“Ketahuilah bahwa manusia pada hakikatnya hanyalah cerita yang tetap ada setelah mereka tiada; setiap orang akan dikenang berdasarkan apa yang ia lakukan, dan ia akan dihubungkan dengan apa yang ia kerjakan—jika baik, maka akan dikenang dengan kebaikan, dan jika buruk, maka akan dikenang dengan keburukan.”
- Imam Al-Ghazali -
Kalimat itu merupakan pituah bijak dari Imam Al-Ghazali. Sejatinya, nasihat itu ditujukan untuk para penguasa, yang baru ataupun yang tengah mengemban satu amanah kekuasaan. Pesan Al-Ghazali dalam kitab dalam At-Tibrul Masbuk fi Nasihati al Muluk, (1988: hlm. 44) ini mengingatkan bahwa kita manusia, sesungguhnya, bukan sekadar makhluk yang hidup dan mati. Kita adalah entitas yang terus hidup dalam ingatan orang lain melalui perbuatan kita.
Begitu kita tiada, nama dan kisah kita tidak lagi ditentukan oleh diri kita sendiri, tetapi oleh jejak yang kita tinggalkan di dunia. Itulah mengapa bagi seorang pemimpin, nasihat ini menjadi sangat penting, karena mereka tidak hanya memimpin kehidupan mereka sendiri, tetapi juga memengaruhi kehidupan banyak orang di bawah naungan kekuasaannya.
Oleh sebab itu, setiap orang harus berusaha menanam kebaikan dan menjauhkan diri dari kesalahan, keburukan, dan dosa yang bisa menghancurkan, terutama bagi para pemimpin. Dengan begitu, mereka bisa meninggalkan nama baik dan warisan yang saleh, serta tidak diingat dengan hal-hal buruk setelah meninggal. Seperti yang dikatakan seorang penyair:
اهرب من الذنب وتب يا فتى# وإن بدا منك فعد واندم
وانف عن نفك ما شأنها # ومن مساوي الدهر خف تسلم
وبعدك يبقى الذكر لا غيره # فكن حديثاً حسناً تغنم
Artinya: “Larilah dari dosa dan bertobatlah, wahai pemuda, Dan jika dosa muncul darimu, kembalilah dan sesalilah. Bersihkanlah dirimu dari apa yang mencemarinya, dan waspadailah keburukan zaman agar kamu selamat, karena yang tersisa setelahmu hanyalah kenangan; maka jadilah cerita yang baik agar kamu beruntung.” ( At-Tibrul Masbuk fi Nasihati al Muluk, hlm. 45)
Bagi seorang pemimpin, tanggung jawab terasa lebih berat karena mereka memiliki kekuasaan yang besar untuk memengaruhi kehidupan banyak orang. Dengan wewenang tersebut, mereka bisa menciptakan perubahan besar yang memengaruhi kesejahteraan rakyat. Karena itulah, seorang pemimpin yang bijak harus selalu mengingat nasihat Al-Ghazali bahwa tindakan mereka akan menjadi warisan yang abadi, bahkan setelah mereka tiada.
Kepemimpinan yang adil dan penuh tanggung jawab adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa kisah hidup mereka akan dikenang dengan kebaikan dan rasa hormat.
فينبغي أن تعلم أن عمارة الدنيا وخرابها من الملوك ، فإذا كان السلطان عادلاً عمرت الدنيا وأمنت الرعايا كما كانت عليه في عهد أردشير وأفريدون و بهرام كور وكسرى أنوشروان. وإذا كان السلطان جائراً خربت الدنيا كما كانت في عهد الضحاك وافراسياب وبرزدكنه الخاطي،
Artinya: “Maka perlu diketahui bahwa pembangunan dan kehancuran dunia ini berasal dari para penguasa. Jika seorang penguasa itu adil, dunia akan makmur dan rakyat hidup dalam keamanan, sebagaimana halnya pada masa pemerintahan Persia dulu; Ardashir, Afridun, Bahram Gor, dan Kaisar Anushirwan. Namun, jika penguasa itu zalim, dunia akan hancur, seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Dzhak, Afrasyab, dan Barzadkan Khati.”
Sementara itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi menjelaskan pentingnya integritas dan reputasi seseorang, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Sejatinya, setiap hamba memiliki catatan di langit yang mencerminkan perbuatannya di dunia. Jika seseorang memiliki reputasi yang baik di langit, maka ia akan dipandang baik di bumi oleh manusia. Sebaliknya, jika perbuatannya buruk, maka reputasinya akan buruk di langit dan di bumi.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ إِلَّا لَهُ صِيتٌ فِي السَّمَاءِ فَإِذَا كَانَ صِيتُهُ فِي السَّمَاءِ حَسَنًا وُضِعَ فِي الْأَرْضِ وَإِذَا كَانَ صِيتُهُ فِي السَّمَاءِ سَيِّئًا وُضِعَ فِي الْأَرْضِ
Artinya: "Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun kecuali memiliki nama baik di langit. Jika nama baiknya di langit itu baik, maka akan ditempatkan di bumi. Dan jika nama baiknya di langit itu buruk, maka akan ditempatkan di bumi (dengan keadaan buruk pula).”
Lebih jauh lagi, betapa pentingnya reputasi, hingga Al-Qur'an menjadikan kisah para nabi sebagai contoh abadi dari pribadi-pribadi yang memiliki reputasi luhur di sisi Allah dan manusia. Dalam Surat Sad ayat 45-48, Allah memuliakan para Nabi yang memiliki reputasi istimewa, menyebutkan nama-nama mereka secara khusus sebagai contoh teladan bagi seluruh umat manusia.
Allah berfirman:
وَاذْكُرْ عِبٰدَنَآ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ اُولِى الْاَيْدِيْ وَالْاَبْصَارِ [45] اِنَّآ اَخْلَصْنٰهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِۚ [46] وَاِنَّهُمْ عِنْدَنَا لَمِنَ الْمُصْطَفَيْنَ الْاَخْيَارِۗ [47] وَاذْكُرْ اِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۗوَكُلٌّ مِّنَ الْاَخْيَارِۗ [48]
Artinya: "Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan (dalam taat kepada Allah) dan penglihatan (mata hati yang jernih). [45]. Sesungguhnya Kami telah memberikan secara khusus kepada mereka anugerah yang besar, (yaitu selalu) mengingat negeri akhirat. [46]. Sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik. [47]. Ingatlah Ismail, Ilyasa, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik. [48].
Sebaliknya, penguasa yang semena-mena dan zalim hanya akan meninggalkan jejak buruk yang terus diingat sebagai pelajaran bagi generasi mendatang. Al-Qur'an sendiri memberikan contoh-contoh nyata mengenai hal ini, seperti dalam kisah Fir'aun, Jalut, dan beberapa penguasa zalim lainnya.
Raja Fir'aun, penguasa Mesir yang kejam dan arogan, dikenal karena sikapnya yang menentang kebenaran dan menganiaya Bani Israil. Meskipun ia memiliki kekuasaan yang besar dan segala kemewahan, tindakannya yang zalim dan keras kepala membuatnya dihina sepanjang sejarah.
Nama Fir'aun tidak dikenang sebagai penguasa yang bijak atau pemimpin yang membawa kemakmuran bagi rakyatnya, melainkan sebagai simbol kekejaman dan penindasan. Al-Qur'an mengabadikan kisahnya sebagai peringatan bagi umat manusia tentang bahaya kesombongan dan kekuasaan yang disalahgunakan.
وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ
Artinya: "(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya)." (Al-Baqarah: 50).
Sejatinya, penguasa yang hanya memikirkan kekuasaan, ego, dan kesenangan pribadi tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyatnya akan kehilangan reputasi baik. Nama mereka diabadikan dalam sejarah bukan karena pencapaian atau kebaikan, tetapi karena kezaliman dan ketidakadilan yang mereka lakukan. Sebaliknya, penguasa yang adil dan berbuat baik kepada rakyatnya akan terus dikenang dengan penuh hormat, bahkan setelah mereka tiada.
Oleh karena itu, nasihat Imam Ghazali memiliki momentum untuk saat ini. Pasalnya, Indonesia memulai babak baru dengan penguasa dan pejabat yang baru saja dilantik. Para pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik dan reputasi mereka dengan menjalankan kekuasaan dengan cara yang adil, bijaksana, dan berlandaskan pada kebaikan. Sebab, sebagaimana yang telah terbukti dalam sejarah, penguasa akan selalu dikenang berdasarkan tindakan yang mereka lakukan, entah itu dalam kebaikan atau keburukan. Wallahu a'lam bisshawab.
Editor: Muhammad Faizin


