Tidak ada sejarah yang tumbuh tanpa petualangan jiwa. Tak ada pengetahuan yang lahir dari kehampaan. Ada langkah-langkah yang menapaki trotoar-trotoar sunyi di kota Wellington, ada mimpi-mimpi yang mengembara di tengah gerimis Jakarta, dan ada lembar-lembar arsip tua yang berdebu di Arnhem yang dibuka dengan tangan gemetar.
Di situlah benih-benih seorang sejarawan Asia Tenggara mulai tumbuh. Anthony John Stanhope Reid, anak lelaki dari Selandia Baru yang tanahnya nun jauh dari segala pusat kekuasaan kolonial, tumbuh dengan naluri ingin tahu yang tak pernah berhenti, dengan pelbagai pertanyaan yang mencuat dari celah ketidakpastian dunia.
Prof. Anthony Reid, Ph.D tidak dilahirkan sebagai sejarawan Asia Tenggara. Bahkan sejarah, pada awalnya, bukanlah jalur yang dipilihnya. Namun kehidupan bukanlah rel lurus yang bisa ditebak, ia lebih mirip sungai tua yang berkelok-kelok, membawa perahu kecil bernama “keingintahuan” menuju laut lepas yang belum bernama.
Perjalanan awal Tony Reid bukanlah tentang Asia, melainkan tentang pencarian makna di tengah reruntuhan dunia pasca-Perang Dunia II, tentang bagaimana sebuah negeri kecil di Pasifik Selatan mencoba memahami tempatnya di dunia.
Satu musim panas, seorang mahasiswa muda dari Victoria University of Wellington menghadiri kelas kecil yang diajarkan oleh Emily Sadka, seorang perempuan yang menyimpan sejarah Asia Tenggara dalam suaranya, seperti matahari pagi yang memanggil burung-burung untuk bernyanyi. Di sanalah, secara tidak terduga, sebuah pintu terbuka. Dari balik pintu itu, Asia Tenggara menatapnya. Bukan sebagai entitas eksotis, bukan pula sebagai objek imperial, tetapi sebagai lanskap hidup yang kaya, ribut, bergolak, dan penuh teka-teki.
Tatkala ia menjejakkan kaki di tanah Malaysia pada pertengahan 1960-an, dunia sedang menahan napas. Indonesia sedang berdarah, dan Malaysia baru saja kehilangan bagian tubuhnya bernama Singapura. Akan tetapi di tengah pusaran politik itu, Reid melihat lebih dari sekadar konflik. Ia melihat sejarah yang bernafas. Sejarah bukan yang tertulis dalam prasasti marmer, tetapi yang hidup di pasar, di kapal, di dalam rumah-rumah kayu yang menghadap laut. Ia tidak lagi ingin menulis sejarah dari menara gading; ia ingin menuliskannya dari tengah kehidupan.
Aceh, dengan segala misteri dan lukanya, menjadi titik tolak. Dari Aceh, ia mengupas lapis demi lapis kekuasaan kolonial, jaringan diplomasi, perang, dan pertarungan identitas. Namun Aceh bukan akhir, melainkan awal dari pergeseran. Dari sana, ia melihat bahwa sejarah tidaklah mengenal batas negara seperti yang digariskan peta kolonial. Bahwa laut bukanlah pemisah, melainkan penghubung. Bahwa kapal-kapal bukan hanya membawa rempah, tetapi juga agama, cerita, cinta, dan kehancuran. Dalam pendekatannya yang lintas batas itu, Reid menciptakan bukan hanya tulisan sejarah, tetapi kartografi jiwa dari kawasan yang selama ini diremehkan oleh sejarah global.
Di Canberra, tempat sunyi yang jauh dari Jakarta, Bangkok, dan Manila, Reid menulis dengan kegigihan seorang pendaki yang tak gentar pada batu terjal. Di sana, ia memetakan ulang abad-abad perdagangan, migrasi, dan perjumpaan di Asia Tenggara. Ia bukan hanya menulis perihal sultan dan kolonel, tetapi tentang budak yang tak disebut, tentang petani yang hidup dari pasang-surut, tentang perempuan yang membisikkan doa kepada angin sebelum berlayar. Lewat karyanya yang monumental Southeast Asia in the Age of Commerce, Reid menunjukkan bahwa Asia Tenggara bukanlah anak tiri sejarah dunia. Ia adalah simpul vital dari jaringan ekonomi dan budaya global, sebuah “Mediterania dua samudera” yang berdetak dalam irama monsun dan pelabuhan.
Sejarah bukan sekadar rangkaian tanggal dan nama dalam benak Reid. Ia adalah medan tempur antara ingatan dan pelupaan. Dan Reid memilih untuk berdiri di sisi yang mengingat. Ia mencatat suara mereka yang dibungkam, memberi bentuk pada bayangan-bayangan yang selama ini luput dari narasi besar kolonialisme. Ia mengubah cara pandang kita: bahwa Aceh bukan hanya tempat perang, tapi juga pusat intelektual dan diplomatik; bahwa Batavia bukan hanya markas VOC, tapi juga simpul dari migrasi Tionghoa, Arab, dan India; bahwa revolusi di Asia Tenggara bukanlah tiruan dari Paris atau Moskwa, melainkan ledakan dari sejarahnya sendiri.
Ketika ia pindah ke Universitas California Los Angeles, ia membawa serta pusat Asia Tenggara ke tengah kampus Amerika yang sibuk dan global. Ia tidak hanya mendirikan pusat kajian; ia menanamkan cinta. Cinta kepada kawasan yang selalu berada di pinggiran peta dunia, tapi di tengah denyut sejarahnya. Ia mempertemukan para sarjana muda dari Kamboja, Laos, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan Myanmar. Reid menyulap ruang-ruang akademik menjadi pelabuhan tempat gagasan-gagasan bertukar arah angin (Wade & Li, 2012, hlm. 12-13).
Namun kisah ini tak lengkap tanpa menyebut bahwa Reid adalah pejalan waktu. Bukan sekadar pengumpul dokumen atau pengurai kronologi. Ia adalah orang yang menulis sejarah dengan empati. Ia tidak hanya mengisahkan peristiwa; ia merasakan detaknya. Itulah sebabnya ketika ia menulis tentang Aceh, kita bisa mencium bau garam laut dan merasakan jerit para pejuang. Ketika ia menulis tentang perbudakan, kita mendengar rantai nan berderak. Tatkala ia menulis tentang pernikahan campur di Timor atau badai di perairan Manila, kita tidak membaca; kita ikut hadir (Andaya & Andaya, 2012, hlm. 221).
Dalam setiap halamannya, kita tahu satu hal pasti: bahwa sejarah yang ditulis dengan jujur akan selalu mengguncang. Bukan karena ia menciptakan konflik, tetapi karena ia menolak lupa. Reid, dalam seluruh lintasan hidupnya, telah mengajarkan bahwa menjadi sejarawan bukan berarti menjadi pengarsip masa lampau, tetapi menjadi saksi hidup masa depan. Ia menunjukkan bahwa sejarah bisa menjadi jembatan: antara masa, antara bangsa, antara luka dan penyembuhan.
Ia akhirnya kembali ke Canberra, pada usia yang biasa diisi dengan keheningan dan nostalgia, Reid tidak berhenti menulis. Ia tidak pensiun dari sejarah. Karena sejarah, baginya, adalah sesuatu yang terus bergerak, seperti gelombang yang tak pernah mati. Asia Tenggara, dengan segala kerumitannya, adalah samudra yang akan terus ia arungi—dengan pena, dengan cinta, dan dengan keberanian seorang pengembara yang tidak pernah puas hanya dengan peta lama.
Jejak yang Cair
Di dalam dunia yang kerap membingkai sejarah sebagai arsip batu, muncullah seorang sejarawan yang memilih mendengarkan desir ombak, aroma rempah, dan langkah kaki para pedagang yang melintasi Selat Malaka. Ia tak tertarik pada takhta, mahkota, atau drum parade kebangsaan. Justru Anthony Reid menyimak suara-suara yang remang, kisah-kisah yang tidak berjejak dalam kitab resmi: pekik para pelaut Bugis, napas petani Aceh, atau percakapan lirih di pelabuhan Makassar saat angin membawa kabar dari Gujarat dan Guangdong.
Menurut Robert Cribb, pemikiran Reid muncul seperti jembatan bambu yang lentur namun kokoh, menghubungkan sejarah dengan keramaian hidup yang tidak selalu tertulis. Historiografi Reid bergerak dari model sejarah konvensional ke pendekatan yang lebih dinamis dan porosnya bergeser dari daratan ke laut, dari elit ke rakyat biasa, dari negara ke jaringan. Ia bukan sekadar menulis ulang sejarah Asia Tenggara; ia mengusiknya, membongkarnya, menyusunnya kembali dalam bentuk mosaik yang lebih jujur dan kompleks. Dalam hal ihwal ini, kita tidak hanya melihat narasi, tetapi mengalami bagaimana sejarah itu sendiri bernapas (Cribb, 2012, hlm. 31).
Salah satu kekuatan terbesar dalam lensa Reid adalah kemampuannya memaknai Asia Tenggara bukan sebagai wilayah yang pasif—seperti sering digambarkan oleh wacana kolonial—melainkan sebagai sebuah ruang yang aktif bergerak, penuh interaksi dan konektivitas. Ia tidak melihat batas negara sebagai titik beku, melainkan sebagai ruang tembus pandang tempat pertemuan gagasan, barang, dan manusia. Maka sejarah bukan lagi milik negara atau penakluk, tetapi milik mereka yang bergerak: pedagang lada, pengembara, misionaris, buruh kontrak, dan perantau anonim yang melintasi selat dan pulau.
Dalam karya monumentalnya Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680, Reid memahat ulang imajinasi kita tentang kawasan ini. Ia menolak melihat Asia Tenggara sebagai periferi dunia, dan sebaliknya mengangkatnya sebagai panggung utama dalam drama sejarah global (Wade & Li, 2012, hlm. 36). Di tangannya, sejarah menjadi ekosistem, bukan kronologi. Ia menganyam jaringan perdagangan rempah, perbudakan, urbanisasi, dan perubahan iklim ke dalam satu narasi yang organik dan hidup. Bukan sekadar historiografi, tapi lanskap tempat hidup manusia bergulat dengan ekonomi, iman, dan kekuasaan.
Pengaruh pendekatan Annales School—dengan kepekaannya pada waktu panjang (la longue durée), sejarah sosial, dan ritme sehari-hari—terlihat kental dalam karya Reid. Namun alih-alih menjadi pengikut, Reid justru memperkaya tradisi itu dengan pengalaman khas Asia Tenggara. Jika Fernand Braudel menjelajah Laut Tengah sebagai pusat peradaban, maka Reid menjadikan Kepulauan Nusantara sebagai Laut Tengah-nya Asia: dinamis, penuh lalu lintas, dan jauh dari narasi beku kolonialisme Eropa.
Namun lebih dari sekadar metodologi, Cribb menunjukkan bahwa Reid telah memberikan satu hal yang sangat langka dalam dunia sejarah: keberanian untuk bersetia pada keragaman. Di dunia akademik yang sering kali tergoda untuk menyederhanakan, Reid justru memeluk kerumitan (Cribb, 2012, hlm. 40). Ia menyelami perbedaan dengan kelembutan, tak terburu-buru memberi label. Ia menulis dengan rasa ingin tahu, bukan dengan niat menghakimi. Inilah sebabnya mengapa tulisannya lebih menyerupai percakapan lintas waktu ketimbang perintah naratif.
Reid tidak hanya merangkul batas lintas negara, tetapi juga lintas disiplin. Sejarah dalam tangan Reid bukanlah bangunan monolitik, tetapi ruang dialog. Ia memperlakukan dokumen dan arsip bukan sebagai saksi bisu, tetapi sebagai artefak hidup yang bisa bercakap dengan legenda, mitos, dan tradisi lisan. Dalam cara ini, sejarah menjadi medan di mana masa lalu dan masa kini saling menyapa.
Salah satu inovasi besar Reid adalah bagaimana ia menaruh perhatian pada aktor-aktor marjinal dalam sejarah: perempuan, budak, orang asing, dan kelompok minoritas. Ia melihat bahwa sejarah bukan hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi oleh siapa yang mampu bertahan, beradaptasi, dan menciptakan kehidupan meski dalam batas-batas yang sempit. Dalam upaya ini, ia tidak sedang memuliakan penderitaan, tetapi menegaskan bahwa pengalaman manusia jauh lebih kaya daripada narasi negara.
Di tengah keraguan banyak sejarawan untuk menapaki ranah ekonomi, Reid justru menjadikannya poros dari pemahaman sosial-budaya. Baginya, perdagangan bukan sekadar angka, tapi denyut kehidupan. Ia menunjukkan bagaimana pasar bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga tempat pertemuan budaya, bahasa, dan keyakinan. Dalam pandangannya, rempah-rempah bukan hanya komoditas, tetapi simbol dari pertemuan global, hasrat kolonial, dan impian petani kecil.
Tony Reid wafat dalam usia delapan puluh enam tahun pada pukul 04.00 pagi hari Minggu, titimangsa 8 Juni 2025. Perjalanan intelektual Reid bukanlah garis lurus, tetapi spiral yang menembus batas-batas geografis dan mental. Ia tak puas hanya dengan menulis sejarah. Ia ingin membebaskan sejarah dari kurungannya, membiarkannya kembali ke jalanan, ke perkampungan nelayan, ke gang-gang kota pelabuhan. Ia ingin sejarah menjadi suara bagi yang tak punya suara, cahaya bagi mereka yang terhapus dari peta.
Akhirnya, dalam jejak legasi Reid, kita menyadari bahwa sejarah tidak pernah benar-benar paripurna. Ia selalu menunggu untuk ditafsirkan ulang, dilihat dari sisi liyan, diceritakan kembali dengan bahasa yang anyar. Andai kita mendengarkan dengan saksama, maka sejarah akan membisikkan bahwa Asia Tenggara bukanlah tempat yang tertinggal dari arus dunia, melainkan salah satu simpul terpenting dari jaringan global. Terdapat narasi besar yang selama ini mungkin kita lupakan di dalam suara-suara pasar, bau kayu manis, dan ombak yang mengantarkan perahu kecil.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus


