Arina.id - Nabi Adam adalah manusia sekaligus nabi pertama yang diciptakan oleh Allah. Sebagaimana umumnya utusan Allah, Nabi Adam pun mempunyai akhlak mulia yang bisa dijadikan teladan oleh umat Islam. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nasha’ihul Ibad (Semarang, Karya Thoha Putra: t.t), h. 38, menjelaskan, ada 5 akhlak Nabi Adam yang membuatnya mulia dan mendapatkan kebahagiaan, yakni sebagaimana berikut:
1. Mengakui dosa
Saat di surga, Nabi Adam dilarang untuk mendekati area terlarang, yaitu pohon Khuldi. Namun, Iblis dengan segala tipu dayanya berhasil menggoda hingga Nabi Adam terperdaya dan melanggar larangan tersebut.
Konsekuensinya, Nabi Adam pun dihukum oleh Allah karena melakukan pelanggaran, yaitu mendekati bahkan sampai memakan buah Khuldi. Dalam kondisi ini, Nabi Adam pun mengakui kesalahannya di hadapan Allah dan memohon ampunan kepada-Nya.
Terkadang, sikap kesatria yang ditunjukkan Nabi Adam ini tidak diteladani oleh umat manusia yang menjadi keturunannya. Alih-alih mengakui dosa dan kesalahan, sering kali sebagian orang justru sibuk mencari alasan yang dijadikan sebagai pembenaran atas kesalahan yang dilakukan.
2. Menyalahkan Diri Sendiri
Kesalahan yang dilakukan Nabi Adam sebenarnya tidak lepas dari tipu daya iblis. Namun alih-alih menyalahkan iblis yang dengan nyata menggoda dan menjebaknya, Nabi Adam justru mencela dirinya sendiri tanpa sedikit pun menyalahkan pihak lain, dalam hal ini adalah iblis.
Sikapnya ini tergambar dalam doa Nabi Adam yang termaktub dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 23 sebagaimana berikut:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: “Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."
Lagi-lagi sikap kesatria Nabi Adam ini jarang diteladani oleh mayoritas umat manusia. Ketika seseorang melakukan dosa atau kesalahan, alih-alih melakukan introspeksi dan bertanggung jawab, kesalahan itu malah dilemparkan kepada orang lain.
Sikap seperti ini berlawanan dengan keteladanan Nabi Adam yang memilih menyalahkan dirinya sendiri tanpa mencari sosok yang menjadi kambing hitam.
3. Menyesali Dosa
Selain mengakui dosa dan tidak menyalahkan pihak lain, Nabi Adam juga menunjukkan penyesalannya atas perbuatan dosa yang dilakukan. Dengan penuh kesadaran dan kesedihan, Nabi Adam menyesali perbuatannya yang telah melanggar perintah Allah. Penyesalan ini merupakan salah satu syarat dalam melakukan taubatan nasuha.
Sementara itu, tidak sedikit manusia yang telah berbuat dosa dan kesalahan namun sama sekali tidak menyesalinya bahkan menganggap sepele terhadap dosa tersebut. Ketika seseorang sudah menganggap sepele terhadap perbuatan dosa, ia akan cenderung mengulanginya terus-menerus hingga akhirnya dosa tersebut menjadi besar.
4. Segera Bertobat
Usai menyadari dan menyesali kesalahan yang telah dibuat, Nabi Adam pun segera bertobat dan memohon ampunan kepada Allah dengan penuh kerendahan hati. Sikap Nabi Adam ini menunjukkan bahwa memperbaiki diri harus segera dilakukan karena jika tobat ditunda belum tentu ada kesempatan untuk melakukannya.
Di sisi lain, ada sebagian orang yang telah berbuat maksiat namun memilih untuk menunda bertobat karena merasa waktu dan kesempatannya masih banyak. Padahal tidak ada yang tahu kapan umur seseorang akan berakhir. Selain itu, menunda tobat juga bisa membuat dosa semakin menumpuk dan merasa bahwa dosanya seolah sudah tidak ada.
5. Tidak Putus Asa
Walaupun telah melakukan kesalahan dan dikeluarkan dari surga, Nabi Adam tidak pernah merasa putus asa dari rahmat Allah. Ia meyakini bahwa Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Benar saja, Allah pun mengampuni Nabi Adam dan menerima tobatnya, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 37:
فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Artinya: “Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
Optimisme spiritual yang dicontohkan Nabi Adam ini perlu ditanamkan dalam diri umat Islam. Pasalnya, ketika seseorang sudah optimis tentang luasnya rahmat dan ampunan Allah, ia akan termotivasi untuk memperbaiki diri, bangkit dari kesalahan, dan mulai mendekatkan diri kepada Allah.
Sebaliknya, ketika seseorang telah pesimis, dia akan terjerembap dalam gelimang dosa karena menganggap dirinya sudah terlanjur salah dan meyakini bahwa Allah tidak akan mengampuninya.
Demikian 5 akhlak mulia Nabi Adam yang perlu diteladani umat islam. Melalui keteladanan tersebut, seorang Muslim dapat mengambil hikmah bahwa kemuliaan seorang hamba tidak dinilai dari bersihnya dosa dalam dirinya, melainkan dari bagaimana ia mampu mengakui kesalahan, tidak menyalahkan orang lain, menyesali dan bertanggung jawab atas kesalahan, segera melakukan tobat, dan tetap optimis dan yakin bahwa rahmat serta ampunan Allah itu sangat luas. Wallahu a’lam.
Editor: Muhammad Faizin


