Inter Miami tidak saja menyuguhkan kehebatan Lionel Messi tapi juga seorang pria kekar dengan gumpalan otot yang mengikutinya ke mana saja. Apakah pemain sepak bola benar-benar memerlukan perlindungan saat berada di lapangan?
Dia bukan asisten wasit atau hakim garis. Tapi sepanjang pertandingan, selama lebih dari 90 menit, dia berlarian di pinggir lapangan. Bukan pergerakan bola yang menjadi perhatiannya – layaknya ofisial pertandingan, melainkan Lionel Messi. Dia selalu berusaha berada di posisi terdekat posisi pemain bernomor punggung 10 klub Inter Miami itu.
Tugasnya, memang hanya untuk melindungi bintang berumur 36 tahun itu. Termasuk saat berada di lapangan. “Saya memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi Lionel Messi. Saya akan melakukan segalanya untuk memastikan keselamatannya,” katanya.
Lelaki itu bernama Yassine Cheuko. Umurnya lebih muda dua tahun dari Messi. Tugas si gundul dengan tubuhnya penuh benjolan otot itu memang menjaga Messi dengan segala cara dari orang-orang yang berusaha mendekatinya – kecuali saat merayakan gol. Untuk itu dia pun tidak boleh lengah.
Benar saja, dia teramat sigap. Saat digelar laga antara Inter Miami melawan Los Angeles FC (LAFC) pada Senin, (4/9/2023) lalu di BMO Stadium, datanglah seorang penyusup dengan mengenakan jersey Barcelona dengan nomor 10. Dia lolos dari pengawalan steward, pemuda gondrong itu masuk ke lapangan untuk memeluk Messi – idolanya.
Dia berlari sangat cepat. Namun Cheuko tak kalah. Dia berhasil menangkapnya hanya dengan hitungan detik sebelum si penyusup itu memeluk sang bintang. Satu dekapan saja, si penyusup itu dibuat tak berdaya. Dia kemudian menyerahkannya pada petugas berompi hijau. Setelah situasi bisa dikendalikan barulah dia mundur dari lapangan.
Seperti tidak ada apa-apa dia pun kembali ke posisinya semula, di pinggir lapangan. Dia kembali ke tugasnya semula, menjaga keamanan Messi. Tak boleh lagi ada penyusup. Wajahnya pun dipasang tak ramah, jarang senyum mampir di bibirnya, Cheuko tak pelak memberikan rasa ngeri bagi siapa pun yang mencoba untuk mendekati peraih tujuh Ballon D’Or itu.
Masuknya Cheuko ada sebabnya. Ketika Messi dipastikan menjadi pemain Inter Miami – setelah kontraknya dengan PSG habis, bos Inter Miami, Jorge Mas, langsung menyatakan pihaknya akan memberikan pengamanan yang super ketat pada bintang asal Argentina tersebut.
Seperti yang disampaikan pada jurnalis Miami Herald – peningkatan keamanan bagi La Pulga – julukan Messi, disebabkan karena teramat banyak warga Miami yang sangat mengagumi Messi dan mereka tahu bintang pujaannya itu bisa ditemui di kota itu.
Miami memang dekat dengan negara-negara Amerika Tengah – banyak ditinggali oleh kaum imigran yang berbahasa Spanyol. Meksiko yang paling banyak. Itu sebabnya, sepak bola di sana menjadi sangat populer.
Antusiasme warga di sana terhadap Messi pun tak perlu diragukan lagi. Sebelum berangkat ke Qatar untuk mengikuti Piala Dunia, akhir tahun lalu, tim Argentina sempat melakukan latihan dan uji coba di kota itu. Ketika itu, Messi diserbu oleh para penggemarnya yang telah menunggu depan pintu saat mereka latihan.
“Belajar dari itu, kami harus bersiap untuk pengamanan Messi. Keamanan jelas akan ditingkatkan. Semua protokol keamanan sudah disiapkan baik untuk pertandingan kandang maupun tandang. Dan, ingat pengawalan ini bukan hanya dilakukan saat kami bertanding tapi juga untuk Messi sehari-hari,” tutur Jorge Mas panjang lebar.
Tugas itulah yang kemudian diserahkan pada Cheuko. Menurut kabar untuk pekerjaan itu dia mendapatkan bayaran 250 ribu dolar AS (Rp 3,8 miliar) untuk tiap bulannya. Cheuko saat ini tinggal di Miami bersama istrinya dan dua anak mereka tentu saja senang dengan pekerjaan barunya itu. “Saya merasa terhormat untuk melindungi salah satu atlet terhebat yang pernah ada,” kata dia tentang pekerjaannya itu.

Siapakah Yassine Cheuko?
Si tubuh gempal kelahiran Kalifornia, Amerika Serikat, pada 1989 ini sempat disebut-sebut sebagai bekas anggota pasukan khusus atau Navy Seal. Banyak media menyebutkan dia pernah bertugas di Irak dan Afghanistan. Satu kehebatannya, dia memiliki keahlian dalam seni bela diri dan senjata api.
Namun dalam beberapa pekan lalu, The Daily Mail – situs berita asal Inggris mengecek kebenarannya kabar tersebut. Dengan melakukan wawancara dengan orang-orang yang disebut bertugas di pasukan khusus itu, kebanyakan dari mereka menggeleng kepala ketika ditanya soal jati diri Cheuko. Seorang juru bicara Angkatan Laut mengatakan mereka tidak dapat menemukan catatan apa pun tentang Yassine Chueko.
Jadi siapakah sebenarnya dia? Akun Instagram miliknya @yasstcheuko berbicara banyak tentang sosok Cheuko. Di sana, tertayang berbagai video tentang dirinya yang menampilkan ketangguhannya sebagai petarung bebas atau mixed martial arts, yang menakutkan.
Dalam satu video, terlihat dia menunjukkan kehebatannya menahan gempuran dari petarung lokal yang memukuli tubuhnya berulang kali. Di video yang lainnya, dia mampu membuat lawan knock out dalam waktu dua menit. Tendangan di kepala membuat lawannya rontok seketika.
Spesifikasi kehebatan yang berlebih sebenarnya. Mengawal Messi bukanlah menjaganya dari orang-orang kriminil. Bermain sepak bola hampir selama dua dekade di daratan Eropa, sama sekali tidak pernah mendapatkan ancaman fisik dari orang yang tidak suka pada dia, sekali pun.
Lagi pula, di ajang sepak bola, terkecuali – tragedi yang menimpa Andres Escobar – pemain Kolombia yang tewas ditembak di negerinya sendiri tak ada ancaman yang menakutkan. Escobar pun pengecualian saja.
Dia memang teramat sial. Dalam laga melawan tuan rumah Amerika Serikat, di Piala Dunia 1994, dia melakukan own goal atau gol bunuh diri. Kekalahan ini membuat Kolombia terbenam di dasar klasemen fase penyisihan dan membuat mereka pulang lebih cepat.
Setelah lima hari tiba kembali di kampung halamannya, di Medelin, Escobar pun mati. Pelakunya adalah seorang pejudi yang kalah banyak akibat kalah taruhan. Dia menganggap gol bunuh diri itu tak termaafkan. Dor! Escobar menjadi korban sia-sia.
Di Eropa nyaris tak ada peristiwa yang menakutkan semacam itu. Kalaulah ada, aksi yang terjadi di Camp Nou, Oktober 2003, satu yang pantas dicatat. Kala itu di sana tengah digelar laga El Clasico antara Real Madrid dan Barcelona.
Perhatian pendukung tuan rumah tertuju pada Luis Figo – yang sebelumnya sangat mereka sayangi. Pemain Portugal itu kemudian menyeberang ke Madrid – yang menjadi rival utama mereka. Figo pindah ke Real Madrid pada Agustus 2000 dengan transfer 58 juta Euro. Kebencian mereka pun memuncak dalam laga itu.
Saat Figo mengambil sepak pojok para penonton melempari apa saja. Botol minuman, koin, dan satu yang tak terduga: kepala babi. Figo memang dicap sebagai pengkhianat. Kepala babi – menurut mereka layak dilempar padanya.
Figo sama sekali tidak bereaksi. Dia mengaku mengetahui soal kepala babi itu selepas pertandingan usai. “Saya hanya berkonsentrasi pada tendangan sudut,” katanya. Setelah laga usai, tak ada ancaman untuk Figo. Kehidupannya pun biasa saja. Meski cap pengkhianat tetap berlaku untuknya.
Seperti Figo, bintang-bintang sepak bola pun tetap nyaman dan bisa menikmati hidupnya. Bahkan para bintang sepak bola Liga Inggris misalnya, mengendarai sendiri mobil saat pergi latihan bersama klub. Mereka, termasuk David Beckham – salah satu pemilik Inter Miami ketika masih menjadi pemain di Manchester United, tak memerlukan sopir apalagi pengawalan.
Ini Amerika, Bung!
Rupanya statusnya yang kini menjadi salah satu pemilik klub membuat Beckham memiliki cara pandang yang berbeda. Pemain –terutama sekelas Lionel Messi harus diberikan pengawalan nan ketat. Termasuk di dalam lapangan. Meski sebenarnya, kalau mau jujur, menjadi sangat jenaka.
Tugas Cheuko terlihat berlebihan. Di berbagai tayangan video di kanal Youtube terlihat dia berada tak pernah jauh dari posisi Messi. Tindakannya pun berlebihan. Saat menghampiri fans yang telah lama menanti, dia pun mendekat.
Penggemar Messi yang meminta berfoto bersama di dekatinya, meski hanya seorang bocah, bila dia menyentuh tubuh bosnya segera dia bergerak. Tangannya yang besar dan kuat memindahkan jari jemari si bocah dari punggung Messi. Berlebihan tentu saja.
Sebenarnya, pengamanan untuk Messi lebih diperlukan saat dia berada di luar lapangan atau jauh dari kamp latihan. Semisal saat dia berada di luar rumah bersama keluarganya. Meski pun sebenarnya, seperti bintang sports lainnya, Messi telah memiliki pengawal sendiri.
Namun ini Amerika, Bung! Di negeri yang sekarang tidak lagi bisa disebut super power lagi itu pertunjukan kehebatan adalan nomor satu. Di film-film Hollywood mereka mempertontonakn hegemoninya sebagai bangsa besar. Pun di dunia hiburan lainnya.
Di masa televisi menjadi primadona, dari negeri itu pula berhamburan program yang kemudian ramai dikenal dengan reality show. Film The Ed Show, menjadi sebuah cibiran terhadap industri televisi di AS kala itu.
The Ed Show – mengetengahkan sebuah kisah tentang Ed yang sepanjang 24 jam, kecuali saat mandi, direkam oleh kru televisi. Padahal Ed, bukanlah siapa-siapa dia hanya seorang pemuda dari keluarga yang sederhana. Namun ternyata kehidupannya, termasuk kisah kasih dengan pacarnya yang terancam putus menjadi kisah yang menarik untuk disimak.
Lionel Messi – tanpa si gundul Cheuko, telah menjadi hiburan yang sangat mengagumkan. Liuk tubuhnya di lapangan dengan sepakan yang kerap menjebol gawang sebenarnya sudah cukup untuk disaksikan jutaan pasang mata. Namun rupanya itu saja tidaklah cukup.
Perlu ada satu hiburan lain. Aktornya adalah Yassine Cheuko –yang sosok padat berisinya mempertontonkan kekuatan khas hiburan Amerika Serikat. Selain untuk mempertontonkan bahwa mereka teramat menjaga Messi mereka juga menyuguhkan sebuah drama lain di luar sang bintang.
Messi tak sepenuhnya diuntungkan dengan pengawalan yang super ketat itu. Cheuko jelas ketiban rezeki nomplok. Tak hanya mendapatkan gaji yang besar, popularitasnya pun melompat tinggi. Jumlah pengikutnya yang semula amat sedikit kini merangkak ke angka 20 ribu dan akan terus bertambah seiring dia muncul bersama sang bintang, Lionel Messi.
Irfan Budiman
Mantan wartawan dan penulis lepas di sejumlah media.
Editor: Muhammad Zunus


