Dark
Light
Dark
Light

Laut yang Merindu, Jemaah Haji yang Berlayar di Abad Ke-19

Laut yang Merindu, Jemaah Haji yang Berlayar di Abad Ke-19

Di bawah langit yang kelabu, di mana awan bergulung seperti ombak yang enggan reda, sebuah kapal tua bernama Bintang Arafah berderit pelan di pelabuhan Banten, tahun 1890. Kayunya, yang telah dipahat oleh garam dan waktu, menyimpan rahasia seribu doa, seribu air mata, dan seribu harapan. Di deknya, ratusan jemaah haji dari Nusantara—dari kampung-kampung di Jawa, Sumatera, hingga pulau-pulau kecil di Maluku—berkumpul, membawa peti-peti lusuh dan impian yang lebih berat daripada beban yang mereka pikul. Mereka adalah para peziarah, yang dalam keringat dan mimpi mereka, tanah suci Makkah adalah tujuan akhir sekaligus awal dari segalanya. Namun, laut yang membentang di hadapan mereka, luas dan tak kenal ampun, adalah penguji iman yang tak pernah tidur. Dalam karya-karya Eric Tagliacozzo—The Longest Journey: Southeast Asians and the Pilgrimage to Mecca (2013), Secret Trades, Porous Borders: Smuggling and States Along a Southeast Asian Frontier, 1865-1915 (2005), dan The Hajj: Pilgrimage in Islam (2016)—kisah suka-duka perjalanan haji di laut ini terangkai, bukan hanya sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai lukisan hidup tentang manusia yang terombang-ambing antara rindu dan rintangan, antara keberangkatan dan kepulangan.

Alkisah, kapal Bintang Arafah adalah dunia kecil yang penuh warna dan derita, sebuah mikrokosmos di mana harapan dan keputusasaan bercampur seperti air laut dan hujan. Di bawah dek, udara pengap bercampur dengan bau keringat, ikan asin, dan muntah, menciptakan kabut yang seolah hidup. Jemaah tidur berimpitan, berbagi ruang dengan tikus dan kecoa yang menjadi penumpang abadi. Haji Syamsuddin, seorang petani tembakau dari Cirebon, menjual seluruh ladangnya demi tiket kapal. Matanya yang cekung menyimpan kilau harapan, seolah ia bisa melihat Ka’bah di cakrawala, meski kabut laut menutupi segalanya (2013: 45). Di sisinya, seorang janda tua bernama Hajjah Rahmah memeluk tasbihnya erat-erat, berbisik pada angin agar anaknya, yang hilang dalam perjalanan haji sepuluh tahun lalu, masih hidup di suatu tempat, mungkin di Jeddah, mungkin di surga (2016: 67).

Seorang anak kecil bernama Ilyas, yang ikut bersama ayahnya, seorang tukang kayu bernama Hamid, memandang lubang kecil di dinding kapal, berharap ikan-ikan yang melompat di laut membawa pesan dari Tuhan. “Ayah, apakah laut ini juga suci?” tanyanya suatu malam, saat badai mengguncang kapal hingga papan-papan berderit seperti jeritan. Hamid hanya tersenyum, “Laut ini adalah cermin, Nak. Ia menunjukkan siapa kita sebenarnya” (2005: 89).

Di sudut lain, seorang pemuda bernama Farid, yang baru saja bertobat setelah hidup sebagai penjudi di Surabaya, duduk sendirian, mencatat setiap doa yang ia panjatkan dalam buku kecil, seolah kata-kata itu bisa menghapus noda masa lalunya. Buku itu, yang kini berlumur garam, adalah satu-satunya harta yang ia bawa, lebih berharga daripada koin yang pernah ia menangkan.

Di dek atas, seorang perempuan tua bernama Hajjah Naimah, yang dikenal sebagai penenun kain di kampungnya di Lombok, menghibur jemaah dengan cerita-cerita tentang para nabi dan wali. Suaranya, yang lembut namun penuh semangat, mengalir seperti sungai, membuat jemaah lupa sejenak pada mabuk laut dan kelaparan. “Laut ini seperti hidup,” katanya kepada seorang jemaah muda yang muntah di sisinya, “kadang ia memelukmu, kadang ia memukulmu” (2013: 78). Di antara mereka, ada pula seorang ulama muda dari Banjarmasin, Haji Idris, yang setiap pagi memimpin doa dengan suara yang serak namun menggetarkan, seolah menantang laut untuk mendengar.

Laut sebagai Penguji Iman

Tagliacozzo menuliskan bahwa (2013: 23). Kapal-kapal yang membawa jemaah, sering dimiliki oleh perusahaan kolonial Belanda atau Inggris, adalah alat bisnis, bukan sarana ibadah. Tiket dijual dengan harga selangit, dan kapal-kapal itu sering kali tidak layak laut, penuh sesak melebihi kapasitas.

Dalam satu catatan, sebuah kapal yang berlayar dari Batavia pada 1887 tenggelam di Selat Malaka, membawa 310 jiwa ke dasar laut (2016: 89). Berita itu menyebar ke kampung-kampung, namun tak pernah menghentikan para jemaah. “Makkah adalah rumah Tuhan, dan laut adalah pintunya,” kata seorang kiai dari Banten, dan kata-kata itu menjadi mantra yang mengalir di hati mereka (2005: 112).

Badai bisa datang tanpa peringatan, merobek layar dan membanjiri dek. Penyakit seperti kolera dan demam menyebar di ruang sempit, mengubah perjalanan suci menjadi perjuangan untuk bertahan hidup. Haji Syamsuddin, yang awalnya penuh semangat, jatuh sakit setelah tiga minggu di laut, tubuhnya melemah oleh demam. Hajjah Rahmah, dengan tangan gemetar, merawatnya, memberi air dari cadangannya yang sudah keruh, seolah kebaikan itu bisa membawa anaknya kembali (2013: 101). Di malam yang kelam, seorang jemaah tua bernama Pak Haji Yusuf meninggal dalam tidurnya. Tubuhnya dibungkus kain kafan darurat dan diserahkan ke laut, diiringi doa yang terputus oleh isak tangis. “Ia telah sampai,” kata kapten kapal, seorang Belanda bernama Willem van der Berg, yang berbicara dengan nada datar, seolah kematian adalah catatan kecil dalam buku lognya (2016: 123).

Laut, sebagaimana dicatat Tagliacozzo, bukan hanya rintangan fisik, tetapi juga ruang spiritual dan sosial (2005: 134). Di kapal, hierarki masyarakat sering kali runtuh. Seorang bangsawan dari Yogyakarta, yang biasanya duduk di atas dipan kayu jati, kini berbagi tikar dengan seorang petani dari Madura. Haji Idris, ulama muda itu, mendengarkan keluh kesah seorang janda miskin dari Sumbawa, yang bercerita tentang anaknya yang tak pernah kembali dari haji. Dalam ruang sempit itu, mereka belajar tentang sabar, tentang berbagi, dan tentang kemanusiaan. Namun, laut juga memperlihatkan sisi gelap kolonialisme. Kapal-kapal itu, meski membawa jemaah menuju tanah suci, adalah alat keuntungan bagi perusahaan Eropa. Di pelabuhan Jeddah, jemaah harus menghadapi birokrasi yang rumit, pajak yang memberatkan, dan kadang-kadang pelecehan dari petugas pelabuhan. “Kami datang untuk beribadah, tetapi mereka melihat kami sebagai domba,” tulis seorang jemaah dalam surat yang dikutip Tagliacozzo (2016: 156).

Di tengah derita, ada momen-momen yang seolah ditulis oleh tangan tak kasatmata. Suatu malam, ketika Bintang Arafah terombang-ambing di Laut India, Haji Idris berdiri dan menyanyi. Suaranya, yang biasanya serak oleh asap tembakau, malam itu mengalir seperti sungai, merangkai syair tentang rindu kepada Tuhan. Seluruh kapal terdiam, bahkan ombak seolah mendengar. “Malam itu, kami lupa kami lapar,” kata seorang jemaah dari Jawa, yang kemudian menceritakan kisah itu kepada anak-cucunya (2013: 167). Nyanyian itu, yang bergema di tengah kegelapan, menjadi mercusuar bagi jiwa-jiwa yang lelah, seolah Tuhan sendiri turun untuk mendengar.

Di Laut Merah, seorang gadis muda bernama Aisyah mengaku melihat cahaya hijau berkilau di kejauhan. “Itu adalah malaikat yang menjaga kita,” katanya dengan penuh keyakinan, dan cerita itu menyebar seperti api, mengobarkan semangat jemaah untuk berdoa lebih khusyuk (2016: 189). Apakah itu cahaya suci atau hanya pantulan bintang, tak ada yang peduli. Cerita itu memberi mereka kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Bahkan Farid, yang awalnya ragu akan pengampunan Tuhan, mulai tersenyum, menulis doa-doa baru dengan tangan yang tak lagi gemetar. Buku kecilnya, yang kini penuh dengan coretan, menjadi saksi bisu dari pertobatannya (2005: 201).

Hajjah Naimah, sang penenun, juga membawa keajaiban kecil. Di tengah wabah demam yang melanda kapal, ia menceritakan kisah Nabi Yunus, yang diselamatkan dari perut ikan paus. “Laut ini adalah rahim Tuhan,” katanya, dan jemaah yang mendengarnya bersumpah bahwa mereka merasa lebih kuat (2013: 223). Di sudut lain, Ilyas mulai menggambar ikan-ikan yang ia lihat di laut pada potongan kain yang diberikan ayahnya. Gambar-gambar itu, yang semenjana tapi penuh warna, menjadi hiburan bagi jemaah liyan yang melihatnya sebagai tanda bahkan di tengah derita, keindahan masih ada.

Badai dan Doa

Pada minggu kelima di laut, badai besar melanda Bintang Arafah. Langit menjadi hitam pekat, seolah malam telah menelan siang. Ombak menghantam kapal seperti tangan raksasa, membuat papan-papan berderit dan jemaah berteriak ketakutan. Air laut masuk melalui celah-celah dek, membasahi tikar dan pakaian. Haji Syamsuddin, yang masih lemah karena demam, memeluk petinya, bukan karena takut kehilangan harta, tetapi karena peti itu adalah satu-satunya kenangan dari istrinya yang telah meninggal (2013: 245). Hajjah Rahmah, yang duduk di sudut, terus berdzikir, tasbihnya berputar cepat, seolah setiap butir adalah perisai melawan badai.

Haji Idris, dengan keberanian yang tak terduga, berdiri di tengah dek, memimpin doa dengan suara yang mengalahkan deru angin. “Ya Tuhan, jika ini adalah ujian, kuatkan kami. Jika ini adalah akhir, terimalah kami,” katanya, dan jemaah lain mengikuti, suara mereka bergabung menjadi paduan suara yang menggetarkan (2016: 267). Di bawah dek, Ilyas memeluk Hajjah Naimah, yang berbisik kepadanya tentang cerita nabi Nuh dan bahteranya. “Kapal ini adalah bahtera kita,” katanya, dan Ilyas, meski ketakutan, mulai tersenyum, membayangkan ikan-ikan yang ia gambar sedang berenang di samping kapal (2005: 289).

Badai itu berlangsung selama tiga hari, meninggalkan kapal dalam keadaan compang-camping. Layar robek, makanan basah, dan beberapa jemaah terluka. Namun, ketika matahari akhirnya muncul, seolah tersenyum kepada mereka, jemaah berkumpul di dek untuk bersyukur. Haji Syamsuddin, yang selamat dari demam dan badai, berdiri dengan susah payah dan berkata, “Laut ini bukan musuh. Ia adalah guru” (2013: 312). Kata-kata itu, semenjana namun penuh makna, menjadi pegangan bagi mereka yang masih ragu.

Hidup di kapal adalah ritme yang aneh, di mana waktu seolah meleleh. Pagi dimulai dengan azan yang bergema di dek, dipimpin oleh Haji Idris, yang suaranya semakin kuat setiap hari. Jemaah berkumpul, membaca Al-Qur’an atau berdzikir, sementara ombak menghantam lambung kapal seperti pukulan takdir. Makanan—beras keras dan ikan asin yang sudah berbau—sering kali tak cukup, dan air minum berubah keruh setelah beberapa minggu. Akan tetapi, di antara kelaparan dan kehausan, ada keajaiban kecil yang muncul. Hajjah Naimah, dengan cerita-ceritanya, berhasil menyembuhkan jiwa-jiwa yang lelah, dan cerita tentang “penenun laut” itu menyebar, membuatnya menjadi sosok yang disegani (2016: 334).

Aisyah, yang kiwari menjadi semacam pemimpin tidak resmi di antara perempuan, mengorganisir kelompok doa setiap malam. Suaranya, yang lembut namun tegas, membawa ketenangan bagi mereka yang takut. “Kita bukan hanya menuju Makkah,” katanya suatu malam, “kita sedang menuju diri kita yang sebenarnya” (2005: 356). Farid, yang awalnya menjaga jarak dari jemaah lain, mulai bergabung dalam doa-doa itu, buku kecilnya kini penuh dengan catatan tentang kebaikan yang ia lihat: seorang jemaah yang berbagi roti terakhirnya, seorang ibu yang menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anak orang liyan.

Ilyas, dengan gambar-gambar ikannya, menjadi sumber kegembiraan. Ia mulai menggambar tidak hanya ikan, tetapi juga kapal, laut, dan bahkan wajah-wajah jemaah yang ia sukai. Hajjah Naimah, yang melihat bakatnya, memberinya sepotong arang untuk melanjutkan menggambar. “Kau adalah penutur cerita tanpa kata,” katanya, dan Ilyas tersenyum, merasa bahwa laut telah memberinya tujuan (2013: 378). Gambar-gambar itu, yang kemudian disimpan oleh jemaah lain, menjadi kenangan dari perjalanan yang penuh derita namun juga keindahan.

Namun, laut juga memamerkan sisi gelap manusia. Seorang pedagang kaya dari Palembang, yang dikenal sebagai Haji Amin, menimbun air minum dan menjualnya dengan harga tiga kali lipat kepada jemaah yang kehausan. “Ini adalah hukum laut,” katanya dengan dingin, seolah laut telah menghapus nuraninya (2013: 401). Seorang pemuda dari Lombok mencuri sepotong roti dari tas seorang janda, hanya untuk menangis dan mengembalikannya setelah melihat anak kecil di samping janda itu kelaparan. “Maafkan saya,” katanya sambil menunduk, dan janda itu, dengan mata penuh air, memaafkannya tanpa sepatah kata pun (2016: 423).

Kolonialisme, sebagaimana diuraikan Tagliacozzo, memperburuk penderitaan. Kapten kapal, Willem van der Berg, lebih peduli pada jadwal pelayaran daripada kesejahteraan jemaah. Ketika Haji Syamsuddin mengeluh tentang makanan yang busuk, van der Berg hanya mengangkat bahu. “Ini bukan kapal kerajaan,” katanya, dan kata-kata itu menusuk seperti pisau (2005: 445). Di pelabuhan, petugas kolonial memungut pajak yang tak masuk akal, sering kali dengan ancaman kekerasan. Seorang jemaah dari Jawa, yang kehilangan semua uangnya karena pajak itu, menangis di dermaga Jeddah, “Apakah ini juga bagian dari haji?” (2016: 467).

Konflik lain muncul ketika seorang jemaah dari Jawa, yang kehilangan uangnya karena pajak pelabuhan, menuduh Farid sebagai pencuri. “Kau pernah menjadi penjudi, bukan?” katanya dengan keras, dan Farid, yang telah bertobat, hanya menunduk, tak mampu membela diri. Namun, Aisyah, yang mendengar tuduhan itu, berdiri dan berkata, “Di laut ini, kita semua adalah jemaah, bukan hakim.” Kata-katanya meredakan ketegangan, dan jemaah itu meminta maaf, mengakui bahwa kemarahannya lahir dari keputusasaan (2013: 489).

Haji Amin, yang awalnya keras hati, mulai berubah setelah badai besar. Suatu malam, ia membagikan air minumnya kepada semua jemaah, menangis sambil meminta maaf. “Laut ini telah memperlihatkan keburukanku,” katanya, dan jemaah memaafkannya, meski dengan hati yang berat (2005: 512). Perubahan Haji Amin menjadi cerita yang diceritakan berulang-ulang, bukti bahwa laut, meski keras, juga bisa mengajarkan kebaikan.

Kedatangan di Jeddah

Ketika Bintang Arafah akhirnya bersandar di Jeddah, setelah berminggu-minggu di laut, suka dan duka bercampur menjadi satu. Haji Syamsuddin, yang kini pulih dari demam, menangis melihat daratan, bersujud syukur di dermaga. Hajjah Rahmah mencari-cari anaknya di antara kerumunan, meski tahu itu sia-sia, dan akhirnya duduk di sudut, memeluk tasbihnya dengan erat (2013: 534). Aisyah, dengan mata berbinar, memimpin doa syukur, suaranya menggema di pelabuhan, seolah memanggil seluruh jiwa yang tersesat untuk pulang (2016: 556). Farid menyerahkan buku doanya kepada seorang anak kecil, yang berjanji akan membawanya ke Makkah. “Jaga ini baik-baik,” katanya, dan anak itu mengangguk dengan serius (2005: 578).

Akan tetapi, ada pula yang kehilangan. Ilyas menangis karena ayahnya, Hamid, tak selamat dari kolera, meninggalkan dunia di tengah laut. Hajjah Naimah, yang merawat Hamid hingga akhir, menggendong Ilyas dan berjanji untuk membawanya ke Makkah. “Ayahmu sudah di surga,” katanya, meski suaranya gemetar (2013: 601). Di dermaga, jemaah menghadapi tantangan baru: birokrasi pelabuhan, panas yang membakar, dan ketidakpastian tentang perjalanan darat. Bagi banyak dari mereka, laut adalah ujian terberat, tetapi gurun yang menanti juga tidak kalah ganas.

Perjalanan darat ke Makkah adalah babak baru, penuh dengan panas gurun yang membakar dan angin yang membawa pasir ke mata. Haji Syamsuddin, yang kini berjalan dengan tongkat, memimpin kelompok kecil jemaah, berbagi air dan roti yang ia bawa dari Jeddah. “Laut telah mengajarkan kita untuk berbagi,” katanya, dan jemaah lain mengangguk, mengingat hari-hari kelaparan di kapal (2016: 623). Hajjah Rahmah, meski tak menemukan anaknya, menemukan kedamaian di Masjidil Haram, di mana ia bersujud dan menangis, merasa bahwa anaknya, di mana pun ia berada, telah mendengar doanya (2005: 645).

Aisyah, yang cahaya hijaunya menjadi legenda, menjadi pemandu bagi jemaah perempuan, membawa mereka melewati gurun dengan nyanyian dan doa. “Makkah bukan hanya tempat,” katanya, “ia adalah perjalanan” (2013: 667). Farid, yang kini merasa ringan, berjalan dengan langkah tegap, seolah laut telah mencuci dosa-dosanya. Ilyas, yang dibesarkan oleh Hajjah Naimah, menggambar Ka’bah pada sehelai kain, gambar pertamanya yang bukan tentang laut, seolah ia telah menemukan rumah baru (2016: 689).

Kalakian, Tagliacozzo menegaskan bahwa haji adalah transformasi, bukan hanya perjalanan fisik (2013: 712). Di Makkah, jemaah menemukan makna dari penderitaan mereka. Haji Syamsuddin, yang kembali ke Cirebon sebagai haji, menjadi tokoh terhormat, meski ia tak pernah menceritakan tentang demam yang hampir merenggut nyawanya. Hajjah Rahmah, yang meninggal beberapa tahun kemudian, meninggalkan tasbihnya kepada seorang jemaah muda, yang membawanya kembali ke Makkah sebagai amanat (2016: 734). Aisyah menikah dengan seorang jemaah dari Bugis dan membangun madrasah kecil di kampungnya, tempat ia mengajarkan anak-anak tentang keajaiban iman (2005: 756).
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo