Dark
Light
Dark
Light

Saat Sepatu Diutangi dengan Sajak: Sepenggal Kisah Kemurahan Hati Ramadhan KH

Saat Sepatu Diutangi dengan Sajak: Sepenggal Kisah Kemurahan Hati Ramadhan KH

Pertemuan yang semestinya menyenangkan. Namun, kala itu Tines terlihat murung. Ramadhan pun penasaran dengan raut wajah sang pujaan hatinya itu. Dia pun mendesak dengan banyak pertanyaan. Hingga akhirnya, dari mulut Tines, kegelisahan itu pun tersaji gamblang.

Rupanya, sang ayah Tines– yang keturunan priayi, kerap bertanya perihal pekerjaan Atun – panggilan Ramadhan. Berkali-kali Tines menjelaskan tentang pekerjaan Atun sebagai wartawan dan menjadi redaktur budaya di sebuah majalah. Sudah dijelaskan seperti itu, sang ayah tetap bertanya, dan bertanya lagi.

Atun pun dengan lekas menangkap kegelisahan Tines atau Pruistin Atmadjasaputra, yang kelak menjadi istrinya. Dia menyadari keluarga Tines tidak sepenuhnya memahami pekerjaannya sebagai jurnalis, yang mungkin terdengar asing dibanding dengan profesi lainnya. Dengan kata lain, dia harus menekuni pekerjaan lain yang mudah dijelaskan.

Hingga akhirnya, dia pun mendatangi salah satu kakaknya, Saleh – yang bekerja sebagai kepala toko sepatu Bata di Cianjur. Dari perbincangan itu, dia diterima sebagai pelayan toko di Pasar Baru. 

Menjadi pegawai di toko sepatu menjadi penggalan hidup yang dijalani oleh Ramadhan Kartahadimadja seorang sastrawan besar. Satu karyanya yang terkenal adalah  “Ladang Perminus” yang terbit pada 1990.  Selain itu dia juga penulis biografi sejumlah tokoh nasional.

Di antara karya biografinya ialah Inggit Ganarsih, Soekarno Kuantar Kau ke Gerbang, Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 dan tentu saja yang paling fenomenal Suharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya  — yang ditulis bersama G. Dwipayana, pada 1988.

Namun tiadalah mudah bagi Atun untuk menjalani pekerjaan barunya itu. Ia sering merasa malu melayani pelanggan, apalagi jika mengenal mereka. Namun, semua itu dilakoninya demi memenuhi harapan keluarga Tines, yang menginginkan calon menantu dengan pekerjaan tetap.

Setelah melewati masa-masa menjadi pelayan toko, Atun pun naik kelas dan ditempatkan di toko di Jalan Tangerang, yang ramai dengan pelanggan. Dalam posisi barunya itu, sebagai kepala toko — ia bertanggung jawab atas toko kecil dengan pelanggan yang cukup banyak.

Dengan posisi baru, Ramadhan sempat mengira persoalannya akan selesai. Namun justru sebaliknya, muncul masalah baru. Teman-teman sesama seniman yang mendengar kabar Atun menjadi kepala toko, kemudian kerap mampir. Pelukis Nashar dan penyair Ajip Rosidi adalah di antaranya.  

Melihat sepatu yang dijajakan di sana, mereka pun jatuh hati. Namun karena tak memiliki uang, Nashar mengusulkan untuk membayar dengan honor sketsanya yang dimuat di majalah Siasat. Pun begitu dengan Ajip yang akan membayar dengan sajak-sajaknya. Meski sulit dan melanggar aturan, Ramadhan hanya bisa mengangguk.

Saat itu, selain menjadi kepala toko, Ramadhan masih bekerja di Siasat. Dia pun menghubungi bagian keuangan agar honor mereka tidak diberikan. Honornya itulah yang dibayarkan untuk sepatu.

“Teman-teman yang silih berganti mengambil sepatu dan membayarnya jika memperoleh honor dari tulisan dan sketsanya. Itu menyebabkan manajemen di toko sepatu Bata yang aku pimpin menjadi kacau balau. Jika aku hitung setiap bulan, jumlah sepatu yang ada di tokoku makin berkurang, tetapi uangnya tidak jelas,” ujarnya dalam buku Di Antara Dua Arus: Biografi Ramadhan K.H (2013: 90) yang ditulis oleh Ray Rizal.

Hingga akhirnya,  atasannya mempersoalkan adanya ketidaksesuaian antara jumlah sepatu yang terjual dengan uang yang masuk. Ramadhan yang semula ingin menjelaskan duduk persoalannya memilih diam. Namun diamnya Ramadhan dianggap sebagai pengakuan atas kelalaian.

Rasa frustrasinya terhadap pekerjaan di toko sepatu Bata semakin memuncak. Meski ingin berhenti, ia bertahan demi Ines, meskipun jiwanya memberontak untuk menulis sajak dan cerpen.

Puncaknya, seorang pengawas toko yang merupakan orang asing mendapatkannya tengah mengetik cerpen di toko. Jawaban apa pun takkan membantu dan ia yakin akan mendapat teguran keras. Akhirnya, setelah hanya tiga atau empat bulan bekerja, Ramadhan memutuskan untuk mengundurkan diri secara baik-baik dari pekerjaannya sebagai kepala toko sepatu Bata.

Atun, Sang Maesenas

Dalam buku Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari  (2022: 93). Ajip Rosijdi menceritakan kemurahan hati Ramadhan. Menurut dia, Ramadhan kerap memberikan uang muka kepada para pengarang atau pelukis yang datang membawa karangan atau sketsa untuk dimuat di Siasat.

Para pengarang dan seniman yang membutuhkan uang sering datang kepadanya. Kadang-kadang mereka memberikan jaminan berupa karangan seperti sajak, cerita pendek, terjemahan, esai, atau sketsa. Jika kemudian karangan atau sketsa tersebut dimuat, honor akan diperhitungkan dengan uang muka yang sudah diterima penciptanya, tentu saja tanpa bunga.

“Tidak hanya aku yang suka meminta uang muka honorarium atau meminjam uang kepada Atun. Boejoeng Saleh, Toto S. Bachtiar, Nashar, Sugiarta Sriwibawa, Wakidja, dan entah siapa lagi biasa melakukannya. Di kalangan seniman di Jakarta pada masa itu Atun dianggap sebagai Maecenas,” ujar Ajip dalam Buku Hidup Tanpa Ijazah yang Terekam dalam Kenangan (2018: 157).

Menurut Ajip, Ramadhan selalu berusaha membantu mereka yang memiliki potensi agar dapat mengembangkannya. Selama menjabat sebagai Sekretaris dan kemudian Direktur Pelaksana Dewan Kesenian Jakarta, Ramadhan banyak membantu seniman, baik muda maupun tua, menemukan tempat yang tepat untuk mengembangkan bakat mereka.

Ia juga berupaya mengatur agar mereka mendapat undangan ke Eropa atau Jepang, baik untuk belajar maupun mengikuti perjalanan singkat, yang bertujuan memperluas wawasan dan pemikiran mereka.

Dalam buku Ramadhan K.H. Tiga Perempat Abad (2002), beberapa orang mengungkapkan bahwa mereka pernah menerima bantuan dari Atun di saat membutuhkan, meskipun mereka tidak pernah memintanya secara langsung. Hal ini diakui, antara lain, oleh Saini K.M. dan Neneng Daningsih.

Seperti kata Ajip, kemurahan hati adalah nama lain dari Ramadhan. Kemurahan itu pula juga terjadi di toko sepatu yang dikelolanya. Ajip menyebut Atun sebagai orang yang pemurah dan selalu ingin membantu orang lain, termasuk dengan mengutangi mereka yang membutuhkan sepatu atau sandal. “Mungkin karena itu dia menjadi juragan sepatu Bata hanya tahan beberapa bulan,” ujar Ajip.

Kemurahan hati yang terus melekat pada pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, pada 16 Maret 1927, hingga dia wafat pada 16 Maret 2006 di Rumah Sakit Cape Town, Afrika Selatan, setelah menjalani perawatan akibat kanker prostat.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Malik Ibnu Zaman
Kelahiran Tegal Jawa Tengah. Menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online.


Editor: Fajar WH
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo