Di sebuah sudut dunia yang sering dilewati sejarah tanpa sempat menoleh, Uruguay menyimpan seorang lelaki pendek, gemuk, dan tampak tidak penting—kecuali bagi mereka yang masih percaya bahwa kejujuran adalah bentuk terakhir dari kekuasaan yang sah. José Alberto Mujica Cordano, lebih masyhur sebagai Pepe Mujica, adalah jenis manusia yang muncul seperti dongeng tetapi bertahan dengan realitas nan keras kepala. Ia bukan hanya presiden. Ia bukan hanya bekas gerilyawan Tupamaros. Ia bukan hanya petani bunga atau penceramah dadakan yang bicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan sandal lusuh.
Ia adalah, seperti yang dikatakan Gerardo Caetano, “Don Quixote dengan semburat Sancho Panza”—sebuah kombinasi dari utopia dan pragmatisme yang membingungkan orang-orang yang biasa melihat politik sebagai panggung tipu daya.
Sejak masa kanak-kanaknya yang terbungkus duka dan tanah basah dari bunga gladiol yang ia tanam bersama ibunya Lucy, Mujica sudah hidup sebagai bagian dari kemungkinan liyan: bahwa revolusi bisa dimulai dari kebun kecil, dari rumah reyot, dari sepeda tua yang mengantar bunga ke pasar, dari pelajaran botani tentang marigold yang tumbuh di pot bekas kamar mandi tahanan.
Ia tidak pernah belajar di universitas. Akan tetapi ia membaca seolah waktu adalah satu-satunya harta yang tak boleh ditukar dengan uang. Ia menelan filsafat Derrida dan Badiou tanpa merasa perlu mengutip mereka, karena ia sendiri telah menjadi tubuh dari pemikiran yang tercerabut dari kelas borjuis: berpikir sambil menyiram tanaman, berpolitik sambil menambal ban motor tua, menjadi presiden sambil menolak tinggal di istana. “Bagi banyak orang saya ini hanya orang gila berdarah yang kadang mengucapkan sesuatu yang menarik,” ujarnya suatu kali dengan senyum getir yang lebih tajam dari satire siapa pun.
Tubuh yang Ditikam Sejarah
Tubuh Mujica bukan tubuh presiden seperti kita mengenalnya hari ini. Ia adalah tubuh yang penuh luka, penuh jejak sel tahanan, luka-luka lama yang membatu di dinding isolasi selama tiga belas tahun. Ia adalah bayangan dari apa yang dikhianati oleh banyak revolusioner: tekad. Ia tak menulis buku, tetapi berbicara panjang dalam siaran radio mingguan, menyampaikan pikirannya dalam bentuk oral, spontan, seperti puisi liris tanpa rima.
Stephen Gregory dalam Jose ‘Pepe’ Mujica: Warrior Philosopher President (2016), mengisahkan bahwa di masa mudanya, Mujica mencuri senjata dari militer bukan untuk berkuasa, tetapi karena ia tidak percaya pada demokrasi yang membunuh harapan dengan suara mayoritas. Ia menjadi Tupamaro bukan karena cinta pada kekerasan, tetapi karena frustrasi terhadap sistem yang berlalai-lalai. Dalam satu wawancara, ia berkata, “Kita tidak bisa menjadi reaksioner terhadap apa pun. Bahkan bunga pun bisa jadi revolusioner, lihat saja Golden Rice.” Begitulah, baginya genetik dan politik, agrikultur dan perlawanan, bisa bercumbu dalam satu kalimat yang membuat filsuf profesional tampak malu-malu.
Ketika akhirnya ia dilepaskan dari penjara setelah rezim militer tumbang tahun 1985, Mujica tidak menjadi korban trauma. Ia kembali menanam bunga. Dalam pot, dalam tanah, dalam kebun kecil di pinggiran Montevideo bersama Lucía Topolansky—rekan seperjuangan, kekasih, istri, senator, dan sesama tahanan yang menolak disebut “First Lady”. Seperti potong jalan sejarah, mereka menikah secara resmi baru pada 2005—lebih sebagai formalitas administratif tinimbang pengakuan sosial. Mujica tak peduli. “Kami menikah karena saya jadi menteri, dan saya pikir lebih baik begitu. Itu saja,” katanya.
Ia bukan politisi yang mencoba terlihat manusiawi. Ia manusia yang dipaksa menjadi politisi. Maka ketika ia akhirnya menduduki kursi presiden pada 2010, dunia internasional terkejut—karena pemimpin ini tetap tinggal di rumah gubuk, menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk proyek perumahan rakyat, dan lebih sering terlihat bersama anjingnya yang cacat, Manuela, daripada bersama diplomat asing berpakaian Armani.
Filosofi Tanah Duka
José Mujica adalah filsuf petani. Ia tidak percaya pada doktrin. Ia percaya pada kemungkinan. “Sosialisme, komunisme, demokrasi—semuanya belum selesai. Semuanya adalah yang akan datang, bukan yang telah ada.” Ia tidak mengklaim ‘kiri’. Ia berkata: “Saya tidak mendaku kiri. Saya hanya bertanya, bagaimana caranya hidup lebih jujur dengan lebih banyak orang.”
Dalam satu pidato di PBB, ia menyentil dunia dengan cara yang belum pernah dilakukan presiden mana pun: “Kita diciptakan untuk hidup, bukan untuk membeli. Konsumerisme telah menjadikan manusia sebagai alat produksi. Kita hidup untuk membayar cicilan dan mengoleksi benda yang tidak kita butuhkan.” Lalu ia pulang ke Uruguay, menyalakan radio, menyiram bunga, dan memeluk anjingnya. Dunia bertepuk tangan. Ia tertawa pahit.
Dalam politik Uruguay, Mujica adalah paradoks hidup: ia membenci birokrasi, tetapi menjadi bagian dari sistem; ia menolak kemapanan, tetapi harus berurusan dengan parlemen dan pemilik modal. Tapi ia bertahan. Dalam kepresidenannya, ia meloloskan undang-undang legalisasi ganja, pernikahan sesama jenis, dan distribusi tanah untuk petani kecil. Ia tidak sempurna—beberapa kebijakannya cacat dalam implementasi. Namun ia tidak pernah berhenti menjadi suara nurani yang menolak tunduk pada angka-angka statistik.
Republik Kebun Kecil
Sejarah telah lama memisahkan dua jenis pemimpin: mereka yang mencintai rakyat sebagai ide, dan mereka yang mencintai rakyat sebagai tetangga. Mujica adalah jenis kedua—yang menganggap kemiskinan bukan sesuatu untuk ditaklukkan dengan kebijakan, tetapi untuk dipahami melalui tubuh dan tanah. Ia tahu bagaimana mencangkul, bagaimana menanam, bagaimana hidup tanpa pendingin udara.
Ia pernah berkata bahwa tanah yang tidak ditanami adalah dosa. “Orang-orang membeli tanah bukan untuk menanam, tapi untuk menang,” ujarnya. Maka ia mencoba menghidupkan kembali semangat hukum kolonisasi 1948, membeli kembali lahan-lahan tidur, lantas membaginya kepada petani kecil. Sebagian berhasil. Sebagian gagal. Tetapi dalam setiap kegagalan itu, ia tidak pernah menyalahkan sistem sebagai entitas abstrak. Ia menyalahkan diri sendiri. “Mungkin saya terlalu percaya pada manusia,” gumamnya suatu ketika.
Mujica tidak sempurna. Ia pelupa. Ia tidak suka dokumen. Ia sering mengabaikan detail administratif yang dibutuhkan untuk menjalankan negara. Tetapi kekurangannya adalah cerminan dari keyakinannya: bahwa negara bukanlah kantor, melainkan keluarga besar. Ia mempercayai hati nurani lebih dari hukum. Ia mempercayai solidaritas lebih dari strategi. Dan itulah yang membuatnya berbahaya bagi sistem global yang telah lama menukar nilai dengan harga.
Kemurungan dalam Demokrasi
Ia tahu bahwa demokrasi liberal bukanlah panggung yang ramah bagi idealisme. Parlemen adalah pasar gagasan, dan kadang yang dijual hanya ilusi. Namun ia bertahan di dalamnya, bukan karena percaya, tetapi karena tidak ada medan tempur lain yang lebih menjanjikan. Dalam pidato-pidatonya, ia menyerang konsumerisme seperti seorang nabi tua yang ditinggalkan umatnya. Tetapi dunia lebih tertarik pada Volkswagen tuanya daripada pada gagasan-gagasan besarnya.
Di PBB, ia menyatakan bahwa “perdagangan manusia, pengrusakan lingkungan, dan perang atas nama uang adalah kanker peradaban.” Ia tidak membawa data. Ia hanya membawa kejujuran, dan dunia tak siap untuk itu. “Kita tidak perlu dunia yang lebih pintar. Kita butuh dunia yang lebih berbelas kasih,” katanya.
Tatkala masa jabatannya berakhir pada 2015, ia menyerahkan jabatan kepada Tabaré Vázquez dengan ucapan singkat: “Hangatkan kursinya, kawan. Kalau umur panjang, aku kembali.” Itu bukan candaan. Itu janji seorang lelaki kamitua yang tahu bahwa politik bukan tentang kekuasaan, tapi tentang keberanian untuk patah pucuk.
Elegi untuk Filsuf Lumbung
Warisan Mujica bukan undang-undang yang ia sahkan. Bukan reformasi yang ia tandatangani. Warisannya adalah keberanian untuk hidup dengan cara yang membantah logika zaman. Ketika para pemimpin dunia berlomba memamerkan kekayaan, ia memperlihatkan kemiskinan sebagai bentuk kekuatan.
Dalam satu wawancara terakhirnya, ketika ditanya apakah ia masih optimis terhadap masa depan, Mujica menjawab: “Saya tidak tahu. Tapi saya tetap tanam bunga. Karena siapa tahu, kelak ada yang lewat dan mencium wanginya.”
Kiwari ia telah pergi. Tapi ia tidak mati. Ia berubah bentuk—menjadi bisikan yang hidup di antara para petani yang menolak menjual lahannya, di antara anak-anak muda yang lebih memilih membaca buku tinimbang membeli sepatu mahal, di antara pemimpin lokal yang memilih tinggal di kampungnya sendiri daripada pindah ke gedung megah yang jauh dari rakyatnya.
Di akhir hidupnya, mungkin Mujica tahu bahwa sejarah tak akan memberinya patung. Namun itu bukan masalah. Karena seperti yang pernah ia katakan sambil menatap langit, “Yang penting bukan kita dikenang. Yang penting, yang kita perjuangkan tetap hidup”.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus


