Hari Senin 6 Januari 2025 lalu menjadi hari duka bagi warga Banyumas Raya, khususnya para penggemar lagu lagu-lagu jenaka berbahasa Penginyongan. Fadjar Praptono alias ‘Fadjar Sopsan’ berpulang karena sakit. Fadjar bukan hanya satu legenda musik ngapak Banyumasan. Ia adalah seniman multitalenta; dari kartunis, pelukis, pelawak, pemusik dan pencipta lagu.
Secara kebetulan, penulis bersahabat dengan almarhum sejak 1995. Berikut kiprahnya yang dirangkum khusus untuk Arina.id
'Purwokartun’ menjadi ‘Sopan Santun’
Fadjar Praptono semula banyak bergiat sebagai seniman kartun. Ia mendirikan komunitas ‘Purwokartun’ (Purwokerto Kartunis) sehingga awalnya ia dikenal sebagai Fadjar Purwokartun. Komunitasnya mewadahi seniman kartun di Purwokerto, Kabupaten Banyumas dan sekitarnya. Berbagai pameran digelar komunitas ini. Salah seorang pegiatnya adalah Nassirun, yang kemudian kesohor sebagi Nassirun Purwokartun, yang kini lebih dikenal sebagai penulis Babad Banyumas.
Pada 2004, Fadjar mendirikan trio ‘Sopsan’ (sopan santun) bersama Taryoto (Soto) dan Mister Gope. Sebagai informasi, Taryoto telah berpulang ke Rahmatullah pada Desember 2024. Sehingga, kini trio Sopsan hanya tersisa satu personil yaitu Gope.
Trio Sopsan membawakan lagu-lagu jenaka dengan lirik menggunakan dialek Banyumasan atau Bahasa Penginyongan. Hampir seluruh lagu dalam album-album Sopsan diciptakan oleh Fadjar. Liriknya menggelitik, melodi lagunya mengalir renyah, dengan balutan musik yang rancak. Waktu itu menjadi era kejayaan Video Compact Disc (VCD). Cakram padat album perdana Sopsan bertajuk Nasib laris manis di lapak-lapak.
Lagu-lagu Gentawil Gek, Nini Kartisem, My Love Tarwen, Penjorangan, Sempeleo dan lainnya bukan hanya ramai diputar melalui keping-keping VCD di rumah-rumah, video klip Sopsan yang lucu juga wira-wiri mengiasi saluran televisi lokal Banyumas TV, dan radio-radio di Banyumas Raya. Stasiun televisi dan radio lokal itulah yang membantu promosi Sopsan. Di samping itu, ada beberapa pihak yang mendukung, seperti Arifin (alm) produser lokal dari Cilongok dengan bendera PSBBMS (Paguyuban Seni Budaya Banyumasan) yang memproduksi album Sopsan, serta Mister Misbah selaku pemusiknya.
Lagu-lagu Sopsan pun menggema bukan hanya di Banyumas Raya. Keping-keping VCD itu merambah seluruh penjuru Nusantara, baik VCD yang original produksi PSBBMS maupun keping bajakan yang sangat marak pada waktu itu. Orang dewasa hingga anak kecil hanyut dan dan terbawa dalam kegembiraan lagu-lagu Sopsan yang jenaka dengan percaya diri menggunakan lirik dialek asli Banyumasan. Lagu seperti Gentawil Gek yang begitu jenaka dan spontan:
….
Wil-gentawil gek
Mek kethaprek, ngrungkebi gethek
Pite meprek, jugangan cethek
Menyat dhewek karo mringis kethek
….
Atau nomor Nini Kartisem yang menceritakan sosok seorang nenek sepuh tapi masih banyak gaya
Dhasar ora nepak ngawak, Kartisem
Eling umur wis sewidak, punjule nenem
Esuk-sore tindak, nggawani lipen karo wedhak
Nggo pranti moles awak
(Sungguh tidak sadar diri, Nenek Kartisem ini / Ingat, umur sudah enam puluh, lebih enam tahun/ Pagi-sore pergi, bawa lipstik dan bedak/ Buat memoles tubuh …..)
Album Sopsan yang meledak di pasaran membawa hoki bagi para personilnya. Undangan pentas live pun berdatangan. Sayangnya, Fadjar dan Soto adalah pegawai Pemerintah, jadi sering terkendala jam kerja. Fadjar seorang PNS guru SD di Cilongok, sementara Soto pegawai PDAM di Purwokerto. Untuk mengatasi ini, Fadjar kemudian membuat manajemen kecil yang mengatur jadwal pentas. Biasanya Sopsan bisa diundang ke luar kota untuk hari Sabtu atau Minggu.
Dari 'Sopsan' Berkembang Dablongan dan Sopsan Lha
Berbagai instansi Pemerintah, perusahaan swasta, perbankan hingga komunitas masyarakat sering mengundang trio Sopsan untuk bernyanyi sekaligus melawak. Sukses dengan konsep trio, Fadjar kemudian membentuk Komunitas Musik ‘Dablongan’ dan ‘Sopsan Lha’. Konsep ini mengadopsi kesuksesan grup ‘Teamlo’ atau ‘Team-lo’ (singkatan dari Tim Humor Solo), grup band asal Solo yang menggabungkan musik dan lawak.
"Saya membentuk grup ini karena yang punya hajat sering minta Sopsan tampil full band, sedang kita cuma bertiga. Saat itu Team-lo terkenal dengan tagline Tim Lo, Gitu Lho. Maka kami pun bikin Sopsan-Lha," ungkap Fadjar kepada penulis sekitar tahun 2007.
‘Dablongan’ pun sempat menelurkan album yang sangat populer bertajuk Lengger. Format Dablongan adalah trio Sopsan dengan tujuh musisi untuk formasi gitar, bas, melodi, kendang, saxophone, dan perkusi. Untuk lagu dan vokal tetap digawangi Fadjar, dibantu penyanyi wanita bernama Siti Maryana (Sima). Lagu-lagu hits-nya antara lain Lengger, Khotimah Rabiesta, Cing Mey, Udan Barat, Parikan, dan lainnya.
Uniknya, lagu Khotimah Rabiesta menceritakan gadis cantik blasteran Arab dan Spanyol. Liriknya sangat unik, yakni dialek Banyumas yang dimirip-miripkan Bahasa Spanyol:
Nami Rika Khotimah Rabiesta.
Goli kenal pas taraweh.
Prawan soleh pranakan blasteran
Si Spanyol lan Arabia
(namanya Khotimah Rabiesta / Kenal saat salat tarawih / Gadis saleha keturunan / Blasteran Spanyol dan Arab).
Kriwikan pun Jadi Kamus Banyumasan
Fadjar Sopsan juga punya talenta dalam dunia sastra, khususnya sastra Banyumas melalui karya, dalam bentuk geguritan (puisi Jawa). Fadjar juga penyusun pertama Kamus Dialek Banyumas-Indonesia (KDBI) bersama M Khoderi pada 1996 silam. Ikhwal terwujudnya kamus ini dimulai dari kegelisahan dirinya melihat banyak kosa kata Banyumas yang hilang. Ia pun tergerak mengurut kosa kata Banyumas beserta maknanya dari A hingga Z. Dari ‘kriwikan’ (catatan kecil dari kata yang sedikit demi sedikit) itu, akhirnya menjadi naskah kamus yang kini jadi literasi penting.
"Saya sering sowan ke rumah Pak Ahmad Tohari untuk minta bantuan dan masukan. Di samping itu saya tidak punya mesin ketik apalagi komputer. Pak Tohari banyak membantu," ungkap Fadjar saat peluncuran kamus tersebut sekitar tahun 1997 di Purwokerto. Dengan dukungan budayawan Ahmad Tohari yang banyak membantu menyunting dan menyempurnakan entri kata, dalam pengembangannya kamus tersebut bisa diterbitkan oleh Balai Bahasa pada tahun 2013.
Fadjar adalah salah seorang motor dunia seni di Banyumas. Berbagai komunitas seni didirikan dan digelutinya seperti BKPC (Banyumas Koes Plus Community), Komunitas Tembang Kenangan, Paguyuban Komponis Banyumas (Pakismas), Dewan Kesenian Banyumas, Seniman Gambar Purwokerto, dan lainnya. Belum lagi kiprahnya sebagai penyelenggara lomba-lomba dan juri untuk event musik, gambar, lawak dan stand up comedy.
Kepergian yang Tiba-Tiba
Mata Ibu Wahyuni masih berkaca-kaca. Wajah istri Fadjar Praptono itu tergelayuti duka yang mendalam. "Maafkan Pak Fadjar, jika banyak salah dan khilaf selama bergaul dengan Panjenengan semua," tuturnya dengan nada suara tertahan kepada sahabat yang tak henti-hentinya berdatangan hingga hari kelima, di rumahnya Perum Bumi Tanjung Elok Purwokerto.
Menikah dengan Fadjar, pasangan guru ini dikaruniai dua anak: Ayi dan Sita yang keduanya telah berumah tangga. Wahyuni juga selalu memberikan support atas kiprah suaminya apa pun yang ia kerjakan. Bahkan, ia tak ragu untuk tampil duet dengan Fadjar seperti dalam lagu Mendhowa dan Koplak Bis Purwokerto.
Presiden Geguritan Banyumas, Wanto Tirta Dikrama, sangat kehilangan atas kepergian Fadjar Sopsan. Ia mengenang almarhum sebagai sosok rendah hati, kreatif, bertanggung jawab, dan gemar berbagi ilmu serta pengalaman.
"Kita semua benar-benar kehilangan. Beliau adalah pribadi yang sangat baik, kreatif dan membawa energi positif. Semoga karya Beliau menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir abadi," ujar Wanto.
Sementara itu Mister Misbah, arranger yang menggawangi album Sopsan sejak awal debutnya, mengaku sangat kehilangan sosok Fadjar dan juga Soto yang telah menjadi inspirasi banyak orang. Menurut Misbah, keduanya adalah sosok yang berjasa dalam pemajuan budaya Banyumas khususnya melalui musik.
"Mas Fadjar adalah pendidik yang kreatif dan seniman serba bisa. Bukan hanya seni musik, seni rupa, hingga sastra. Saya tahu karyanya sangat banyak meskipun sering tidak terdokumentasikan. Beliau juga banyak menciptakan lagu anak-anak, dan beberapa kali membuat album anak," ujar Misbah yang juga rekan Fadjar ketika masih menjadi guru SD.
Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Kepergian Fadjar Praptono meninggalkan duka mendalam bagi semua orang yang mengenal dan mencintai karyanya. Semoga karya-karya Beliau akan selalu dikenang, dipelajari, sehingga membawa manfaat bagi kemajuan pendidikan dan pelestarian budaya khususnya di Banyumas Raya. Selamat jalan, Fadjar Sopsan, legenda seniman Banyumasan.
Editor: Kendi Setiawan


