Dark
Light
Dark
Light

Biografi dan Karier Politik Ismail Haniyeh: Perlawanan akan Terus Abadi

Biografi dan Karier Politik Ismail Haniyeh: Perlawanan akan Terus Abadi

Pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh tewas dibunuh pada Rabu pagi, 31 Juli 2024. Pembunuhan tersebut terjadi di pusat kota Teheran, Iran. Kepala biro politik Hamas itu gugur bersama pengawal pribadinya dalam sebuah serangan udara yang menyasar kediamannya. Haniyeh meninggal pada usia 62 tahun. Haniyeh berada di Teheran dalam rangka menghadiri inagurasi pelantikan presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian.

Meskipun Israel secara resmi belum mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut, namun Hamas dan berbagai kelompok perlawanan di Palestina menduga bahwa serangan ini dilakukan Israel. Tokoh-tokoh penting Hamas memang telah menjadi target sasaran Israel, beriringan dengan eskalasi konflik antara Hamas dan Israel yang terus meningkat 10 bulan terakhir.

Biografi Ismail Haniyeh

Ismail Haniyeh bernama lengkap Ismail Abdulsalam Ahmed Haniyeh. Ia lahir pada 29 Januari 1963 di kamp pengungsi Al-Shati di Jalur Gaza. Kedua orang tuanya adalah pengungsi dari Asqalan (sekarang dikenal sebagai Ashkelon) ketika Israel berdiri pada tahun 1948. Haniyeh adalah tokoh terkemuka Hamas dan telah menjabat berbagai pejabat penting di dalam organisasi tersebut.

Ketika muda, Haniyeh belajar Sastra Arab di Universitas Islam di Gaza. Saat itu ia menjadi aktivis mahasiswa di kampus tersebut. Di tahun 1983, Haniyeh bergabung dengan sebuah organisasi bernama the Islamic Student Bloc, sebuah perkumpulan yang nantinya menjadi cikal bakal Hamas. Nalar politiknya terbentuk sejak ia aktif di organisasi ini. Haniyeh terlibat dalam pemberontakan Palestina Desember 1987 melawan pendudukan Israel, yang dikenal sebagai Intifada pertama. Di periode Intifada itulah Hamas berdiri di mana Haniyeh menjadi anggotanya.

Keputusannya untuk bergabung dengan Hamas, berdampak pada pengawasan ketat terhadap gerak-geriknya oleh pemerintah Israel. Haniyeh diawasi karena menjadi tokoh penting dan terlibat aktif dalam berbagai kerja-kerja politik Hamas melawan Israel. Haniyeh setidaknya tercatat tiga kali ditangkap dan penjarakan oleh Israel. Ia juga sempat diasingkan ke Lebanon pada tahun 1992 bersama ratusan anggota Hamas lainnya, termasuk tokoh senior Hamas Abdel Aziz al-Rantisi dan Mahmoud Zahhar, serta anggota kelompok perlawanan Palestina lainnya.

Satu tahun setelah dideportasi ke Lebanon, Haniyeh kembali ke Gaza berbarengan dengan penandatanganan Perjanjian Oslo pada 1993. Ketika itu, Haniyeh menjadi orang kepercayaan pendiri Hamas, Syekh Ahmed Yassin. Haniyeh kemudian diangkat menjadi asisten pribadi Syekh Yassin setelah tokoh besar Hamas tersebut keluar dari penjara pada 1997. Rekam jejak yang demikian membuat Haniyeh masuk ke dalam salah satu dari sekian banyak tokoh politik pro-Palestina yang ditargetkan untuk dibunuh oleh Israel. 

Strategi menghabisi nyawa orang-orang yang dianggap punya pengaruh besar terhadap Palestina yang terus mengobarkan perlawanan terhadap Israel, merupakan pola yang telah dilakukan Israel sejak lama. Syekh Yassin yang merupakan pemimpin Hamas sekaligus guru spiritual Haniyeh pun wafat dibunuh oleh Israel saat ia meninggalkan masjid setelah salat subuh. Sebulan setelah kematian Syekh Yassin, Israel membunuh al-Rantisi lewat serangan rudal di Gaza. Israel juga pernah menyerang Konsulat Jenderal Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April 2024. Serangan tersebut membunuh 16 orang, termasuk dua jenderal penting Iran yaitu, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi dan Brigadir Jenderal Mohammad Hadi Haji Rahimi.

Ismail Haniyeh membantu salah satu pendiri Hamas Ahmed Yassin menerima panggilan telepon di Kota Gaza, Wilayah Palestina 13 Juni 2003. Gambar diambil 13 Juni 2003. REUTERS

Ketika Haniyeh wafat akibat serangan udara di Iran akhir Juli lalu, hal itu adalah konsekuensi dari sepak terjangnya dalam melawan penjajahan Israel. Resiko yang harus dihadapi para pejuang yang melawan kebengisan Israel adalah maut. Mereka harus siap dengan semua kemungkinan pembunuhan, penculikan, atau penyiksaan yang sewaktu-waktu bisa datang secara tiba-tiba. Para pejuang ini juga harus siap menerima kenyataan ketika Israel menarget keluarga, orang terdekat, hingga teman yang dianggap punya hubungan dengan mereka.

Kenyataan itulah yang terjadi pada keluarga Haniyeh. Pada bulan April 2024, tiga putra Haniyeh tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam kendaraan mereka. Empat cucunya juga terbunuh dalam peristiwa tersebut.

Ismail Haniyeh ketika mengunjungi anak-anak Palestina

Diperkirakan, sekurang-kurangnya sekitar 60 kerabat Haniyeh telah terbunuh dalam 10 bulan terakhir. Pembunuhan ini semakin gencar dilakukan Israel pasca perang Hamas-Israel meletus Oktober 2023 lalu. Pemimpin Israel dalam banyak kesempatan mengatakan bahwa tokoh-tokoh senior Hamas telah dimasukkan dalam target sasaran untuk dihabisi.

Karier Politik

Secara personal, Ismail Haniyeh sangat populer di kalangan orang-orang Hamas. Menurut Hassan Barrari, profesor di Universitas Qatar, Haniyeh cukup menonjol di antara tokoh-tokoh senior Hamas lain karena pemikiran, posisi politik, dan penampilan publiknya yang memikat. Popularitasnya terus melekat sampai pada tragedi pembunuhannya. 

Karier politik Haniyeh seluruhnya dihabiskan untuk membesarkan Hamas. Sebelum menjabat sebagai kepala biro politik Hamas menggantikan Khaled Meshaal pada 2017, Haniyeh pernah menjadi perdana menteri Palestina setelah Hamas memenangkan pemilu legislatif pada tahun 2006. Haniyeh didaulat sebagai perdana menteri karena memang pengaruh dan popularitasnya sangat besar di mata warga Palestina.

Kemenangan Hamas dalam pemilu 2006, memberi pukulan telak kepada Fatah yang sebelumnya dianggap menjadi pemimpin politik Palestina, sekaligus mengejutkan Amerika dan Israel yang tidak menduga kalau Hamas bakal bisa menang dalam pemilu. Amerika dan Israel sama-sama tidak siap dengan kemenangan Hamas kala itu.

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika sekaligus bekas Senator New York, Hillary Rodham Clinton, dalam sebuah rekaman suara yang bocor pernah berkata, “Saya rasa kita tidak seharusnya mendorong diadakannya pemilu di wilayah Palestina. Menurut saya itu adalah kesalahan besar. Dan jika kita ingin mendorong pemilu, maka kita harus memastikan bahwa kita melakukan sesuatu untuk menentukan siapa yang akan menang”.

Karena tidak senang dengan pemerintahan yang dikuasai Hamas, negara-negara pro Israel lalu memblokade semua bantuan yang akan masuk ke Palestina. Hal tersebut sukses membuat Palestina mengalami krisis ekonomi parah. Hamas oleh negara-negara barat juga dianggap sebagai kelompok teroris yang statusnya sama dengan Al-Qaeda.

Tekanan eksternal yang menimpa pemerintahan Haniyeh, berkelindan dengan tingginya ketegangan antara Hamas dengan Fatah dan berbagai faksi politik lain di Palestina. Kondisi demikian memaksa Presiden Mahmoud Abbas memberhentikan Haniyeh dan membubarkan pemerintahannya pada tahun 2007. Namun Haniyeh dan Hamas tetap keukeuh tidak mau mundur dari posisinya. Inilah konteks politik yang menjadi cikal bakal munculnya pemerintahan independen yang dipimpin Hamas di Gaza pada tahun 2007. Kekuasaan Hamas di Gaza terus bertahan hingga saat ini.

Terlepas dari dinamika politik yang terjadi ketika Haniyeh menjabat perdana menteri, namun kemenangan Hamas dalam pemilu mengindikasikan bahwa kekuatan Hamas di Palestina semakin menguat. Pasalnya, pemilu 2006 adalah pemilu pertama yang diikuti Hamas dengan hasil yang spektakuler. Hamas meraih suara terbanyak dan berhasil mengejutkan semua lawan-lawan politiknya.

Setelah ditunjuk sebagai kepala biro politik Hamas, Haniyeh memimpin diplomasi Hamas dengan semua kekuatan politik, baik lokal maupun internasional terkait isu-isu Palestina. Haniyeh memainkan peran kunci dalam menentukan arah dan kebijakan politik Hamas. Menurut analisis politik Palestina Nour Odeh, Haniyeh adalah tokoh politik yang pragmatis. Ia dikenal menjaga hubungan positif dengan para pemimpin Palestina dari semua faksi. Haniyeh merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas semua negosiasi dan perundingan genjatan senjata antara Hamas dan Israel. Haniyeh juga menjadi orang yang punya hubungan baik dengan pemimpin-pemimpin Iran, yang selama ini menjadi negara yang mendukung penuh pembebasan Palestina.

Latar belakangan hubungan baik dengan elite Iran itulah yang membawa Haniyeh untuk datang dalam pelantikan presiden baru Iran, yang sayangnya membuat ia tewas akibat serangan udara. Pembunuhan terhadap Haniyeh melanjutkan rentetan pembunuhan terhadap pemimpin senior Hamas yang sebelumnya sudah pernah terjadi dalam 10 bulan terakhir. Baru-baru ini, pejabat senior Hamas Saleh al-Arouri juga terbunuh pada bulan Januari 2024 dalam serangan pesawat tak berawak Israel di Beirut, Lebanon.

Pembunuhan Ismail Haniyeh tidak akan menghentikan Hamas untuk terus bergerak melawan Israel. Haniyeh bakal tetap dikenal sebagai pemimpin Palestina yang konsisten menuntut kebebasan dan keadilan bagi Palestina. Meskipun Israel terus membunuh para pemimpinnya, Hamas tidak akan hancur hanya karena tokoh-tokoh seniornya dihabisi. Hamas akan terus bertransformasi dan melahirkan pemimpin-pemimpin baru guna melanjutkan perlawanan terhadap Israel.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo