Arina.id - Nabi Muhammad adalah salah satu utusan Allah yang mendapat gelar Ulul Azmi atau pemilik kesabaran dan keteguhan. Dalam Tafsir Baghawi Ibnu Abbas berkata bahwa Ulul Azmi adalah mereka yang memiliki tekad kuat. Dhahak juga berkata, Ulul Azmi adalah mereka yang bersungguh-sungguh dan penyabar.
Siapa saja Nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi? Mereka adalah, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad.
Sifat yang menonjol yang dimiliki oleh mereka adalah Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathanah. Keempat sifat ini dapat diteladani lalu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam dunia profesional.
1. Ṣiddiq (Jujur)
Siddiq adalah selalu berkata benar, tidak berdusta, dan konsisten antara ucapan dengan perbuatan. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman tentang Siddiq di antaranya surat Al-Ahzab Ayat 8:
لِّيَسْـَٔلَ ٱلصَّٰدِقِينَ عَن صِدْقِهِمْ ۚ وَأَعَدَّ لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا
Artinya: "Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar (jujur) tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih."
Tafsiran ayat ini antara lain bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada orang-orang yang menyampaikan risalah-Nya dari golongan para rasul mengenai kejujuran mereka dalam bertablig. Allah mengetahui bahwa para rasul itu merupakan orang-orang yang sangat jujur (shiddiqin).
Jika diimplementasikan dalam kehidupan, maka siddiq itu adalah sifat jujur, benar, tidak berbohong saat berbicara, meskipun dalam hal kecil. Jujur dalam transaksi jual beli misalnya, menyampaikan kondisi barang apa adanya. Tidak memalsukan data, nilai, atau laporan.
2. Amānah (Dapat Dipercaya)
Amanah adalah menjaga titipan, tanggung jawab, dan janji dengan baik. Dalam salah satu hadits tentang amanah yang diriwayatkan Anas bin Malik disebutkan:
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
Artinya: "Tidak sempurna keimanan bagi orang yang tidak amanah, dan tidak sempurna agama seseorang bagi yang tidak memenuhi janji."
Implementasi dalam dunia profesional adalah menyelesaikan tugas kerja atau aktivitas lainnya sesuai tanggung jawab, menjaga rahasia yang dipercayakan orang lain, dan tidak menyalahgunakan jabatan, wewenang, atau amanah publik.
3. Tablīgh (Menyampaikan)
Tabligh adalah menyampaikan kebenaran, pesan, dan ilmu yang bermanfaat tanpa disembunyikan. Dalam surat Al-Maidah ayat 67 disebutkan:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّـهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ﴿
Artinya: "Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Dan jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir."
Implementasi dari sifat tabligh adalah menyebarkan informasi yang benar, bukan hoaks, mengajarkan ilmu kepada orang lain dengan ikhlas dan mengingatkan teman atau keluarga dengan cara baik jika ada yang salah.
4. Faṭhānah (Cerdas)
Fathanah adalah memiliki kecerdasan akal, kebijaksanaan, dan ketepatan dalam mengambil keputusan. Sifat ini disampaikan Allah melalui firmanNya dalam QS. Al Baqarah ayat 269:
يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Artinya: "Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang–orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
Implementasi sifat ini dalam konteks kekinian adalah mendahulukan akal sehat sebelum bertindak, memecahkan masalah dengan solusi terbaik, bukan emosi. Belajar terus-menerus agar memiliki wawasan luas. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


