Dark
Light
Dark
Light

Gus Dur: Tak Sekadar Bangsawan Oesoel, Dia Bereputasi sebagai Bangsawan Pikir

Gus Dur: Tak Sekadar Bangsawan Oesoel, Dia Bereputasi sebagai Bangsawan Pikir

Dalam terminologi kebangsawanan yang dipetakan Abdul Rivai pada awal abad ke-19, terdapat istilah Bangsawan Oesoel dan Bangsawan Pikiran. Menurut Rivai, dalam majalah Bintang Hindia, sebagaimana dikutip Yudi Latif dalam bukunya, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20, kemunculan Bangsawan Oesoel karena telah ditakdirkan. Jika nenek moyang kita terlahir sebagai bangsawan, kata Rivai, kita pun bisa disebut sebagai bangsawan meskipun pengetahuan dan prestasi tak ubahnya seperti pepatah "katak dalam tempurung". Saat ini prestasi dan pengetahuanlah yang akan menentukan posisi seseorang. Inilah situasi yang melahirkan munculnya "Bangsawan Pikiran". 

Bangsawan Oesoel diasosiasikan pada komunitas "kaoem toea" atau "kaoem koeno". Sedangkan para penganjur "Pikiran" dipertautkan dengan komunitas "kaoem moeda". Istilah yang terakhir ini juga diperkenalkan Abdul Rivai yang mendefinisikan “kaoem moeda” sebagai semua orang Hindia (baik muda atau tua) yang tak lagi berkeinginan mengikuti aturan kuno, sebaliknya bersemangat untuk mencapai rasa percaya diri melalui pengetahuan dan keilmuan.   

Pada posisi pengkodean ini, Abdurrahman Wahid atau biasa sapa Gus Dur dapat dimasukkan sebagai Bangsawan Oesoel, sekaligus Bangsawan Pikiran. Dari segi oasoel, Gus Dur lahir dari keluarga mapan dan ‘berdarah biru”. Ia adalah bangsawan di kalangan pesantren karena terlahir dari putra pasangan Kiai Wahid Hasyim dan Nyai Solikhah Munawwaroh. Ayah Gus Dur, Wahid Hasyim, terlibat dalam gerakan nasionalis dan menjadi Menteri Agama pertama tahun 1949. Sedangkan ibunya, Sholehah adalah tokoh pergerakan perempuan, dan salah satu pendiri Muslimat NU, organisasi sayap perempuan Nahdlatul Ulama.

Dari garis ayah, Gus Dur adalah cucu KH Hasyim Asy`ari, pendiri organisasi Islam dengan anggota terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), sekaligus pendiri Pesantren Tebuireng Jombang. Ibunya, Nyai Solihah juga merupakan keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Syansuri. Kakek Gus Dur dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pendiri pondok pesantren Mambaul Ma`arif dan terkenal sebagai ahli fiqih (yurisprudensi Islam), administrator pendidikan yang berbakat, dan seorang ahli pertanian yang cakap karena mampu menyulap daerah kering dan tandus menjadi komunitas yang makmur, pusat pembelajaran dan keruhanian.

Kiai Hayim Asy`ari sendiri merupakan keturunan Raja Brawijaya VI yang berkuasa pada abad ke-16 dan terkenal sebagai salah seorang raja terakhir dari kerajaan terbesar Hindu-Budha di Jawa, Majapahit. Klan ini berdasarkan dari silsilah Kiai Hasyim yang merupakan generasi ke-5 dari tokoh legendaris, Sultan Hadiwidjaya atau terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir, yang merupakan putra dari Kebokenanga (Ki Ageng Pengging), cucu dari Prabu Brawijaya.

Dengan demikian, baik dari garis ayah maupun ibu, Gus Dur merupakan sosok yang menempati strata sosial tinggi dalam masyarakat Indonesia. Silsilah ini dianggap sebagai hal yang sangat baik dalam masyarakat tradisional Jawa, di samping tentunya masyarakat muslim pada umumnya.

Jika pada Bangsawan Oesoel, silsilah garis keturunan menjadi penting dan dengannya gelar kebangsawanan melekat secara tradisi, pada Bangsawan Pikiran, ilmu dan pengetahuan menjadi ujung pangkalnya. Gus Dur dibesarkan tidak hanya dalam dunia dan kultur pesantren, tetapi juga dalam ragam pengetahuan. Pendidikannya dimulai sejak kanak-kanak. Pada tahun 1954, setahun setelah menyelesaikan sekolah pertamanya di SD Matraman Perwari, ia melajutkan Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Jakarta, tapi karena gagal naik kelas, di tahun yang sama Nyai Sholihah mengirim Gus Dur untuk belajar kembali di SMEP di Gowongan, Jogyakarta. Hal menarik tentunya ketika Gus Dur justru dititipkan pada salah seorang pengurus Muhammadiyah, Haji Junaidi.

Untuk memperkuat basis keilmuannya, khususnya pendidikan bahasa Arab ia pergi ke pesantren Al-Munawwir di Krapyak tiga kali seminggu di bawah bimbingan Kiai Ali Maksum. Status Jogyakarta sebagai kota universitas, membuka peluang bagi Gus Dur untuk mengunjungi perpustakaan dan toko-toko yang menjual beragam buku-buku bekas. Dari situlah kemampuan bacanya melesat dan tak heran pada usia yang masih sangat muda ia telah menguasai empat bahasa yakni Inggris, Perancis dan Belanda, disamping tentunya Bahasa Arab.

Sepertinya Jogyakarta merupakan napak tilas pertama bagi perkembangan intelektual Abdurrahman Wahid. Selain mendalami ajaran agama, Gus Dur juga mulai tertarik dengan film. Hampir sebagian besar dari satu tahun dihabiskannya dengan menonton film. Pada tahap ini ia menonton apa saja yang bisa ditonton dan hal ini berdampak terhadap pengembangan apresiasi yang serius mengenai dunia peran.

Dari Yogyakarta, Gus Dur melanjutkan nyantri di pesantren Tegalrejo Magelang di bawah bimbingan Kiai Khudhori, salah satu tokoh terkemuka NU. Dari Kiai Khudhori inilah ketertarikan Gus Dur terhadap ritus-ritus sufi semakin kuat dan berusaha menanamkan praktik-praktik ritual mistik secara mendalam dalam tradisi Islam Jawa.  

Seperti halnya Leonidas dalam kisah klasik Sparta, Gus Dur muda telah dilepas ke “belantara dunia” untuk mengekspresikan dirinya dengan pengalamannya-pengalaman baru. Pengembaraan Gus Dur dari Jogyakarta, Magelang dan Jombang merupakan serangkaian napak akumulasi pengetahuan yang pada akhirnya, sekitar tahun 1963 membawanya ke wilayah Afrika, tepatnya di Kairo, Mesir.

Sebelum hijrah ke Mesir, Gus Dur terlebih dulu singgah di pesantren Tambakberas, Jombang selama empat tahun (1959-1963). Di sana, sementara melanjutkan pendidikannya sendiri, Abdurrahman Wahid juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru yang nantinya menghantarkannya sebagai kepala sekolah madrasah. Gus Dur juga dipekerjakan sebagai jurnalis majalah seperti Horizon dan Budaya Jaya. Di bawah bimbingan KH Wahab Chasbullah, pemahaman Gus Dur terhadap pengetahuan semakin kuat. Ia mulai mengajar di madrasah modern yang didirikan dalam kompleks pesantren sekaligus menempati jabatan sebagai kepala sekolah. Selama masa ini ia sangat tertarik pada sisi sufistik dan mistik dari kebudayaan Islam tradisional dan juga telah membiasakan diri secara teratur berziarah ke makam-makam untuk berdoa dan bermeditasi-suatu kebiasaan yang telah lama dilakukan-. Ada sebuah cerita, pada saat menyiapkan diri menghapal kitab klasik tata bahasa Arab, Gus Dur bernazar untuk melakukan ziarah dengan berjalan kaki ke makam-makam di selatan kota Jombang, dengan tujuan akhir di daerah yang tidak rata dan penduduknya masih sedikit, tepatnya di pantai selatan Jawa. Perjalanan kaki ini menempuh jarak 100 km dan memerlukan beberapa hari. Gus Dur menuturkan bahwa perjalanan ini benar-benar di luar batas kemampuan, namun karena tekat dan keyakinan yang membuatnya dapat menempuh jarak sejauh itu.

Keberadaan Gus Dur di Jombang ternyata tidak mengurangi intensitasnya berkunjung ke pesantren lain di luar kota Jombang. Selama masa ini ia tetap berkunjung ke pesantren Krapyak secara teratur, dan menjalin komunikasi secara intens dengan Kiai Bisri Syansuri. Karena bagi Abdurrahman Wahid pesantren merupakan media utama bertukar informasi, sekaligus menjadi medan pemupukan solidaritas masyarakat.

Bulan November tahun 1963, Gus Dur berangkat ke Mesir setelah mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Meskipun ia mahir berbahasa Arab, Gus Dur diberitahu pihak universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti rapor, Gus Dur terpaksa mengambil kelas remedial.

Gus Dur lebih memilih “boikot” kelas. Selama satu tahun ia hampir tidak pernah masuk kelas dan itu artinya ia tidak melakukan studi formal. Sebagai gantinya, ia menghabiskan waktunya di perpustakaan-perpustakaan besar, menonton film dan ikut serta dalam forum-forum diskusi. Gus Dur juga terlibat dengan asosiasi pelajar Indonesia dan menjadi jurnalis majalah asosiasi tersebut.

Di Mesir, Gus Dur dipekerjakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Pada saat ia bekerja, peristiwa Gerakan 30 September 1965 terjadi. Mayor Jenderal Soeharto menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan komunis dilakukan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, KBRI  di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan kepada Gus Dur yang ditugaskan menulis laporan. Namun ternyata Gus Dur bisa dikatakan mengalami kegagalan di Mesir. Ia tidak setuju dengan metode pendidikan serta pekerjaannya setelah G 30 S/PKI yang sangat mengganggu dirinya. 

Pada tahun 1966 ia diberitahu bahwa ia harus mengulang kembali perkuliahannya. Ia sangat kecewa dan menuliskan surat-surat kegelisahannya kepada gadis Jawa yang selama ini menjadi teman curhatnya, Sinta Nuriyah. Perempuan berpendidikan yang di kemudian hari menjadi istrinya. 

Pendidikan sarjana Gus Dur akhirnya diselamatkan melalui beasiswa di Universitas Baghdad. Gus Dur pun kemudian pindah ke Irak dan menikmati lingkungan barunya. Meskipun demikian, Mesir bagi Gus Dur adalah kota yang memesona karena menawarkan cakrawala pengetahuan yang begitu luas dan melimpah.

Tahun 1960-an Universitas Baghdad telah mengalami transisi bergaya Eropa. Sikap bohemian yang ditunjukkan Gus Dur semasa di Al Azhar “terpaksa” ditinggalkan sebab universitas ini selalu memantau kehadiran mahasiswa dan menjadi sesuatu hal yang wajib ditaati.

Di Baghdad kehidupan Gus Dur mulai teratur. Ia mempunyai jadwal yang lebih penuh dan ketat daripada ketika masih di Kairo. Hampir setiap pagi ia bangun dalam keadaan mengantuk karena harus membaca hingga larut malam. Paginya ia harus bergegas ke kampus dan setelah itu harus bekerja di kantor Ar-Rahmadani selama tiga jam, dari pukul 11 hingga dua siang. Sore harinya ia menyibukkan diri di perpustakaan universitas karena kebayakan pelajaran yang diikutinya mengharuskan membuat tugas makalah secara teratur dan sering kali cukup panjang. Akhir perjuangan Gus Dur berbuah pada gelar Lc (setingkat S1 di Indonesia) dalam bidang Sastra Arab. Setelah itu ia melanjutkan S2, tapi tidak selesai meskipun telah mengajukan judul tesis.

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam-makam keramat para wali, termasuk makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri jamaah tarekat Qadiriyah. Ia juga menggeluti ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, seorang pendiri aliran tasawuf yang diikuti oleh jamaah NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya.

Kodisi politik yang terjadi di Irak, ikut memengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur. Kekagumannya pada kekuatan nasionalisme Arab, khususnya kepada Saddam Husain sebagai salah satu tokohnya, menjadi luntur ketika syekh yang dikenalnya, Azis Badri tewas terbunuh.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad tahun 1970, Gus Dur pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Gus Dur ingin belajar di Universitas Leiden, tetapi kecewa karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang diakui. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup dirantau, dua kali sebulan ia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Dari Belanda, Gus Dur singgah di Jerman, mengunjungi Perancis sebelum kembali ke Indonesia tahun 1971.

Semangat belajar Gus Dur tidak surut. Faktanya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar di sebuah universitas di Australia guna mendapatkkan gelar doktor. Akan tetapi maksud yang baik itu tidak dapat dipenuhi, sebab semua promotor tidak sanggup, dan menggangap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar akademik. Memang dalam kenyataannya beberapa disertasi calon doktor dari Australia justru dikirimkan kepada Gus Dur untuk dikoreksi, dibimbing yang kemudian dipertahankan di hadapan sidang akademik republika.

Gus Dur kembali ke Jakarta dan mengharapkan ia akan pergi ke luar negeri untuk belajar di Universitas McGill Kanada. Di Jakarta dirinya mulai sibuk dan bergabung ke Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES kemudian mendirikan majalah yang disebut Prisma, dan Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah tersebut. Selain bekerja sebagai kontributor LP3ES, Gus Dur juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa.

Pada saat itu, pesantren berusaha keras mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. Gus Dur merasa prihatin dengan kondisi itu karena nilai-nilai tradisional pesantren semakin luntur akibat perubahan ini. Gus Dur juga prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Pada waktu yang sama ketika mereka membujuk pesantren mengadopsi kurikulum pemerintah, pemerintah juga membujuk pesantren sebagai agen perubahan dan membantu pemerintah dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Gus Dur memilih batal belajar ke luar negeri dan lebih memilih mengembangkan pesantren.

Abdurrahman Wahid meneruskan kariernya sebagai jurnalis, menulis untuk majalah Tempo dan harian Kompas. Artikelnya diterima dengan baik dan ia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Dengan popularitas itu, ia mendapatkan banyak undangan untuk memberikan kuliah dan seminar. Konsekuansinya, dia harus pulang-pergi antara Jakarta dan Jombang, tempat Gus Dur tinggal bersama keluarganya. 

Pada tahun 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas dan segera mengembangkan reputasi baik. Satu tahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya dengan menjadi guru dengan mengajar kitab Al Hikam.

Pada tahun 1977, Gus Dur bergabung ke Universitas Hasyim Asyari sebagai Dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam (Ushuluddin). Sekali lagi, Gus Dur mengungguli pekerjaannya dan universitas ingin agar Gus Dur mengajar subyek tambahan seperti pedagogi, syariat Islam dan misiologi. Namun, kelebihannya menyebabkan beberapa ketidaksenangan dari sebagian kalangan universitas dan Gus Dur mendapat rintangan untuk mengajar subyek-subyek tersebut. Sementara menanggung semua beban tersebut, Gus Dur juga berpidato selama ramadhan di depan komunitas Muslim di Jombang.

Bisa dikatakan hampir sepanjang hidupnya Adurrahman Wahid telah mendedikasikan dirinya pada kehidupan pesantren. Pengaruh pendidikan pesantren telah melekat dalam dirinya meskipun ia telah berkelana menapaki dimensi budaya yang berlapis. Komitmen ini tidak terlepas dari subkultur pemahaman yang hingga kini masih dipertahankan dalam tradisi pendidikan pesantren. Walaupun tidak semua santri akan menyadari keteguhan pada prinsip pemikiran yang dipertahankan di pesantren, namun setidaknya bagi penerus kiai tidak akan mudah begitu saja melupakan kultur yang sudah mempengaruhinya sejak kecil.

Menurut Koentjoroningrat, watak orang dewasa antara lain ditentukan oleh cara orang tersebut diasuh ketika dia masih anak-anak. Adat istiadat pengasuh anak dalam suatu kebudayaan menyebabkan bahwa hampir semua individu dalam kebudayaan tersebut sewaktu kecilnya diasuh dengan cara yang sama. Akibatnya adalah bahwa mereka kelak mengembangkan beberapa ciri watak yang sama. Demikian ini, didukung oleh watak psiko-sosial hampir semua manusia, akan kembali pada kulturnya masing-masing, termasuk Abdurrahman Wahid.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo