Setiap musim haji, jutaan umat Islam dari seluruh dunia berangkat menuju Makkah. Mereka datang dengan pesawat modern, fasilitas hotel berbintang, dan layanan teknologi canggih. Tapi di balik semua kemegahan itu, ada satu kisah awal yang sangat sederhana namun penuh makna:
Kisah Nabi Ibrahim AS, Hajar, dan bayi kecil Ismail yang ditinggalkan di sebuah lembah tandus.
Lembah itu dulunya tak ada tanaman, tak ada air, dan tak ada manusia. Tapi dari tempat yang “mustahil” itu, kini berdiri kota Makkah, poros ibadah dan simbol persatuan umat Islam. Semua itu bermula dari satu doa yang penuh pengharapan, sebagaimana direkam dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 37:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati (Baitullah), ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Dalam Tafsir al-Ṭabarī, ayat ini diceritakan dalam konteks sangat mengharukan. Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail kecil ke sebuah lembah gersang yang sekarang dikenal sebagai Makkah. Ketika Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Dengan tenang Hajar berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”
Setelah meninggalkan mereka, Ibrahim menengok dari kejauhan dan memanjatkan doa. Ia memohon tiga hal besar yakni agar keturunannya menegakkan sholat di tempat itu, agar hati manusia tertarik dan datang ke sana, dan agar Allah memberikan rezeki berupa buah-buahan (tsamarāt) meski tanahnya gersang.
Dari situlah muncul kisah Zamzam, saat Ismail menangis kehausan dan Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah. Dalam versi tafsir ini, dikisahkan bahwa ketika Hajar mendengar suara, ia sempat ragu apakah itu nyata. Tapi kemudian Allah mengirim malaikat Jibril yang menghentakkan kakinya, dan keluarlah air zamzam.
Rasulullah pernah bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ أُمَّ إِسْمَاعِيلَ، لَوْ تَرَكَتْ زَمْزَمَ لَكَانَتْ مَعِينًا
“Semoga Allah merahmati ibunda Ismail. Kalau saja ia tidak menampung air Zamzam itu, niscaya airnya akan terus mengalir seperti sungai.”
Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa kata “tsamarāt” tidak hanya bermakna buah-buahan dalam arti harfiah, tetapi juga segala jenis rezeki dan kenikmatan dunia. Meski Makkah adalah lembah yang kering, Allah mengabulkan doa Ibrahim. Bahkan hingga hari ini, berbagai jenis buah dan makanan dari seluruh dunia tersedia di Makkah, sesuatu yang mustahil terjadi tanpa izin dan karunia-Nya.
Bahkan dalam riwayat disebut, buah-buahan dan hasil pertanian dari daerah seperti Palestina dan Thaif dipindahkan ke Makkah sebagai bagian dari pengabulan doa ini. Dari tanah yang tak bisa menanam, Allah datangkan hasil bumi dari penjuru dunia.
Frasa “أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ” bermakna bahwa hanya sebagian hati manusia yang akan Allah gerakkan untuk mencintai dan mengunjungi tempat itu. Al-Ṭabarī menjelaskan, andai Allah berkata “seluruh manusia”, maka orang-orang dari berbagai agama pun akan mendatanginya.
“Bukan semua orang akan mencintai Makkah, tetapi orang-orang yang dipilih Allah-lah yang akan rindu ke sana.”
Inilah mengapa meskipun tidak ada iklan besar, tidak ada ajakan paksa, jutaan umat Islam selalu rindu ingin kembali ke Makkah. Itu adalah bagian dari doa Nabi Ibrahim yang hidup sampai hari ini.
Kisah ini memberi pelajaran besar bagi kita hari ini. Dari satu doa yang tulus, dari tanah yang kering dan tak menjanjikan, Allah hadirkan kehidupan, air, pengunjung dari seluruh dunia, dan buah-buahan yang berlimpah.
Pertanyaannya:
Sudahkah sholat menjadi pusat hidup kita sebagaimana harapan Nabi Ibrahim?
Sudahkah hati kita tertarik pada Makkah dan nilai-nilai yang diwakilinya?
Sudahkah kita bersyukur atas “tsamarāt” yang Allah beri dalam hidup kita: makanan, waktu, keluarga, ilmu?
اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ
Artinya: “Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia adalah yang di Bakkah (Makkah), penuh berkah dan petunjuk bagi seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran: 96)
Nabi bersabda: “Aku adalah jawaban dari doa ayahku Ibrahim, kabar gembira dari Nabi Isa, dan mimpi dari ibuku.” (HR. Ahmad)
Semoga kita termasuk orang-orang yang hatinya selalu tahwī ilal haram, tertambat pada Makkah dan kepada Allah yang menghidupkan lembah yang dulu gersang menjadi tempat paling mulia di muka bumi.
Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin


