Arina.id - Pendidikan akhlak bagi anak merupakan upaya penting dalam membentuk kepribadiannya. Di sisi lain, keluarga memiliki peran penting sebagai lembaga pendidikan pertama. Pasalnya, nilai-nilai moral yang diajarkan oleh orang tua di rumah akan membentuk karakter dan pandangan hidup anak dalam menghadapi tantangan kehidupan dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam satu hadits diriwayatkan:
عن أيوب بن موسى عن أبيه عن جده رضي الله عنهما، عن رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم أنَّه قال: «مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ»
Artinya, “Dari Ayyub bin Musa, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada pemberian berupa akhlak yang baik.”
Untuk membentuk akhlak yang baik pada anak, setidaknya ada 4 kiat mendidik anak menurut Islam yang wajib diketahui oleh para orang tua, yaitu:
1. Menjadi Teladan yang Baik
Anak-anak adalah peniru ulung, mereka belajar lebih banyak pada sesuatu yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi teladan utama dalam kehidupan sehari-hari. Menunjukkan perilaku jujur, adil, sabar, dan penuh kasih sayang akan meninggalkan kesan mendalam dalam jiwa anak. Anak akan lebih mudah meneladani sikap positif yang diperlihatkan secara nyata oleh kedua orang tuanya.
Dalam satu riwayat disebutkan:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال النّبيّ صلّى الله عليه وآله وسلّم: «كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ؛ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ» متفق عليه
Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi saw bersabda, “Setiap anak yang lahir, terlahir dalam keadaan fitrah. Namun kedua orang tuanya yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Hadis ini disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dari hadits ini dapat dipahami bahwa orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan keyakinan anak. Meskipun anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (masih bersih secara moral), lingkungan dan pendidikan yang diberikan orang tua akan membentuknya. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi teladan yang baik dalam segala aspek kehidupan, karena perilaku mereka akan membimbing anak untuk meniru dan mengikuti nilai-nilai yang diajarkan.
2. Menanamkan Nilai Moral
Pendidikan akhlak harus dimulai sejak usia dini. Anak-anak kecil memiliki hati yang bersih dan siap menerima nilai-nilai baik yang diajarkan. Orang tua perlu mengajarkan konsep kejujuran, rasa hormat, tanggung jawab, dan empati sejak awal. Menceritakan kisah-kisah inspiratif, membimbing dalam beribadah, serta membiasakan ucapan dan perilaku sopan menjadi langkah efektif dalam membangun karakter mulia pada anak-anak. Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumiddin pernah berpesan:
اعلم أنَّ الصبي أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ، وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ سَاذَجَةٌ خَالِيَةٌ عَنْ كُلِّ نَقْشٍ وَصُورَةٍ، وَهُوَ قَابِلٌ لِكُلِّ مَا نُقِشَ، وَمَائِلٌ إِلَى كُلِّ مَا يُمَالُ بِهِ إِلَيْهِ؛ فَإِنْ عُوِّدَ الْخَيْرَ وَعُلِّمَهُ نَشَأَ عَلَيْهِ، وَسَعِدَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وشاركه في ثوابه أبوه
Artinya, “Ketahuilah bahwa anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci bagaikan permata yang berharga, polos, dan bersih dari segala ukiran dan gambar. Ia siap menerima segala bentuk pengaruh yang ditanamkan padanya dan cenderung mengikuti arah yang dibimbingkan kepadanya. Jika ia dibiasakan dengan kebaikan dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh di atas kebaikan itu, berbahagia di dunia dan akhirat, dan orang tuanya akan mendapatkan bagian pahala dari kebaikannya.” (Al-Ghazali, 2016: juz 1, h. 93)
Dari paparan Al-Ghazali ini dapat dipahami bahwa anak-anak memiliki hati yang bersih dan siap menerima pengaruh yang diajarkan oleh orang tuanya. Oleh karena itu, pendidikan moral sejak dini sangat penting. Jika anak dibiasakan dengan nilai-nilai baik seperti kebaikan dan kejujuran, mereka akan tumbuh menjadi individu yang berbudi pekerti luhur, serta membawa kebahagiaan dunia dan akhirat bagi dirinya dan orang tuanya.
3. Memberikan Pengawasan
Anak membutuhkan bimbingan yang berkelanjutan untuk tumbuh dengan akhlak yang baik. Orang tua harus terlibat aktif dalam kehidupan anak, memperhatikan tingkah laku mereka, dan mengarahkan bila terjadi penyimpangan. Pengawasan bukan berarti mengekang, melainkan mendampingi dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan. Memberikan arahan yang tepat di saat yang tepat akan membantu anak tumbuh dalam suasana aman dan penuh perhatian.
Hal ini juga menjadi perhatian bagi Rasulullah. Dalam satu riwayat disebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ رضي الله عنهما أَخَذَ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ وَجَعَلَهَا فِي فِيهِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وآله وسلّم: «كِخْ كِخْ» لِيَطْرَحَهَا، ثُمَّ قَالَ: «أَمَا شَعَرْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ» أخرجه الشيخان
Artinya, “Dari Abu Hurairah, ia berkata: Hasan bin Ali RA mengambil sebutir kurma dari tumpukan kurma sedekah lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Maka Nabi saw berkata kepadanya, “Kih, kih!” untuk menyuruhnya membuangnya. Setelah itu beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan sedekah?” (HR Bukhari Muslim)
4. Memilih Lingkungan yang Positif
Lingkungan tempat anak tumbuh memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan moralnya. Orang tua perlu memastikan anak-anak berada dalam lingkungan yang sehat, baik di rumah, sekolah, maupun dalam pergaulan. Memilihkan teman yang baik, komunitas yang mendukung, serta aktivitas yang positif akan membentuk kepribadian anak menjadi lebih kuat. Lingkungan yang baik menjadi benteng penting dari pengaruh negatif zaman sekarang.
Dalam satu hadits disebutkan:
وعن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه: أنَّ النبي صلّى الله عليه وآله وسلّم قال: «إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ؛ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ؛ فَحَامِلُ الْمِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا مُنْتِنَةً» متفق عليه
Artinya, “Dari Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata: Nabi bersabda, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi itu, bisa jadi ia memberimu minyak wangi, atau kamu membeli darinya, atau setidaknya kamu mencium aroma harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi ia membakar pakaianmu, atau kamu mencium bau yang tidak sedap darinya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dari hadits ini dapat dipahami bahwa lingkungan yang baik, baik dalam bentuk teman maupun komunitas, memiliki dampak besar terhadap pembentukan moral anak. Teman yang baik akan membawa pengaruh positif, seperti halnya pembawa minyak wangi yang memberi manfaat. Sebaliknya, teman yang buruk dapat merusak dan membawa dampak negatif, seperti pandai besi yang bisa membakar atau memberi bau tidak sedap. Oleh karena itu, memilihkan lingkungan yang positif sangat penting.
Sebagai penutup, mendidik anak dengan nilai akhlak dan moral yang baik merupakan tugas besar bagi orang tua. Dengan menjadi teladan yang baik, menanamkan nilai-nilai sejak dini, memberikan pengawasan yang bijaksana, dan memilihkan lingkungan yang positif, orang tua dapat membentuk karakter anak yang kuat dan penuh kebaikan. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi individu yang berbudi pekerti luhur, siap menghadapi tantangan hidup, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Aiz Luthfi


