Dark
Light
Dark
Light

Kwik Kian Gie, Ia yang Tidak Pernah Ikut Berdiri

Kwik Kian Gie, Ia yang Tidak Pernah Ikut Berdiri

Kwik Kian Gie telah pergi. Tapi kehilangan itu terasa seperti sesuatu yang tidak jatuh. Ia tidak gugur. Ia tidak runtuh. Ia sekadar tidak lagi hadir. Dan justru karena itulah, ruang yang ia tinggalkan tidak terdengar sebagai kehampaan, melainkan sebagai jeda. Seperti seseorang yang selalu duduk dalam rapat, tak banyak bicara, tapi begitu ia absen, semua orang tiba-tiba sadar bahwa suara paling tenang ternyata adalah yang paling mengikat.

Ia bukan tokoh besar dalam logika media. Tidak karismatik dalam gaya, tidak agresif dalam frasa, tidak gemar mengulang sejarah pribadi. Tapi dalam dunia yang makin cepat dan sibuk membenarkan diri, kehadiran semacam itu seperti embun di pagi hari yang tidak dikejar, tapi selalu dirindukan. Kwik tidak mencolok, tapi juga tidak pernah luput. Ia hadir sebagai penanda bahwa masih ada orang-orang yang tak menjadikan kekuasaan sebagai panggung, dan tak menjadikan prinsip sebagai dekorasi.

Ia belajar ekonomi. Tapi tak pernah merasa cukup hanya menguasai angka. Baginya, ilmu yang tak mengusik hati nurani hanya akan berakhir sebagai pelengkap teknokrasi. Ia menolak memisahkan keadilan dari kebijakan. Karena ia tahu, grafik bisa naik tanpa menyentuh satu pun kehidupan yang layak. Dalam dunia kebijakan yang selalu ingin efisien, ia justru mengganggu. Bukan dengan pernyataan keras, tapi dengan keengganan untuk ikut mengangguk.

Dan di balik semua itu, tersimpan sesuatu yang lebih senyap tapi tak kalah penting. Ia seorang keturunan Tionghoa. Dalam masyarakat yang berkali-kali menyisihkan dan mencurigai, Kwik tidak meminta tempat. Ia menciptakan ruangnya sendiri. Bukan dengan membela identitas, tapi dengan menunjukkan keberpihakan. Ia tahu bahwa di negeri ini, seseorang seperti dirinya akan diuji lebih lama dan lebih sering. Dan ia menjawabnya bukan dengan penjelasan, melainkan dengan kerja yang tak bisa dibantah.

Ia membuktikan bahwa cinta pada republik tidak harus ditunjukkan lewat slogan. Bahwa nasionalisme tidak harus berwajah seragam. Ia tidak menepis stigma. Ia juga tidak sibuk mengklarifikasi. Ia hanya hadir, bekerja, dan berpikir. Dan dari kehadiran itu, runtuhlah satu per satu anggapan lama yang tak adil: bahwa minoritas tak mampu membela mayoritas, bahwa etnisitas menutup jalan kepedulian, bahwa nama asing berarti hati yang jauh. Kwik tidak menjawab tuduhan. Tapi ia melampauinya.

Ia tidak datang untuk mempercepat. Ia datang untuk bertanya ulang. Tentang ke mana arah negara berjalan. Tentang siapa yang tertinggal dalam setiap laporan pembangunan. Tentang apa yang sedang  dikorbankan ketika semua orang mengucapkan kata pertumbuhan. Ia tahu, tidak semua yang disepakati itu benar. Ia tahu, tidak semua yang ditolak itu keliru. Dan ia memilih menunggu. Sampai suara lain datang. Atau sampai satu suara cukup memberatkan untuk menyela.

Itulah yang ia lakukan dalam hidupnya. Menyela. Dengan tenang. Dengan perlahan. Dalam kabinet, dalam parlemen, dalam partai. Ia pernah menjadi Menko Ekuin. Pernah mengepalai Bappenas. Pernah duduk dalam rapat yang menuliskan arah ekonomi negara. Tapi ia tidak pernah merasa bagian dari arak-arakan itu. Ia masuk, karena percaya negara harus dikawal dari dalam. Tapi ia juga siap keluar, kalau yang dikawal justru menjauh dari rakyat.

Salah satu dari banyak penolakan yang ia lakukan adalah terhadap penerbitan Surat Keterangan Lunas bagi para obligor BLBI. Ia menghadiri tiga kali rapat terbatas bersama Presiden Megawati dan para menteri utama. Ia tahu bahwa ia kalah suara. Tapi ia tidak menyerah. Ia tidak mengubah pendapat hanya karena keputusannya tak diterima. Ia memilih tetap duduk, tetap tidak menyetujui, tetap menolak. Tidak dengan ancaman, tidak dengan teatrikal, melainkan dengan keheningan yang cukup untuk membuat semua orang sadar bahwa ada satu orang yang tidak ikut berdiri.

Dalam kesaksiannya di pengadilan Tipikor pada 2018, ia mengulang kembali kenangan itu. Tapi tidak dengan nada dendam. Ia hanya ingin menegaskan bahwa diamnya waktu itu bukan bentuk penghindaran. Diamnya adalah pilihan. Karena ia tahu, dalam sistem yang telah membulatkan tekad, suara keberatan justru lebih tajam jika tidak dibungkus dengan kemarahan. Dan dari sikap itulah, kita belajar bahwa yang menolak bisa tetap sopan, dan yang berbeda tidak harus keras.

Kwik berjalan pelan. Tapi langkahnya meninggalkan gema panjang. Ia tidak menggugah. Tapi ia menggurat. Dan guratan itu tidak pernah dihapus oleh jabatan yang berganti, oleh partai yang berubah, atau oleh gelombang euforia nasional yang sering kali melupakan satu hal kecil yang ia jaga erat, yaitu nalar.

Ia tidak bicara tentang kedaulatan sebagai slogan. Ia mengartikannya sebagai kewajiban untuk tidak tergantung pada kemauan asing. Ia mencurigai lembaga keuangan dunia yang datang membawa pinjaman, tapi tidak pernah membawa keadilan. Ia menolak ketika utang dijadikan takdir. Ia menahan diri saat insentif pajak ditawarkan tanpa kritik. Ia tahu, setiap keputusan fiskal punya dampak. Dan jika dampaknya hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sudah punya, maka negara sedang menyakiti dirinya sendiri.

Banyak orang menyebutnya ekonom pro rakyat. Tapi istilah itu terlalu tipis untuk menjelaskan seseorang yang telah menghabiskan hidupnya sebagai penjaga keberpihakan. Ia bukan ekonom yang turun ke jalan. Ia juga bukan aktivis yang menolak semua yang sistemik. Tapi ia menyimpan keberaniannya dalam keputusan-keputusan kecil yang tak pernah diberitakan. Menolak menghadiri rapat yang tidak sah. Menolak menandatangani keputusan yang tidak ia percaya. Menolak menerima posisi yang tidak ia yakini. Dan dari semua penolakan itu, lahirlah satu bentuk penghormatan yang tak bisa ditukar oleh apapun: kepercayaan.
Kwik tidak membentuk mazhab ekonomi. Tidak menulis teori besar. Tapi ia menanam satu kebiasaan yang lebih penting dari rumusan kebijakan. Yaitu keberanian untuk tidak tergesa. Ia membaca lambat. Ia menulis lambat. Ia memutuskan lambat. Tapi dari kelambatan itu, ia melindungi sesuatu yang kerap hilang dalam politik: kejujuran yang tidak diburu oleh waktu.

Setelah tidak lagi menjabat, ia tidak menghilang. Ia tidak membangun menara gading. Ia tetap berbicara. Lewat artikel. Lewat kanal media sosial. Lewat diskusi-diskusi kecil yang tidak selalu dicatat sejarah. Tapi justru dari sana, pengaruhnya menyebar. Ia mengubah cara berpikir banyak orang, bukan karena otoritas, tapi karena kesederhanaannya dalam menjaga jarak dari apa pun yang terlalu mudah diyakini.

Kwik tidak menolak sistem. Ia hanya tidak bersedia membenarkannya jika salah. Ia tidak melawan negara. Ia hanya menolak diam jika negara melukai. Ia tidak menyebut dirinya intelektual publik. Tapi publik tahu, bahwa suara itu datang bukan dari mereka yang paling keras, melainkan dari mereka yang paling jujur.

Hari ini, setelah kepergiannya, kita melihat lebih jelas ruang yang ia tinggalkan. Bukan kekosongan. Tapi penanda bahwa ada yang pernah berdiri di sana, tak banyak bergerak, tapi membuat semua orang mengingat arah.

Kita tidak sedang meratapi tubuh yang berhenti bernapas. Kita sedang mencoba memahami ulang mengapa selama ini suara seperti itu selalu terasa menenangkan. Ia tidak memberi harapan. Ia memberi pengingat. Bahwa negara yang baik bukan yang cepat, tapi yang tahu kapan harus berhenti. Bahwa pertumbuhan yang adil bukan yang besar, tapi yang tahu siapa yang selama ini tidak tumbuh. Bahwa keberanian bukan soal melawan, tapi soal menolak mengikuti.

Kwik tidak meninggalkan warisan dalam bentuk cetak. Ia tidak mengajarkan murid-muridnya untuk meniru. Ia hanya menunjukkan bahwa untuk menjadi benar, kadang cukup dengan tidak ikut berdiri. Dan untuk menjaga bangsa, kadang cukup dengan bertahan dalam posisi duduk.

Kini ia telah tiada. Tapi suara yang ia tinggalkan tidak mati. Ia hanya berubah menjadi gema yang tidak bisa dilacak sumbernya. Tapi bisa dirasakan kehadirannya, setiap kali seseorang berhenti sejenak dan bertanya dalam hati. Apakah yang kita bangun ini sungguh adil. Apakah yang kita putuskan ini sungguh perlu. Dan apakah yang kita perjuangkan ini sungguh untuk semua, atau hanya untuk yang sudah cukup punya suara.

Kwik mungkin telah pergi. Tapi ia tidak selesai. Karena suara seperti itu tidak akan pernah benar-benar habis. Ia hanya berpindah tempat. Menyelinap ke dalam keputusan-keputusan kecil yang tenang. Dan diam-diam, mengubah dunia.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo