Bayangkan sebuah pondok pesantren di desa. Suara ayat suci al-Qur’an yang dibacakan dengan perlahan menggema di ruang kayu yang ugahari. Di sana hidup seorang santri kecil yang kelak menuliskan memoir panjang tentang perjalanan hidupnya. Ia bernama KH. Saifuddin Zuhri.
Dalam lembar pembuka bukunya ia menulis kalimat yang akan terus membayang dalam benak pembacanya. Ia berkata bahwa dari pesantren ia datang dan untuk cita-cita pesantren ia berjuang. Kalimat itu bukan hiasan retorik. Kalimat itu adalah peta hidup seorang tokoh bangsa yang menghabiskan sebagian besar umurnya di antara kiai para santri dan jalan panjang politik Indonesia modern.
Buku ini menjadi semacam monumen kesaksian yang tidak hanya melukiskan hidup seseorang tetapi juga memotret tradisi panjang pesantren yang ikut mendirikan dan menguatkan republik ini.
Otobiografi Guruku Orang-Orang Dari Pesantren (LKiS, 2001) mengalir dengan gaya seorang guru kamitua yang tidak terburu-buru mengisahkan hidupnya. Ia menulis perlahan. Kadang ia berhenti untuk bersyukur. Kadang ia merenungi sakit yang menemaninya bertahun-tahun hingga tulisan ini terselesaikan.
Pada bagian tasyakkur nan panjang, Zuhri menyatakan bahwa karya itu bukan semata hasil upayanya melainkan anugerah Allah SWT. yang menjaga kesadaran dan tenaganya di usia senja. Kesederhanaan itu membuat memoir ini berbeda dari banyak autobiografi politisi Indonesia. Zuhri menekankan bahwa perjalanan hidup bukan milik individu semata. Hidup adalah peristiwa bersama.
Ia menulis tentang istrinya yang terkena kelumpuhan. Ia menulis perihal anak-anaknya yang menjaga ketika ia dirawat di ruang intensif. Ia menulis ihwal perawat keluarga yang setia. Semua itu membuat memoir ini ditopang oleh nilai-nilai kekeluargaan yang telah lama menjadi inti ajaran pesantren.
Pesantren dalam buku ini bukan hanya lembaga pendidikan. Pesantren muncul sebagai lingkungan budaya. Pada halaman awal Zuhri menjelaskan bahwa pesantren adalah lembaga yang membentuk karakter dan keteladanan. Santri dibimbing selama dua puluh empat jam. Mereka belajar saling menghargai dan hidup mandiri. Mereka mendapat teladan dari pengasuh yang hadir dalam setiap gerak kehidupan sehari-hari.
Kehidupan yang berlangsung setiap hari itu menghasilkan jaringan nilai yang membentuk wajah masyarakat Indonesia. Tradisi itu mengajarkan ketaatan beragama sekaligus penghargaan terhadap adat dan keragaman. Pesantren melekat dalam denyut komunitas. Ia menjadi pusat nilai tempat masyarakat meminjam arah hidup.
Buku ini juga memberi lukisan tentang peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan. Pada halaman pengantar disebutkan bahwa pesantren tidak pernah absen dari sejarah republik. Para kiai dan santri berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan pada saat bangsa ini menghadapi ancaman kolonial Belanda dan Sekutu.
Mereka tidak hanya ikut bertempur. Mereka membangun moral perlawanan. Para ulama menjadi penjaga keyakinan bahwa tanah air ini harus dipertahankan untuk martabat bersama. Narasi ini bukan semata heroisme. Dalam buku ini, perjuangan ulama tampak sebagai usaha panjang memelihara nilai-nilai yang membuat bangsa ini bertahan.
Di sinilah letak pentingnya memoir Saifuddin Zuhri. Ia menghadirkan suara generasi yang hidup di tengah pergolakan Indonesia modern. Ia mengalami langsung masa kolonialisme. Ia tumbuh dalam pendidikan tradisi keilmuan yang kuat. Ia menyaksikan lahirnya republik dan berkembangnya Kementerian Agama. Pengalaman itu membentuk wawasan kritis tentang hubungan agama negara dan masyarakat.
Pada sambutan Direktur Jenderal Bimas Islam, dijelaskan bahwa Zuhri bukan hanya wartawan dan ulama tetapi juga pernah menjadi Menteri Agama pada periode enam puluhan. Ia hadir di pusat dinamika awal negara ketika pilar-pilar pemerintahan dibangun dan identitas republik dirumuskan.
Sebagai seorang wartawan yang kemudian memasuki dunia politik, Zuhri melihat Indonesia dari dalam. Ia memotret kehidupan sosial pesantren sekaligus kehidupan negara. Ia menulis dengan kesadaran seorang saksi yang tidak ingin memonopoli kebenaran.
Gaya tulisannya lembut. Ia menghindari glorifikasi diri. Ia mengakui kesalahan dan keterbatasan. Ia menuliskan sakitnya dengan jujur. Ia menceritakan perjuangan keluarganya dengan rasa terima kasih yang besar. Ia tidak membangun sosok pahlawan tunggal. Ia membangun cerita tentang orang-orang yang saling menopang agar hidup terus bergerak. Dalam cara itu, memoir ini beresonansi dengan tradisi besar sejarah lisan yang menghargai kontribusi setiap individu kecil dalam perjalanan bangsa.
Akan tetapi demikian, memoir ini tidak luput dari sisi refleksi kritis. Dalam dunia historiografi modern, ada pertanyaan tentang bagaimana autobiografi menciptakan ingatan dan menata citra penulis. Ingatan selalu selektif. Penulis memilih apa yang dianggap penting dan mengabaikan yang tidak ingin ditampilkan.
Dalam buku ini Zuhri banyak bercerita tentang keluarga dan pesantren tetapi lebih sedikit menceritakan konflik politik yang mewarnai masanya. Ia tidak banyak membahas dinamika keras politik Islam tahun lima puluhan dan enam puluhan. Ia tidak banyak menyinggung perpecahan yang terjadi dalam tubuh organisasi Islam. Ia memilih untuk menekankan narasi kesopanan dan keteduhan.
Pilihan itu bukan kekurangan. Pilihan itu mencerminkan kesadarannya sebagai seorang ulama yang mengedepankan nilai kerukunan.
Namun dari perspektif sejarah, pilihan itu menyisakan ruang bagi pembaca untuk menempatkan memoir ini dalam konteks yang lebih luas. Pembaca perlu membaca memoir ini berdampingan dengan sumber lain untuk menangkap gambaran penuh mengenai politik Islam di era demokrasi liberal hingga Orde Lama.
Meski demikian memoir ini tetap berharga karena menghadirkan pengalaman personal yang menjadi lapisan penting dalam memahami sejarah sosial dan budaya kaum santri. Dalam studi sejarah narasi personal menjadi elemen yang sering kali membuka pintu bagi pemahaman moral yang lebih dalam.
Di sisi liyan, kekuatan buku ini terletak pada cara Zuhri menggambarkan pesantren sebagai institusi kebudayaan. Ia menulis bahwa pesantren mengajarkan nilai moderasi. Pesantren tidak pernah berdiri melawan adat lokal. Pesantren tumbuh dari tradisi rakyat dan hidup bersama masyarakat.
Maka moderasi yang dijelaskan di halaman pengantar bukan jargon anyar. Moderasi adalah nilai yang tumbuh di pesantren sejak dahulu. Pesantren menanamkan cinta tanah air. Pesantren mendidik santri untuk menghormati perbedaan. Pesantren ikut menjaga kohesi sosial dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Tatkala buku ini menceritakan penyakit penulis dan perjuangan keluarganya, pembaca dapat melihat dimensi lain dari pesantren. Pesantren membentuk karakter keluarga yang saling menjaga. Pesantren membentuk cara pandang tentang kehidupan yang penuh syukur.
Saifuddin Zuhri menulis bahwa penyakitnya bukan hukuman tetapi ujian yang memperkuat sabar. Ia mengutip ayat dan doa. Ia menegaskan peran keluarganya dalam menyelesaikan buku ini. Ia menggambarkan mereka sebagai pilar yang menopang hidupnya ketika tubuhnya melemah. Halaman-halaman ini membuat memoir ini semakin manusiawi. Ia menunjukkan bahwa seorang ulama tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu menjadi bagian dari keluarga dan komunitasnya.
Buku ini juga memperlihatkan bahwa pesantren adalah ruang pelatihan ketekunan. Zuhri menceritakan bagaimana sakitnya membuat proses penulisan tertunda bertahun-tahun. Ia tidak lagi mampu menulis panjang dalam satu kali duduk. Ia harus menulis dengan tangan. Ia harus bersabar. Ia mulai pelan-pelan sampai akhirnya kembali kuat.
Dari kisah ini pembaca dapat memahami disiplin batin yang tumbuh dari dunia pesantren. Di pesantren seseorang belajar merenungkan setiap proses. Di pesantren seseorang tidak terbiasa terburu-buru. Dunia modern yang serba cepat membuat nilai seperti ini terasa asing padahal di banyak titik kehidupan kita membutuhkan kedalaman dan ketekunan untuk memahami kenyataan.
Dalam konteks yang lebih luas, memoir ini mengajak pembaca merenungkan hubungan antara agama dan negara. Sebagai menteri agama, Zuhri mengamati bagaimana negara berusaha membangun kehidupan beragama dalam kerangka republik. Ia mengisahkan bahwa Kementerian Agama punya peran penting sejak awal. Kementerian ini hadir untuk menjaga keharmonisan kehidupan beragama. Ia hadir untuk memastikan bahwa nilai-nilai ketuhanan yang tercantum dalam dasar negara tidak menjadi slogan kosong.
Zuhri bangga menjadi bagian dari lembaga itu. Ia percaya bahwa negara yang kuat membutuhkan lembaga yang mampu mengelola kehidupan beragama dengan arif.
Meski demikian, buku ini tidak membahas secara rinci ketegangan antara agama dan negara yang muncul pada masa itu. Ini wajar, karena memoir tidak bertujuan menjadi analisis politik. Walakin, bagi pembaca yang memahami sejarah Indonesia, bagian ini dapat menjadi pintu untuk membaca lebih jauh hubungan antara politik Islam dan pemerintah.
Buku ini menjadi semacam pengantar moral bagi mereka yang ingin menelusuri dokumen-dokumen lain tentang perdebatan dasar negara dan peran ulama dalam membangun republik.
Memoar ini menyuguhkan pelajaran tentang moderasi yang lahir bukan dari ruang abstrak, melainkan dari denyut komunitas yang hidup. Pelajaran itu terasa kian relevan di tengah mengerasnya politik identitas dan godaan ekstremisme yang gemar menyederhanakan dunia. Pesantren yang digambarkan Zuhri bukanlah menara gading yang menjauh dari realitas sosial, melainkan ruang pendidikan yang ramah, membumi, dan berakar pada kehidupan masyarakat sekitarnya. Di sanalah cinta tanah air ditanamkan sebagai laku keseharian, bukan sekadar slogan.
Pesantren semacam ini menjelma modal sosial yang kokoh untuk menjaga kohesi bangsa. Maka ketika Zuhri menolak keras anggapan yang menyebut Indonesia sebagai negara thaghut, ia tidak sedang berdebat teologis semata, melainkan mengingatkan bahwa republik ini dibangun melalui pengorbanan ulama dan umat Muslim, dengan darah, kesabaran, dan keyakinan pada masa depan bersama.
Generasi muda yang membaca memoir ini akan menemukan bahwa nilai-nilai pesantren bukan nilai masa silam. Nilai itu relevan saat ini. Pesantren mengajarkan adab. Pesantren mengajarkan kesemenjanaan. Pesantren mengajarkan sikap rendah hati. Pesantren mengajarkan cinta tanah air yang tidak berlebihan tetapi tetap kokoh. Dalam dunia yang dipenuhi kegaduhan politik, memoir seperti ini mengingatkan kita untuk merawat keheningan batin agar tidak terjebak dalam polarisasi.
KH. Saifuddin Zuhri menutup bagian tasyakkur dengan doa agar dirinya mampu mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa. Ia memohon agar keturunannya menjadi orang orang yang saleh. Ia memohon ampun atas dosa-dosa yang dilakukan dan berharap pertolongan Tuhan untuk tetap setia pada jalan kebaikan.
Doa itu sekaligus menjadi pesan yang melatarbelakangi seluruh memoarnya. Hidup adalah perjuangan yang ditopang rasa syukur. Perjalanan bangsa ini pun dibangun dari rasa syukur yang dibawa oleh para ulama yang berangkat dari pesantren.
Guruku Orang-Orang Dari Pesantren bukan sekadar autobiografi. Buku ini adalah arsip moral bangsa. Buku ini adalah cermin yang mengajak kita melihat nilai-nilai yang telah lama menjadi fondasi masyarakat Indonesia. Tatkala dunia berubah cepat, memoir seperti ini mengingatkan bahwa ada tradisi panjang yang tetap menjadi rumah ugahari. Ia adalah tempat bangsa ini kembali.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Faizin


