Dark
Light
Dark
Light

Jordi Cruyff, Pewaris yang Nahas

Jordi Cruyff, Pewaris yang Nahas

Mereka adalah pewaris yang tak beruntung. Darren Ferguson, sehebat apa pun yang dilakukan, orang lebih kenal ayahnya Sir Alex. Nigel Clough sangat disegani di liga-liga bawah Inggris, tetapi ayahnya Brian adalah pemenang dua Piala Eropa berturut-turut bersama Nottingham Forest.

Zinedine Zidane adalah contoh lain. Tak hanya sebagai pemain tapi juga ahli taktik. Dia merebut gelar juara La Liga, gelar Liga Champions berturut-turut, dan Piala Dunia Antarklub dalam kariernya yang singkat di pucuk pimpinan Real Madrid. Putranya, Enzo, malah memilih pensiun di usianya 29 tahun.

Memiliki ayah yang terkenal bak dua sisi koin. Bisa jadi anugerah sekaligus kutukan. Anak-anaknya mungkin mewarisi genetik tapi juga memikul beban berat. Konsekuensi yang harus ditanggung oleh mereka yang memilih jalur yang sama dengan sang ayah.

Pun dengan Jordi Cruyff. Dia menjalani karier yang tidak mengenakkan saat mengikuti jejak sang ayah, yang disegani dan ikonik sepanjang masa. Johan adalah pemenang Ballon d'Or tiga kali dan peletak Total Football yang terkenal.

Jordi bukannya tidak berbakat. Di jajaran akademi Ajax, ia menonjol.  Dia pun masuk ke tim inti ketika sang ayah menjadi manajer Barcelona. Namun yang terjadi kemudian, Johan hengkang dari klub raksasa Catalan itu. Jordi pun merasa tak lagi nyaman di sana.

Alex Ferguson semula bisa menjadi penyelamat. Dia datang ke Barcelona untuk menuntaskan kepindahannya ke Manchester United pada 1996. Jordi tampil cemerlang di Euro 96 jadi sebab Ferguson kesengsem.

Jordi resmi pindah ke Manchester dengan transfer 1,4 juta pound untuk bermain dalam empat musim. Dia menjalani awal yang baik. Tapi cedera kemudian membebat langkahnya.

Cedera lutut yang dideritanya pada November 1996, membuatnya kehilangan banyak laga. Cedera itu kambuhan dari yang dialami pada akhir 1995. Ayahnya menyatakan bahwa operasi itu memiliki konsekuensi yang mengerikan selama sisa kariernya.

Cedera satu hal. Banyak hal lain yang membuatnya tak bisa bersaing di klub itu. Generasi gelandang emas muncul di klub itu. Di sana ada David Beckham, Paul Scholes, dan Ryan Giggs. “Saya juga bisa bermain sebagai penyerang, tetapi ada Sheringham, Cantona, dan semua pemain hebat ini.”

Jordi melihat tersisihnya di sana sebagai sesuatu yang cukup adil buatnya. Dia pun memilih pergi. Spanyol, tujuan berikutnya. Bersama klub Alaves, dia menemukan dirinya. Di sana, dia melengkapi tim kuat yang berisi orang-orang buangan.

Selanjutnya dia menjelajahi berbagai negara. Dari Ukraina hingga Malta, negeri antah berantah dalam sepak bola Eropa hingga memutuskan pensiun, pada 2010. Jordi membuat kalimat panjang tentang ringkasan hidupnya di lapangan sepak bola.

“Ada dua jenis pemain sepak bola – legenda dan manusia biasa. Ayah saya adalah legenda dan saya manusia biasa. Legenda seperti ayah saya – mereka datang, mereka datang dan mereka bertahan. Saya adalah bagian dari mayoritas manusia – kita datang, kita berbuat, dan kita mati,” katanya.

***

Jordi tiba-tiba hadir di negeri. Selasa lalu, 25 Februari, sini. Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI), Selasa 25/02, menunjuknya sebagai penasehat teknis tim nasional Indonesia.  VoetbalPrimeur, media Belanda menulis aroma Belanda makin kencang di sepak bola Indonesia.

Garuda memang makin oranye. Sebelumnya, sejak awal tahun, PSSI telah mempekerjakan Patrick Kluivert sebagai pelatih kepala tim nasional Indonesia. Dia bekerja dibantu oleh tiga asisten, yakni Alex Pastoor, Denny Landzaat, dan Gerald Vanenburg.

Media lainnya, Voetbalzone menyebut faktor kedekatan dengan Kluivert yang membuat Jordi menerima pinangan Erick Thohir.  Namun tentu bukan soal kedekatan itu yang membuatnya terpilih.  

Jordi punya jejak panjang di manajerial di berbagai klub. Dia pernah menjabat sebagai pelatih dan direktur (teknik) di Valletta, AEK Larnaca, Maccabi Tel Aviv, Ekuador,  Shenzhen FC dan Chongqing, dan terakhir di Barcelona.

“Barcelona menghubungi saya ketika klub itu berada dalam situasi yang sangat sulit. Saya selalu akan menjawab panggilan itu, ada perasaan khusus untuk klub ini,” katanya tentang kisah bergabungnya dengan bekas klubnya pada 2022.  

Hanya setahun di sana, Jordi memutuskan untuk berhenti. Kepada The Athletic, dia menyebutkan alasannya yakni ingin kembali menjadi pelatih. Pekerjaan yang digeluti selama lima tahun sebelum bergabung di Camp Nou.  

Jordi menambahkan keputusan itu tidak diambil secara tergesa-gesa melainkan berkeliaran di kepalanya selama berbulan-bulan. “Itu tidak berarti saya tidak ingin bekerja sebagai direktur olahraga lagi,” katanya.  “Saya akan menganalisis berbagai pilihan dan memilih apa yang terasa tepat bagi saya.”

Lebih dari setahun dari keputusan itu, dia tak jua mendapatkan klub. Hingga akhirnya, seperti ditulis Voetbalzone, “Dia memulai petualangan baru bersama Indonesia.”

Setidaknya dia punya dua tugas. Pertama, dia jadi pengawas dan menjaga kesinambungan program-program kerja yang dijalankan PSSI. Kedua,  dia terlibat dalam pencarian orang yang tepat untuk menjabat sebagai Direktur Teknik Timnas Indonesia.

Jordi telah menempuh perjalanan yang panjang. Sepanjang itu pula dia tak pernah lepas dari bayang-bayang kehebatan sang ayah, Johan Cruyff. Kini, di usianya yang ke 51, dia tak hanya ingin melanjutkan tradisi keluarga yang membanggakan, tetapi juga dia sedang  memberi jejak untuk langkahnya sendiri lepas dari bayang-bayang, Johan Cruyff.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.


Editor: Fajar WH
Al-Quran Digital

Human Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo