Dark
Light
Dark
Light

Abu Bakar Ar-Razi, Ia yang Hidup di antara Pengobatan Modern dan Misteri ‘Kekafiran’

Abu Bakar Ar-Razi, Ia yang Hidup di antara Pengobatan Modern dan Misteri ‘Kekafiran’

Bila kita berkunjung ke gereja milik Princeton University, USA, kita akan menemukan jendela kaca patri bergambar Abu Bakar Ar-Razi. Konon penempatan gambar Ar-Razi di sudut jendela ini sebagai penghargaan atas dedikasi Ar-Razi terhadap ilmu kedokteran dunia.

Abu Bakar Ar-Razi bernama lengkap Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria Ar-Razi. Lahir pada tahun 863 M, di sudut kota Teheran, Iran yang bernama Ray. Ar-Razi di barat lebih dikenal dengan nama Rhazes. Ia adalah intelektual muslim sekaligus dokter berpengaruh di zamannya. Pengaruh Ar-Razi tidak hanya terbatas dalam lingkup peradaban Islam semata, melainkan meluas sampai ke barat.

Ar-Razi muda tertarik pada sastra dan musik. Awalnya ia bekerja sebagai membuat perhiasan dan tertarik pada kimia. Eksperimennya terhadap bahan-bahan kimia menyebabkan matanya sakit, dan penyakit ini membawanya beralih ke kedokteran. Ar-Razi dikabarkan tidak menerima saran murid-muridnya untuk menjalani operasi akibat katarak di matanya dengan mengatakan, "Sekarang sudah terlambat, saya sudah cukup melihat dunia."

Sejak muda Ar-Razi dikenal sebagai dokter yang memiliki kecerdasan luar biasa. Hal itu dibuktikan dengan kepercayaan Gubernur Manshur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn As’ad kepada Ar-Razi untuk memimpin rumah sakit Ray selama enam tahun. Sukses memimpin rumah sakit di tempat kelahirannya, membuat Ar-Razi diminta Khalifah al-Muktafi (902-908 M) untuk memimpin rumah sakit di Baghdad.

Setelah Khalifah al-Muktafi wafat, Ar-Razi kembali ke Ray sampai nantinya meninggal. Ar-Razi menulis ratusan karya dari berbagai tema. Beberapa yang paling terkenal antara lain, al-Khawi al-Khabir dan al-Mansuri fi al-Thib. al-Khawi al-Khabir dianggap merupakan karya terbesar Ar-Razi. Kitab yang dalam bahasa latin dikenal dengan The Continent Liber ini bahkan menjadi ensiklopedia kedokteran modern dan menjadi referensi utama dunia kedokteran Eropa sampai abad 16. Dalam bidang psikologi, Ar-Razi menulis kitab berjudul al-Thib al-Ruhani. Dalam bidang filsafat Ar-Razi menulis al-Sirah al-Falsafiyyah, al-Ilm al-Ilahi, Rasa’il al-Falsafiyyah, dll (Zuhri 2015: 126).

Pemikiran Ar-Razi di bidang kedokteran menjadi terobosan penting dalam dunia kedokteran. Penelitiannya mengenai cacar dan campak membuat dirinya dianggap sebagai penemu atas dua penyakit tersebut (Kuru 2020:135). Ar-Razi juga dikenal sebagai dokter pertama yang menerapkan ilmu kimia dalam pengobatan, dianggap sebagai bapak pediatri yang berhasil mengklasifikasikan penyakit anak dan ginekologi serta menunjukkan metode diagnosis dan pengobatan. Ia mempelajari penyakit kelamin dan menggunakan usus hewan sebagai benang jahit dalam operasi untuk pertama kalinya. Untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, ia melakukan percobaan pada beberapa hewan dan menggunakan kelinci percobaan untuk pertama kalinya dalam sejarah pengobatan. Ar-Razi juga membedakan antara penyakit asam urat dan rematik, serta memperkenalkan pembedahan untuk mengeluarkan batu ginjal.

Kapan Ar-Razi wafat masih simpang siur di kalangan sejarawan. Ada yang menyebut ia meninggal tahun 923 M, ada pula yang mengatakan meninggal 932 M. Kapan pastinya Ar-Razi meninggal tidak ada yang bisa memastikan. Tapi satu hal yang pasti, Ar-Razi adalah salah satu simbol intelektualisme Islam di masanya. Cara berpikir dan keberaniannya berpendapat menjadi warisan besar bagi khazanah intelektual Islam.

Kontroversi pemikiran Abu Bakar Ar-Razi
Ar-Razi dikenal sebagai salah satu filsuf muslim kontroversial. Pemikirannya terkenal radikal dan mengundang kritik pedas dari berbagai pihak. Harun Nasution dalam Falsafat dan Mistisisme Islam (1973), merinci beberapa poin kontroversi dari Ar-Razi, yaitu: tidak percaya pada wahyu, Al-Quran bukan mukzijat, tidak percaya pada nabi-nabi, adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan. Akibat pemikirannya ini, ia dicap sesat, ateis, hingga kafir.

Pemikiran Ar-Razi yang demikian, muncul bukan tanpa sebab. Ia adalah seorang rasionalis yang sangat percaya pada kekuatan akal. Menurut Fahruddin Faiz, Ar-Razi percaya bahwa akal adalah karunia tertinggi yang diberikan Allah kepada manusia. Akal ini di mata Ar-Razi memungkinkan manusia untuk mengembangkan dirinya. Fungsi akal yang demikian membantu manusia untuk memahami dan membongkar gejala alam beserta misteri yang menyelubunginya. Kepercayaannya kepada akal inilah yang mendorong pemikirannya yang terbilang kontroversial tersebut.

Ar-Razi berkeyakinan bahwa akal manusia sudah lebih dari cukup untuk mengetahui apa yang baik serta apa yang buruk. Keyakinan Ar-Razi ini dalam konteks pemikiran kontemporer jamak disebut intuisionisme moral. Pemikiran tersebut percaya bahwa moralitas itu bersifat intuitif untuk semua manusia. Artinya untuk mengetahui sesuatu itu baik atau buruk, manusia memiliki intuisi universal untuk menentukannya tanpa perlu bantuan teks-teks kitab suci. Untuk tahu apakah membunuh orang lain benar atau salah misalnya, manusia tidak perlu wahyu, akal saja sudah cukup untuk menilai kalau tindakan tersebut keliru. Itulah intuisionisme moral (Akyol 2022: 68).

Manusia dalam pendapat Ar-Razi, pada dasarnya mempunyai daya berpikir yang sama besarnya. Bagi Ar-Razi perbedaan yang timbul di antara manusia muncul karena perbedaan pengalaman hidup di antara sesama manusia. Implikasi dari hal ini, Ar-Razi konon menolak konsep kenabian dan mukjizat untuk para nabi. A. R. Badawi dalam Para Filosof Muslim (1996), merinci penyebab penolakan Ar-Razi terhadap permasalahan tersebut menjadi tiga alasan; pertama, membedakan baik dan buruk sudah ada akal yang bisa menjadi alat untuk dipakai sehingga tidak perlu nabi untuk membimbing umat; kedua, pengistimewaan orang sebagai pembimbing umat tidaklah berdasar. Karena pada dasarnya ketika seseorang lahir, ia memiliki kecerdasan yang sama dengan yang lain; ketiga, terjadi pertentangan antar para nabi di mana hal tersebut tidak terjadi padahal mereka berbicara atas nama Tuhan yang sama.

Penolakan Ar-Razi terhadap konsep kenabian adalah misteri terbesar yang terus mengundang polemik. Tidak sedikit kalangan yang meragukan apakah memang benar Ar-Razi berpendapat demikian atau jangan-jangan ada bias yang terjadi atas pemikiran Ar-Razi sehingga ditafsiri seperti itu. Pasalnya, penolakan terhadap konsep kenabian ini bukan sesuatu yang sederhana. Menolak kenabian dengan kata lain menolak pondasi keagamaan secara keseluruhan. Kalau memang benar Ar-Razi berpendapat seperti itu, menjadi bisa dimengerti kemudian jika ada yang menghukumi dirinya kafir atau ateis. Penolakan atas konsep kenabian bisa dikatakan telah keluar dari kesepakatan umum umat Islam. Di situlah sebabnya ada suara-suara yang meragukan apakah benar Ar-Razi berpendapat seperti itu.

Peter Adamson dalam karyanya berjudul Ar-Razi (2021), mengatakan kalau tuduhan Ar-Razi menolak kenabian sebenarnya berdasarkan kitab Makhariq al-Anbiya yang kebenarannya diragukan karena bagian dari buku ini terdapat dalam kitab A’lam al-Nubuwah karya Abu Hatim Al-Razy yang sebagian isi kitabnya hilang. Selain itu, dalam kitab tersebut, nama Ar-Razi tidak disebut oleh Abu Hatim. Menurut Adamson, Abu Hatim hanya mengatakan kalau dirinya berdebat dengan seseorang. Tapi siapa yang dimaksud tidak pernah diketahui. Abu Hatim sendiri dikenal sebagai lawan debat Ar-Razi. Dari sini kemudian muncul dugaan bahwa jangan-jangan sebenarnya Ar-Razi tidaklah berpendapat seperti yang dipersangkakan. Kontroversi mengenai Ar-Razi bisa saja sengaja dibuat oleh lawan-lawan intelektual Ar-Razi untuk menjatuhkan dirinya.

Selain kontroversial dalam pemikirannya mengenai konsep kenabian, pandangan filsafat Ar-Razi juga menimbulkan polemik. Dalam bidang filsafat, salah satu yang paling terkenal ialah pemikirannya mengenai filsafat lima kekal atau al-Qudama al-khamsah. Kata Ar-Razi, ada lima hal yang kekal di dunia ini, yaitu: Tuhan, jiwa universal, materi pertama, ruang absolut, dan zaman absolut. Menurut Ar-Razi, Tuhan kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir. Roh atau jiwa universal juga kekal karena esensi roh berasal dari Tuhan makanya ia kekal. Materi juga kekal karena tidak mungkin materi diciptakan dari sesuatu yang tidak ada. Kalau materi kekal, ruang pun harus kekal. Karena tidak mungkin materi bertempat jika tidak dalam ruang. Materi ini sifatnya berubah-ubah. Perubahan tersebut menandakan zaman, maka zaman mesti kekal pula jika materi kekal.

Pandangan semacam ini memantik respons keras dari para filsuf lain. Al-Ghazali sendiri termasuk di dalam mereka yang menentang pandangan ini. Kata Al-Ghazali menyebut bahwa ada yang kekal selain Allah adalah kesalahan. Hanya Allah yang kekal, tidak ada yang lain.

Terlepas dari kontroversi dan misteri yang mengiringi karier intelektualnya, tapi patut diakui secara jujur bahwa Ar-Razi memberi sumbangsih besar terhadap peradaban Islam dan peradaban dunia hingga hari ini. Ar-Razi merupakan jawaban atas pertanyaan apakah peradaban Islam bisa maju atau tidak. Ar-Razi adalah bukti bahwa peradaban Islam bisa maju dan kompatibel dengan ilmu pengetahuan. Jika kini peradaban Islam dianggap tertinggal oleh peradaban barat, itu bukan berarti Islam sebagai agama tidak bisa maju, justru itu adalah pertanyaan besar yang harus dijawab mengapa hal demikian bisa terjadi. Sejarah telah mencatat kalau Islam pernah melahirkan maju di muka bumi dan Ar-Razi ialah wujud nyata atas hal tersebut.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo