangat akrab kepada sopir, tukang masak, dan pengawal, sama seperti kepada para menteri dan jenderal-jenderal. Soal agama pun begitu. Menurut penuturannya, anak-anak Soekarno tidak diberi les mengaji khusus karena pendidikan agama sudah diperoleh di sekolah. Dan Bung Karno mengajaknya salat Jumat dan salat Ied ke masjid kali pertama ketika ia kelas satu sekolah dasar.
Dari kacamata putera bungsunya, pembaca Nahdliyin akan mengenali Soekarno yang lain di sini. Soekarno yang pada 1954 diberi kedudukan oleh para ulama dalam konferensi alim ulama di Cipanas yang digagas Menteri Agama KH Masjkur itu, adalah satu-satunya kepala negara yang ditetapkan sebagai waliyyul amri adh-dharuri bisy-syaukah, pemegang kekuasaan yang sah karena keadaan darurat dan kekuatan yang nyata.
Atas gelar itu, KH Abdul Wahab Chasbullah lalu menjelaskan dasar pemikirannya di parlemen sekaligus menutup celah bagi klaim Darul Islam. Guruh lahir setahun sebelum gelar itu diberikan. Ia tumbuh di bawah seorang ayah yang legitimasinya ikut dirawat para kiai, dan dari seorang ibu yang sebelum menjadi Ibu Negara adalah aktivis Nasyiatul Aisyiyah dan putri tokoh Muhammadiyah Bengkulu bernama Hassan Din. Dua arus besar Islam Indonesia yang membentuk alam batin satu keluarga. Pengalaman itu bagian dari warisan si bungsu, meski jarang diceritakan.
Ada satu kesaksian lain yang lebih gelap. Menurut penuturannya, ia berada di dekat lapangan Istana Merdeka pada pagi Idul Adha 1962 ketika upaya percobaan penembakan terhadap Presiden saat salat. Ia sempat menolak ikut salat karena merasa kurang enak badan, tetapi tetap mengantar ayahnya turun ke lapangan. Guntur kecil menyaksikan pengawal presiden menangkap penembak itu. Seorang anak berusia sembilan tahun, berdiri di pinggir lapangan menyaksikan sebuah percobaan pembunuhan terhadap ayahnya. Guruh menceritakannya tanpa dramatisasi. Kita tidak tahu, dan tidak berhak menebak, apa yang tertinggal pagi itu di dalam dirinya.
Ada satu hal yang jarang dibicarakan Guruh di depan publik. Tidak lama setelah ia lahir, Fatmawati meninggalkan Istana ketika Soekarno menikahi Hartini dan tinggal di rumah sekitar Kebayoran Baru. Menurut penulis biografi Soekarno, Roso Daras, anak-anak tetap tinggal di Istana bersama ayah mereka. Jadi si bungsu dibesarkan di sebuah rumah sekaligus kantor negara, sementara ibunya tinggal di rumah lain di selatan kota.
Siapa yang menidurkannya, menyuapinya, menemaninya belajar tari Jawa, Sunda, dan Bali pada usia lima tahun? Sumber yang tercatat hanyalah lingkaran orang yang ia sebut sendiri: seorang ayah yang mendidik lewat perbuatan, seorang ibu di rumah seberang kota, dan orang-orang Istana, dari tukang kebun hingga juru masak di mana anak-anaknya adalah teman sekelasnya.
Mengutip berita Antara, Guruh secara khusus menyebut Suminah Sastrowijoyo mengasuhnya. Ia panggil Nek Joyo, sebagai pengasuhnya. Bagi Guruh, Suminah buta huruf, sementara suaminya berasal dari lingkungan ningrat Keraton Surakarta. Nek Joyo juga mengajarinya tentang kesabaran dan rasa tidak merdeka. Ketika Guruh merasa terganggu oleh protokol dan pengawalan, Nek Joyo menjelaskan bahwa sebagai manusia harus bersabar karena akan ada saatnya seseorang bisa merdeka.
Pada fase itu sulit untuk tidak teringat pada masa kecil Soekarno sendiri. Dalam otobiografi yang dituturkannya kepada Cindy Adams, Soekarno mengenang Sarinah, perempuan yang mengasuhnya ketika ia kanak-kanak di Jawa Timur. Sarinah tidak digaji. Ia tidur, makan, dan hidup bersama keluarga itu seperti anggota keluarga sendiri. Sambil memasak, menurut Soekarno, Sarinah mengajarinya untuk lebih dulu mencintai ibunya, rakyat kecil, lalu kemanusiaan. Soekarno menyebut perempuan itu punya pengaruh terbesar bagi hidupnya. Pada 1947 ia menamai bukunya tentang perempuan dan revolusi dengan nama Sarinah. Kelak nama itu pula yang dipasang pada pusat perbelanjaan modern di Jalan Thamrin Jakarta Pusat. Sarinah seorang pengasuh dari desa jadi nama sebuah gedung di jantung ibu kota. Begitulah cara Soekarno membayar utang budi.
Tidak ada Sarinah yang tercatat dalam kisah Guruh. Tetapi cara ia dibesarkan terdengar seperti gema dari dapur di Jawa Timur yang dipindahkan ke halaman Istana. Pelajaran yang dulu diterima Soekarno dari seorang pengasuh ia turunkan kepada anaknya bukan lewat ceramah, melainkan lewat pengalaman sehari-hari: sebuah taman kanak-kanak tempat anak Presiden duduk bersama anak juru masak. Guruh kemudian mengaku tidak pernah canggung bergaul dengan ragam lapisan masyarakat ketika keluar Istana. Pendidikan sehari-hari bukan dengan nasihat melainkan buah kebiasaan.
Lalu tahun 1970 datang. Soekarno wafat dalam status tahanan rumah di Wisma Yaso. Ekonomi keluarga merosot tajam dan rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya harus dikontrakkan guna membiayai hidup serta kuliah Guruh di jurusan arkeologi Universiteit van Amsterdam. Di Belanda ia hidup sebagai mahasiswa dengan uang pas-pasan, mengajar gamelan dan tari Bali untuk tambahan, dan bermain dalam kelompok gamelan di Tropenmuseum.
Di sinilah pertanyaan yang menggerakkan seluruh hidupnya mulai berbentuk. Bagaimana rasanya menjadi anak dari seseorang yang, bahkan setelah wafat, masih memenuhi setiap ruang publik bangsanya, sementara di ruang privat keluarga itu harus menyewakan rumah untuk membayar kuliah? Warisan simbolik yang nyaris tak terbatas, warisan material yang makin menyusut. Pada awal 1970-an di sebuah kota yang pernah menjajah negerinya, putra Proklamator mengajari orang-orang Belanda menabuh gamelan.
Kuliahnya tidak selesai. Sebagian besar sumber menyebut ia belajar di Amsterdam pada 1971 hingga 1974 tanpa merampungkan studi. Sebagian sumber lain menyebut ia lulus pada 1976.
Suara yang Merdeka
Sekembalinya ke Jakarta, Guruh menemui kawan lamanya, Chrisye dan Keenan Nasution. Mereka membentuk grup musik, Gipsy. Hasilnya adalah album Guruh Gipsy yang dirilis Maret 1977 setelah proses rekaman yang disebut memakan waktu sekitar enam belas bulan, dikerjakan secara independen.
Mendengarkan album itu hari ini masih terasa seperti menyaksikan sebuah perdebatan yang tidak pernah selesai. Organ Hammond dan synthesizer berhadapan dengan gamelan Bali. Guruh sendiri memainkan piano dan gender. Lagu pembukanya, “Indonesia Maharddhika”, berdurasi lebih dari lima belas menit. Judul itu bermakna Indonesia yang merdeka. Nama-nama para pemainnya diselundupkan di dalam lirik yang dwibahasa seolah album ini adalah teka-teki tentang siapa sebenarnya yang berbicara. Pada 2007, majalah Rolling Stone Indonesia menempatkannya sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa.
Perihal menarik dari Guruh Gipsy bukan bahwa ia “melestarikan tradisi”. Kata melestarikan mengandaikan semacam museum, rumah kaca dengan suhu ruangan yang dijaga. Guruh mempelakukan sebaliknya. Ia menyeret gamelan keluar dari etalase dan memaksanya berdebat dengan rock progresif, dengan bahasa musik yang saat itu datang dari Inggris. Tradisi tidak dijaga. Tradisi diajak berbicara, bahkan diajak bertengkar dengan zamannya.
Pada 27 Maret 1977, ia mendirikan Swara Maharddhika. Namanya diambil dari bahasa Kawi, kira-kira berarti suara yang merdeka. Menurut catatan ANRI, kelompok itu kemudian mendirikan yayasan pada 1987. Swara Maharddhika bukan lagi sanggar tari melainkan sekolah bagi anak-anak muda yang belajar menari, menyanyi, bergerak di atas panggung, dan, menurut beberapa laporan, membicarakan soal kenegaraan. Guruh juga disebut ikut mengubah cara kelompok vokal remaja tampil yang bukan hanya bernyanyi, tetapi bergerak, berkoreografi.
Tahun 1979, lahir Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I, dipentaskan di Taman Fatahillah dan Taman Ismail Marzuki. Setahun kemudian menyusul Untukmu Indonesiaku, yang juga diolah jadi film semi-dokumenter. Lalu Cinta Indonesia, Gilang Indonesia Gemilang (1986), dan pertunjukan kolosal Jak Jak Jak Jakarta (1987) untuk ulang tahun ibu kota. Judul-judulnya hampir selalu memuat kata Indonesia. Kata yang diulang-ulang seperti mantra, di mana setiap orang akan terus menyebut nama itu hingga sepenuhnya memberi makna.
Serangkaian pertunjukan itu semacam upaya merakit tari tradisi dengan koreografi modern, kostum megah, tata cahaya, musik pop, dan gagasan kebangsaan, semua disusun dalam format revue yang gemerlap. Di bawah Orde Baru, ketika nama Soekarno diisolasi oleh negara, seorang anak Soekarno justru berdiri di panggung besar Jakarta dan menyanyikan Indonesia. Kumparan mencatat bahwa ia menjadi satu-satunya anak Soekarno yang tampil di pentas nasional nonpolitik pada masa itu, sebuah klaim yang saya temukan hanya pada satu sumber, tetapi masuk akal. Panggung politik tidak memberinya ruang, maka ia ciptakan panggung dengan caranya sendiri.
Di sinilah seni Guruh bisa dimaknai politik kebudayaan, meskipun ia tidak pernah berpidato di atasnya. Ketika pertemuan politik dicurigai, pertunjukan tari masih diizinkan. Ketika nama ayahnya diredam, lagu tentang Indonesia masih bisa diputar di radio. Ia juga menulis lagu untuk film remaja paling populer dekade itu, Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, dan melahirkan lagu-lagu seperti “Renjana”, “Lenggang Puspita”, dan “Kembalikan Baliku”, yang meraih Kawakami Award di World Popular Song Festival di Tokyo. Pada 1991, pemerintah Prancis mengganjar gelar Chevalier des Arts et des Lettres.
Mencari Bentuk Indonesia
Di balik semua kostum dan pancaran cahaya itu ada satu pertanyaan yang tidak pernah ia jawab tuntas. Bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan akar?
Soekarno pernah merumuskan sesuatu yang berdekatan dengan pertanyaan itu. Dalam pidato 17 Agustus 1964, ia menyebut Trisakti, dan salah satu kakinya adalah berpijak pada kepribadian dalam kebudayaan. Barangkali dari sana kita bisa simpulkan Guruh hanya menerjemahkan slogan ayahnya ke atas panggung kebudayaan, namun karyanya tidak mendukung kesimpulan semudah itu. Soekarno pada masanya dikenal mencurigai musik rock ngak ngik ngok sebagai pengaruh asing, putranya justru mengawinkan gamelan dengan rock progresif. Jika ada garis antara keduanya, garis itu bukan garis lurus. Lebih mirip seorang anak yang mendapat pertanyaan ayahnya, lalu menemukan jawaban dengan alat yang barangkali tidak akan dipilih ayahnya.
Ada satu peran yang terasa nyaris seperti kunci. Pada 1985, Guruh tampil sebagai Sunan Muria dalam film Sembilan Wali. Ia hanya aktor dalam film dan saya tidak ingin membebani satu peran dengan terlalu banyak tafsir. Tetapi pilihan tokohnya sulit diabaikan. Dalam tradisi pesantren, para wali, termasuk Sunan Muria dan ayahnya, Sunan Kalijaga, dikenang menyebarkan Islam lewat gamelan, tembang, dan wayang. Mereka tidak menghancurkan kebudayaan setempat, melainkan mengisinya. Pertanyaan yang kelak dirumuskan kalangan Nahdliyin sebagai Islam Nusantara, yakni bagaimana beragama tanpa tercerabut dari akar budaya.
Dari Panggung Kesenian ke Senayan
Pada 1992, Guruh masuk DPR melalui Partai Demokrasi Indonesia. Setelah Reformasi, ia kembali ke Senayan lewat PDI Perjuangan pada 1999 dan bertahan hingga 2024, sebagian besar mewakili daerah pemilihan Jawa Timur, termasuk wilayah Blitar tempat ayahnya dimakamkan. Tugas terakhirnya di Komisi X membidangi pendidikan dan kebudayaan. Enam periode lebih dari tiga dasawarsa.
Ia mengikuti jejak ayahnya di politik. Cara itu barangkali naif, namun yang terjadi lebih mirip perpindahan medium: dari musik ke panggung, dari panggung ke gerakan kebudayaan, dari gerakan kebudayaan ke politik formal. Dalam sebuah wawancara yang dikutip di blog Kompasiana, Guruh mengatakan bahwa budayawan dan seniman harus melek politik, agar tidak dibodohi politikus. Pandangan itu sejalan dengan jalan hidupnya. Mandat yang ia terima selama tiga dasawarsa datang dari dapil Jawa Timur, provinsi yang juga jantung basis Nahdliyin dari pemilih yang banyak tumbuh di lingkungan pesantren.
Pada 2005, setelah PDI Perjuangan kalah pemilu, terbit buku kumpulan pandangan tokoh berjudul Guruh Soekarno Putra Berjuang untuk Rakyat. Buku itu memperkenalkan Guruh sebagai figur yang layak memimpin partai. Salah satu yang diwawancarai adalah KH Abdurrahman Wahid. Menurut Gus Dur, pesannya di buku itu justru menjauh dari pemujaan: jangan mengkultuskan tokoh, teladani saja pengabdian Bung Karno kepada bangsa dan rakyat. Nasihat itu terasa ganjil sekaligus tepat untuk sebuah buku tentang putra Bung Karno. Guruh tidak pernah memimpin partai itu. Tetapi kalimat Gus Dur barangkali rumusan paling ringkas tentang dilema yang ia pikul seumur hidup, tentang bagaimana membawa nama Bung Karno dengan berbuat seperti Sukarno. Ikhlas berjuang dan seluruh hidupnya diabdikan untuk kepentingan bangsa dan negara.
Namun kita perlu jujur mengatakan pintu politik tidak terbuka bagi semua seniman. Guntur, pernah membuat kesepakatan di keluarga untuk tidak berpolitik sebagai bentuk protes atas peleburan PNI ke dalam PDI di masa Orde Baru. Megawati dan Guruh kemudian melanggar kesepakatan itu. Menurut Eros Djarot, sikap Guntur dan Sukmawati karena masa itu keluarga Soekarno diawasi ketat agar tidak masuk politik, sementara kehadiran Megawati dan Guruh sangat dibutuhkan sehingga mampu mendongkrak suara PDI pada Pemilu 1987 dan 1992. Nama Soekarno, bahkan ketika diredam negara, tetap menjadi mata uang elektoral. Sebuah modal simbolik tidak terbantahkan, sesuatu yang tak bisa dibeli namun bernilai.
Politik institusional juga menuntut keterampilan berbeda dari panggung. Panggung sepenuhnya memberi sutradara kendali atas cahaya dan waktu, sementara parlemen adalah ruang tawar-menawar, kompromi, dan rapat yang berjalan tanpa koreografi. Rekam jejak legislatifnya tidak banyak diingat publik dibandingkan karya-karya keseniannya. Ia sesekali bersuara, misalnya ketika pada 2013 mengkritik minimnya gedung pertunjukan yang mampu menampung penonton besar. Itu kritik khas seorang koreografer, seseorang yang tahu berapa ruang yang dibutuhkan sebuah bangsa menggerakkan tubuhnya dengan menari.
Lima Anak, Lima Cara Membawa Nama
Soekarno dan Fatmawati memiliki lima anak, dan masing-masing membawa nama itu dengan cara berbeda.
Guntur, si sulung, memilih jauh dari politik elektoral. Megawati terpilih sebagai ketua umum PDI pada 1993 sebagai simbol perlawanan terhadap Orde Baru, lalu presiden kelima. Rachmawati mendirikan Partai Pelopor pada 2002, dan menurut liputan Tempo, secara terbuka menyebut kakaknya hanya anak biologis Soekarno, bukan anak ideologisnya. Ia kemudian bergabung dengan Gerindra dan wafat pada 2021 lalu. Sukmawati menghidupkan kembali Partai Nasional Indonesia yang kemudian bernama PNI Marhaenisme.
Guruh memilih berdiri bersama partai yang dipimpin kakaknya, Megawati. Tetapi yang lebih menarik bukan di mana ia berdiri, melainkan apa mediumnya. Saudara-saudaranya memperebutkan tafsir atas ajaran Soekarno lewat partai, pidato, dan klaim ideologis. Guruh menambahkan satu bahasa yang tidak mereka miliki, yakni tubuh yang menari. Satu keluarga, satu nama, lima cara menafsirkan. Tidak ada di antara putera dan puteri Bung Karno yang bisa kita katakan paling benar, karena warisan atas gagasan memang tidak pernah punya satu ahli waris karena ia tumbuh di alam pemikiran.
Ruang yang Tidak Diserahkan
Guruh menikah pada usia 49 tahun. Pada 20 September 2002, di Tashkent, ia menikahi Guseynova Sabina Padmavati, seorang penari asal Uzbekistan . Mereka saling kenal ketika bertemu di sebuah festival seni di Pyongyang. Mas kawinnya adalah Al-Qur'an, buku Di Bawah Bendera Revolusi, dan Otobiografi Soekarno. Resepsinya digelar dengan adat Jawa di rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya. Pernikahan itu kemudian berakhir. Sebagian besar media menyebut perceraian terjadi pada 2009, sumber lain menyebut 2014.
Publik Indonesia tahu lebih banyak tentang pagelaran Guruh daripada soal ruang makannya. Ia memberikan tubuhnya kepada panggung, suaranya kepada lagu, namanya kepada politik. Tetapi ada bagian hidupnya yang tidak ia serahkan. Meski sebagai tokoh publik ia tidak berutang sepenuhnya kepada pertanyaan yang dialamatkan publik.
Bagian yang lebih pahit dari masa tuanya adalah juga manusiawi. Pada Agustus 2023, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hendak mengosongkan rumahnya di Jalan Sriwijaya III setelah ia kalah dalam gugatan perdata yang bermula dari urusan pinjam-meminjam uang. Eksekusi itu tertunda karena rumahnya dijaga massa. Guruh sendiri menyebut dirinya merasa di pihak yang benar dan menduga ada permainan mafia tanah. Pihak penggugat menyatakan perkaranya telah berkekuatan hukum tetap. Saya mencatat kedua posisi itu tanpa menjadi hakim atasnya. Kini yang tersisa adalah seorang lelaki tujuh puluh tahun, putra seorang Proklamator, bertahan di rumahnya di jalan yang sama tempat ibunya pernah menyewakan rumah demi kuliahnya.
Kontradiksi yang Tidak Perlu Diselesaikan
Guruh, anak Presiden yang mencari kebebasan, dan menemukannya justru di tempat yang paling terlihat: di atas panggung. Ia seniman yang masuk parlemen. Ia modern, tetapi terus kembali kepada gamelan, kepada Bali, kepada tari Jawa dan Sunda yang ia pelajari sejak usia lima tahun. Ia hidup dengan privilese yang nyaris tidak dimiliki orang Indonesia lain, dan pada saat yang sama memikul nama yang tidak pernah bisa ia letakkan. Ia bagian dari elite, dan hampir sepanjang hidupnya bersuara dengan karya demi tanah air yang dikaguminya.
Kontradiksi-kontradiksi itu mudah dibaca titik kelemahan, sebagai tanda bahwa ia tidak pernah memilih. Itulah bentuk kejujuran. Seorang manusia yang tumbuh di bawah pancaran cahaya yang terang tidak punya kemewahan untuk biasa-biasa saja. Kontradiksi adalah cara ia hadir sebagai manusia di tengah sorotan cahaya terang.
Bayangan dan Penari
Apakah Guruh berhasil keluar dari bayang-bayang Soekarno?
Jika ukurannya adalah apakah namanya bisa diucapkan tanpa nama ayahnya, jawabannya barangkali tidak. Pagi ini pun kabar kematiannya dibuka dengan kata-kata putra bungsu Bung Karno.
Siang harinya, keluarga memutuskan ia akan dimakamkan di TPU Karet Bivak, di samping pusara Fatmawati ibunya. Para tokoh yang datang melayat, mengatakan Guruh tampaknya sudah menyiapkan sendiri kain yang membalut tubuhnya, kain kesayangan Bu Fat. Anak yang dibesarkan di Istana ayahnya akan beristirahat di sisi ibunya, terbungkus kain milik perempuan yang dulu pergi meninggalkan Istana.
Tetapi mungkin pertanyaannya keliru. Mungkin ia tidak pernah berusaha keluar. Seorang penari tahu bahwa di bawah lampu sorot, bayangan tidak bisa dihapus; bayangan hanya bisa diajak bergerak. Ia bisa memanjang, memendek, jatuh di belakang, atau mendahului. Subjek sungguhan bisa menentukan pilihan. Sebagai seorang penari menerjemahkan dengan gerakan, dan dengan demikian, bagaimana bayangannya ikut bergerak bersamanya.
Anak Soekarno, musisi yang mempertemukan gamelan dengan synthesizer. Lalu koreografer yang mengisi panggung Jakarta dengan dunia panggung anak muda. Lalu politikus enam periode. Setiap peran itu tidak menghapus yang sebelumnya. Ia hanya menambah satu lapis gerak.
Jadi, siapa Guruh ketika nama Soekarno akhirnya tidak lagi mengiringi kalimat pertama yang harus kita ucapkan tentang dirinya?
Lima puluh tahun lalu, ketika ia harus memberi nama pada sesuatu yang ia bangun bersama para sahabatnya, ia tidak memilih nama ayahnya. Ia tidak pula memilih nama ibunya. Ia memilih dua kata dari bahasa Kawi.
Suara yang merdeka.
Abi S Nugroho
Pengurus Lakpesdam PBNU
Editor: Muhammad Zunus


