Dark
Light
Dark
Light

Hadits yang (Paling) Sering Ibn Sina Kutip

Hadits yang (Paling) Sering Ibn Sina Kutip

“Kitab filsafat itu tidak mengutip Al-Qur’an dan hadits,” tegas rekan dosen senior di kampus saya bekerja. “Kalau ada yang begitu,” katanya, “itu kitab Kalam.”

Niat sang dosen bagus: mau membuat demarkasi yang tegas antara filsafat dalam Kalam. Namun, apabila niat ini diproyeksikan sebagai tesis sejarah atau pendekatan terhadap sejarah filsafat Islam, dia bermasalah: filsuf sebesar Ibn Sina dan Mulla Sadra menulis tafsir terhadap Al-Qur’an, Sadra juga menulis komentar terhadap Uṣūl al-Kāfī (kitab hadits terkenal dalam tradisi Syi‛ah), dan Ibn Sina cukup sering mengutip ayat Al-Qur’an dan hadits dalam karya-karyanya. Saat saya menyebutkan data seperti ini kepada sejawat dosen saya ini, dia hanya menjawab singkat, “Oh, betul ada itu?”

Dalam autobiografinya, Ibn Sina menyebut telah berhasil menghafal Al-Qur’an dan karya sastra pada umur sepuluh tahun. Kemudian dia belajar fikih kepada Isma‛il al-Zahid. Menurut Mustafa Jawad (1954, 268-269), Isma‛il adalah seorang fakih Hanafi termasyhur di Bukhara pada masanya. Dia juga meriwayatkan hadits dari banyak guru dan kepada murid-muridnya, di antaranya ahli hadits Baghdad ‘Abdul ‘Azīz al-Azjī dan kadi Muḥammad bin Aḥmad al-Simnānī. Jadi, sangat mungkin Ibn Sina juga belajar hadits kepada guru fikihnya itu.

Hadits yang tampaknya paling sering Ibn Sina kutip berkenaan dengan takdir manusia di akhirat. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim (2647), Sayyidina ‘Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, 

“Setiap diri dari kalian telah diketahui tempatnya dari surga dan neraka.” Mendengar sabda ini, para sahabat bertanya, “Lalu untuk apa kita beramal, ya Rasulullah? Apakah tidak sebaiknya kita berpasrah diri saja?” “Tidak,” jawab Nabi dengan tegas sembari menambahkan, “beramallah. Masing-masing dimudahkan untuk apa dia diciptakan (kullun muyassarun limā khuliqa lahu).” Rasulullah kemudian membaca ayat “Adapun orang yang memberi dan bertakwa dan membenarkan apa yang terindah” sampai “maka Kami mudahkan dia untuk yang tersulit” (Q.S. al-Lail: 5-10). 

Ibn Sina sering mengutip kalimat yang dicetak miring tadi, yaitu “kullun muyassarun limā khuliqa lahu”.

Jadi, dengan jelas hadits ini berkaitan dengan masalah takdir manusia, khususnya takdir eskatologis. Tuhan telah mengetahui takdir akhir seorang individu manusia. Namun, takdir akhir ini juga berkaitan dengan perbuatan dalam kehidupan dunia: “Masing-masing dimudahkan untuk apa dia diciptakan.” 

Dengan demikian, hadits ini juga menyiratkan bahwa setiap manusia telah punya tempatnya masing-masing dalam tatanan wujud dunia dan akhirat. Orang akan dimudahkan untuk menyukai dan melakukan sesuatu sesuai dengan tempatnya dalam tatanan itu.

Secara garis besar, Ibn Sina juga memahaminya demikian. Dia malah memperluas dengan menyebut bukan hanya takdir eskatologis, tetapi juga takdir kosmologis dan psikologis. Maksudnya, manusia sebagai spesies punya tempatnya yang khas dalam kosmos, posisi yang merentang luas dengan kemungkinan yang hampir tak terhitung, dan setiap individu telah dibekali dengan daya dan kemampuan tertentu untuk menjalani takdirnya yang spesifik dalam keluasan takdir spesiesnya.

Agar lebih konkret, mari perhatikan bagaimana Ibn Sina mengutipnya. Secara indeksikal, Ibn Sina mengutipnya dalam bagian al-Ilāhiyyāt (metafisika) dari al-Syifā’ dan al-Najāt, penutup seksi logika dan penutup namaṭ IX (tentang ‘makam-makam para arif’) dari al-Isyārāt wa al-Tanbīhāt, dan dalam Syarḥ Utsūlūjiyā Arisṭāṭālīs. Ibn Sina kadang mengutipnya secara verbatim dan kadang secara makna.

Dalam metafisika (Ilāhiyyāt, ed. Anawati, 422; Najāt, ed. Danishpazu, 680.14-19), Ibn Sina menyebut bahwa sistem kosmos dan relasi-relasi di dalamnya mengharuskan adanya keburukan, baik dalam jiwa (seperti kekufuran) dan badan (seperti penyakit). Jika tidak demikian, maka sistem kosmos tidak akan berdiri tegak. Ibn Sina kemudian mengutip dua hadits. 

Pertama hadits kudsi: “Aku ciptakan mereka untuk neraka, dan Aku tak peduli; dan Aku ciptakan mereka untuk surga, dan Aku tidak peduli” (H.R. al-Hākim). 

Kedua, hadits yang sedang kita bahas: “Masing-masing dimudahkan untuk apa dia diciptakan”. Jadi, dalam bagian metafisika, Ibn Sina dengan tegas mengafirmasi isi hadits apa adanya dan memberikan elaborasi dan justifikasi filosofis terhadapnya.

Masih dalam metafisika (Ilāhiyyāt, 443; Najāt, 712.3) Ibn Sina menegaskan, dalam konteks kenabian, bahwa seorang nabi mesti menyampaikan ajaran kepada umatnya sesuai kemampuan mereka. Dalam masalah teologi, mereka cukup mengajarkan bahwa Tuhan itu esa sejati dan tidak punya serupa. Keagungan Tuhan cukup dijelaskan melalui simbol-simbol. Pun kesenangan dan penderitaan akhirat cukup disampaikan melalui simbol.

Ibn Sina kemudian memberikan alasan mengapa demikian: karena “dalam kebijaksanaan Ilahi,” tulisnya, “tidak semuanya dimudahkan.” Maksudnya, tidak setiap orang mampu atau dimudahkan untuk memahami kebenaran apa adanya, kebenaran yang menurut Ibn Sina bersifat intelektual. Dengan kata lain, hanya sebagian kecil manusia mampu berfilsafat. Oleh karena itu, wajarlah para nabi lebih banyak berbicara dalam bahasa simbolik, bukan bahasa intelektual-filosofis, agar kebanyakan orang bisa memahami dan menerima ajarannya.

Jadi, dalam filsafat kenabian, Ibn Sina memperluas pemaknaan hadits itu dari konteks eskatologis ke konteks pedagogi religius, dari yang semula berkenaan dengan nasib individu di akhirat ke pengajaran agama sesuai dengan kemampuan umat untuk memahaminya.
 
Pemaknaan yang lebih luas itu juga Ibn Sina nyatakan dalam Isyārāt. Dalam penutup logika, Ibn Sina memberikan saran khusus kepada orang yang telah sangat intensif dan rinci mempelajari logika, tetapi masih saja keliru dalam berpikir. Isi sarannya tegas: dia mesti tinggalkan filsafat, karena “masing-masing dimudahkan untuk apa Tuhan menciptakannya”. Artinya, fakta bahwa orang masih belum mampu berpikir secara logis dan valid bahkan setelah ia menghabiskan banyak waktu berlelah-lelah mempelajari logika menandakan ia diciptakan bukan untuk filsafat.

Masih dalam Isyārāt, setelah diskusi tentang makam-makam para arif, Ibn Sina mengakui orang bisa saja merasa aneh dengan diskusi semacam itu. Kepada yang merasa demikian, Ibn Sina memberi masukan agar dia mencurigai dirinya: jangan-jangan dirinya memang tidak cocok atau layak untuk pengetahuan filosofis. Dan ini wajar saja karena, lagi, “masing-masing dimudahkan untuk apa dia diciptakan”. Karena makam-makam para arif itu berkenaan dengan cara atau jalan untuk mendekat kepada sang Nyata, Ibn Sina juga mengimplikasikan bahwa jalan itu tidaklah untuk setiap orang.

Terakhir, dalam Syarḥ Utsūlūjiyā Arisṭāṭālīs (ed. Badawi, 44), Ibn Sina membedakan antara dua mode (atau metode) pengetahuan tentang kenikmatan intelektual atau rohani (al-ladzdzah al-‘aqliyyah). Menurutnya, kenikmatan ini bisa diketahui melalui silogisme rasional, tetapi silogisme hanya mampu menunjukkan bahwa kenikmatan semacam itu ada dan bahkan merupakan kenikmatan tertinggi.

Mode lain adalah penyaksian dan pengalaman langsung (musyāhadah, mubāsyarah) yang mampu menyingkapkan apa yang silogisme tidak bisa raih. Ibn Sina mengakhiri diskusinya tentang dua mode pengetahuan ini dengan pengutipan maknawi terhadap hadits: “Dan tidak setiap orang dimudahkan untuknya”.

Singkatnya, Ibn Sina memahami hadits di atas dalam kerangka hubungan yang lebih erat antara filsafat jiwa, eskatologi, dan pedagogi. Dalam pandangannya, setiap jiwa telah dibekali dengan daya-daya, kecenderungan, dan kemampuan yang berbeda-beda. Daya-daya dan kemampuan itu akan memudahkan masing-masing jiwa untuk menjalani dan menempati posisinya dalam skema ‘kebijaksanaan ilahi’. Para nabi —dan juga para guru pada umumnya— mesti peka pada perbedaan itu kalau mau pengajarannya efektif.

Ada beberapa benang merah yang bisa ditarik dari cara Ibn Sina mengutip hadits di atas. Pertama terkait metode berfilsafat: para filsuf Muslim berfilsafat tidak dengan memegang asumsi kaku bahwa filsafat mesti melulu ‘argumentatif’ dan tidak boleh ada aspek wahyu sama sekali di dalamnya. Sebaliknya, mereka, khususnya Ibn Sina, berupaya keras untuk memahami dan menjelaskan wahyu melalui filsafat sambil sekaligus berfilsafat dengan inspirasi dari wahyu—dan semua ini tanpa sedikit pun mengurangi intensitas pengaruh dan dialog dengan filsafat dari budaya yang lain. Memang, pada akhirnya, Ibn Sina akan menyatakan bahwa filsafat (dari mana pun asalnya) dan wahyu bermuara pada satu sumber yang sama: malaikat (atau akal aktif) sebagai sumber terdekat dan Tuhan, sang Akal, sebagai Sumber Pertama.

Yang kedua berkenaan dengan doktrin. Sekitar 30 tahun lalu, Prof. Harun Nasution (Islam Rasional, 112-118) membuat pembedaan antara (1) teologi Sunnatullah yang rasional dan menolak konsep takdir dan (2) teologi Jabariyah yang kurang (atau malah tidak) rasional dan percaya pada takdir. Uraian Prof. Harun menyiratkan Ibn Sina memegang teologi Sunnatullah. Afirmasi Ibn Sina terhadap hadits di atas menyiratkan sebaliknya: dia menerima dan percaya pada konsep takdir. Tetapi, mari simpan ini untuk lain cerita di lain waktu.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Wawan Kurniawan
Dosen Ushuluddin UIN Jakarta


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo