Dark
Light
Dark
Light

Khutbah Jumat Maulid: Inspirasi 4 Sifat Nabi untuk Kepemimpinan

Khutbah Jumat Maulid: Inspirasi 4 Sifat Nabi untuk Kepemimpinan

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَعَزَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَذَلَّ الْكَافِرِيْنَ، وَنَصَرَ عِبَادَهُ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَجَعَلَ فِي طَاعَتِهِ سَعَادَةَ الْمُتَّقِيْنَ، وَفِي عِصْيَانِهِ هَلَاكَ الظَّالِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الرَّاشِدِينَ، وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ دَرْبِهِمْ وَاتَّبَعَ نَهْجَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَدْ قَالَ: لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِࣖ 

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena dengan ketakwaan itulah kita akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan abadi di akhirat. Mari kita pertahankan ketakwaan dan keimanan kita sampai akhir hayat kita. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ali 'Imran ayat 102:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Pada kesempatan khutbah hari ini, khatib akan menyampaikan pesan dari Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 128 yang menggambarkan empat sifat mulia Rasulullah SAW yang sepatutnya menjadi teladan dalam kehidupan kita, khususnya dalam hal kepemimpinan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun bangsa.

Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 128 memberikan gambaran jelas tentang kepribadian Rasulullah SAW yang dapat dijadikan teladan dalam kepemimpinan. Allah berfirman:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,

Ayat ini tidak hanya menegaskan kedekatan Nabi dengan umatnya, tetapi juga menghadirkan empat sifat utama yang sangat relevan bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan.

Pertama, Nabi selalu Mampu Merasakan Penderitaan Rakyat

Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang merasakan penderitaan rakyatnya. Rasulullah SAW digambarkan sebagai sosok yang berat hatinya melihat kesulitan umat. Hal ini mengajarkan bahwa pemimpin sejati tidak boleh abai terhadap jeritan rakyat, melainkan hadir untuk mencari solusi, bukan hanya janji. 

Dalam kaidah fiqih, disebutkan:

تَصَرُّفُ اْلإمَام عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

Artinya: ”Tindakan penguasa terhadap rakyat harus terarah untuk mencapai kemaslahatan.”

Kedua, Nabi Selalu Mengharapkan Kebaikan dan Keselamatan bagi Umat

Nabi memiliki kepedulian besar agar umatnya berada dalam kebaikan dan keselamatan. Pemimpin yang meneladani sifat ini tidak hanya fokus pada keuntungan pribadi atau golongan, tetapi benar-benar berjuang demi kesejahteraan bersama, termasuk aspek iman, moral, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Seorang pemimpin harus peka terhadap kondisi rakyatnya dan mengambil kebijakan untuk kemaslahatan umum, bukan untuk kepentingan dirinya.

Ketiga, Nabi selalu Bersikap Penyantun.

Kesantunan adalah kelembutan hati yang ditunjukkan dalam sikap dan kebijakan. Rasulullah SAW mencontohkan bagaimana kekuasaan tidak boleh diwarnai dengan kekerasan yang sewenang-wenang. Pemimpin yang santun akan mampu mengayomi masyarakat dengan bijaksana dan menumbuhkan rasa hormat, bukan ketakutan. Pemimpin harus mampu manjaga akhlak dan kesantunannya seperti menggunakan diksi kata yang tepat saat berbicara dan memberikan pernyataan. 

Pemimpin tidak boleh menyakiti hati rakyatnya dengan kata-kata yang tidak pantas untuk diuatarakan dan menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah Masyarakat. Rasulullah dalam haditsnya telah mengingatkan untuk memiliki akhlak yang baik dalam pergaulan:

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya: “Betakwalah kalian di manapun kalian berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan yang mana itu bisa menghapusnya, dan pergaulilah orang-orang dengan akhlak yang baik” (HR Imam At-Turmudzi)

Keempat, Nabi Selalu Penuh Kasih Sayang.

Kasih sayang merupakan fondasi kepemimpinan yang paling mendasar. Rasulullah SAW selalu menghadirkan kasih sayang, terutama kepada orang-orang mukmin. Sifat ini mengajarkan bahwa kepemimpinan harus didasarkan pada cinta dan kepedulian, bukan kebencian atau kepentingan politik semata. Ketika kasih sayang selalu tertanam dalam diri seorang pemimpin, maka hati rakyatnya pun akan penuh dengan kedamaian. 

Empat sifat yang digambarkan dalam surat At-Taubah ayat 128 ini memberikan pedoman berharga bagi siapa pun yang mengemban amanah sebagai pemimpin. Rasulullah SAW hadir bukan hanya sebagai teladan spiritual, tetapi juga sebagai contoh nyata bagaimana kepemimpinan harus dijalankan yakni peka terhadap penderitaan, berorientasi pada kebaikan umat, santun, dan penuh kasih sayang.

Jika empat sifat ini mampu dihidupkan kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka insyaAllah kepemimpinan akan benar-benar membawa rahmat dan keberkahan bagi seluruh rakyat. Amin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ،إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Khutbah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo