Arina.id – Ulama kharismatik Nusantara, KH Kholil Bangkalan pernah membuat catatan perjalanan haji tahun 1911 bersama jamaahnya dalam bentuk surat yang ditujukan kepada menantunya, Kiai Muhammad Thoha. Surat yang ditulis dengan Bahasa Arab tersebut ditulis Mbah Kholil saat singgah di Singapura.
“Surat itu ditulis dari Singapura oleh Kiai Kholil Bangkalan dan ditujukan kepada menantunya, yakni Kiai Muh. Toha. Nama terakhir ini, dalam historiografi NU biasa dikenal dengan Bindhereh/Ndoro Muntaha.” Jelas Kholili Kholil, salah seorang keturunan Mbah Kholil Bangkalan yang menulis ulang dan mengunggah catatan haji tersebut di akun facebooknya, Selasa (13/5/2025)
Dijelaskan Kholili, saat ini kondisi surat tersebut sudah usang sehingga banyak tulisan yang sulit untuk dibaca. Namun demikian, ia mencoba menulis ulang catatan haji tersebut dan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia, sebagaimana berikut:
إلى الولد المكرم المحترم محمد طه ؛ حفظه الله تعالى وسلمه في المبدأ والمنتهى
Artinya: “Untuk seorang anak yang dimuliakan dan terhormat: Muhammad Thoha. Semoga Allah swt menjaga dan menyelamatkannya di awal dan akhir.”
Dijelaskan Kholili, Mbah Kholil mengawali suratnya dengan rima dan talmih ‘Muntaha’, sebuah laqab atau nama lain dari Kiai Muh. Thoha. Selanjutnya, Mbah Kholil melanjutkan suratnya dengan basmalah, hamdalah, dan shalawat kepada Nabi.
[…] بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين وصلى الله على رسول الله سيدنا محمد صلى الله عليه
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Shalawat semoga Allah curahkan kepada utusan-Nya, tuan kami, Muhammad saw..”
Mbah Kholil kemudian menjelaskan kondisinya beserta jamaah saat singgah di Singapura dengan ungkapan sebagaimana berikut:
[…] أما بعد ؛ فأنبئك بأن العبد الذليل خليل قد وصل إلى سغكافورا بالسلامة
(من غير كرنتين (يوم الاثنين ١٨ شوال والحمد لله) ؛ ومكثت أنا والجماعة فيها أيامًا طويلًا منتظرين البايور (؟؟
حتى دخل ذو القعدة وإن شاء الله تعالى يوم الأربعاء ثانيَ عشر ذي القعدة طلعنا البايور
Artinya:
“Amma ba’du. Saya ingin memberitahumu bahwa hamba yang hina ini, yakni Kholil, telah sampai ke Singapura dengan selamat.”
“…tanpa menjalani karantina (pada hari Senin 18 Syawwal, walhamdulillah). Saya beserta jemaah haji tinggal di Singapura cukup lama sambil menunggu al-bayur (?).”
“Hingga masuk Bulan Dzulqa’dah insya Allah pada hari Rabu tanggal 12 kita akan naik al-bayur (?).”
Jika melihat catatan tersebut, Mbah Kholil dan jamaahnya singgah di Singapura terhitung lama, yaitu sejak tanggal 18 Syawal 1330 H hingga pemberangkatan kapal yang dijadwalkan pada tanggal 12 Dzulqadah 1330 H.
Mbah Kholil kemudian memohon doa kepada Kiai Muntaha agar perjalanan hajinya bersama para jamaah dari berbagai daerah berlangsung dengan lancar. Beliau mengungkapkan:
ولنطلب منك الدعاء بحصول المطلوب […] الجماعة كلهم في خير وعا[فية؟
كالنتوغ وفروبوغان وتغكينه وكلمس (كلمفس؟) […] وسرفاغ ودماغن وكوير وكرامة وقرطه (مرطه) جاس
Artinya:
“Kita memohon doa darimu agar harapan kita terkabul […] para jamaah semuanya baik-baik dan sehat-sehat.”
“Galintong, Perobungan, Tengginah, Kalimas (Klampis?), Serpang, Demangan, Kwanyar, Kramat, Kerta (Marta?) Jasa.”
Kholili menduga, daerah-daerah yang disebutkan dalam surat Mbah Kholil ini adalah asal jamaah yang berangkat beserta beliau. Berikutnya, Mbah Kholil menulis shalawat dan doa dalam bentuk bait syair yang berakhiran huruf Mim, sebagaimana berikut:
يَا رَبِّ صَلِّ عَلَى الْمُخْتَارِ سَيِّدِنَا * مُحَمَّدٍ عَدَدَ الْأَسْمَاءِ وَالنِّعَمِ
يَا رَبَّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا * وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ
Artinya:
“Wahai Tuhan, limpahkanlah shalawat kepada Sang Terpilih * junjungan kami Muhammad, sebanyak jumlah nama dan nikmat."
"Wahai Tuhan, dengan perantara al-Mustafa, sampaikanlah segala maksud kami * dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat yang Maha Luas karunia-Nya."
Di akhir suratnya, Mbah Kholil menulis kalimat doa, terkhusus kepada orang Madura dan Surabaya, dengan ungkapan kalimat:
والسلام على جميع المسلمين من أهل مدوره وسربايا وما أشبه ذلك ؛ والدعاء منهم مطلوب ومرغوب
ونطلب من الولد أن تخبر أهلهم بما ذكر وبالسلام عليهم
Kholili menerjemahkan dan menafsirkan penutup surat tersebut sebagaimana berikut:
“Semoga keselamatan senantiasa tercurah kepada seluruh muslimin; Orang Madura, Surabaya, dan lain-lain. Doa dari mereka senantiasa diharapkan. Saya minta agar anak (Maksudnya Kiai Muh. Thoha) mengabari keluarga mereka dengan hal tsb. (mungkin maksudnya sdh sampai Singapura dan berlayar pada 12 Dzulqo’dah) dan menyampaikan salamnya.”
***
Kholili mencoba menelusuri makna “al-Bayur” yang disebut dalam surat Mbah Kholil. Ia kemudian teringat pada buku Naik Haji di Masa Silam karya Henri Chambert-Loir (dibaca: Ang[r]i Syamber Lwa[r]) yang diterbitkan oleh Gramedia. Buku tersebut memuat catatan perjalanan haji orang-orang Nusantara dalam rentang tahun 1482 hingga 1964 M. Namun, Kholili tidak menemukan penjelasan mengenai istilah 'al-Bayur' dalam buku tersebut.
“Namun sayangnya saya tidak menemukan apa maksud “Al-Bayur” (??) dalam surat Mbah Kholil di atas,” tulis Kholili di akun facebooknya.
Menurut Kholili, Surat haji Mbah Kholil bertarikh 1330 H alias 1911 M ini memberikan informasi menarik tentang perjalanan haji beliau. Dalam catatan Kiai Mahfudz Hadi, Mbah Kholil Bangkalan pernah menunaikan ibadah haji sebanyak 7 kali. Catatan haji tahun 1911 ini adalah catatan bertanggal terakhir beliau naik haji.
“Ini berarti beliau berusia 78 tahun dalam usia hijriah,” tambah Kholili.
Di sisi lain, Kholili menyebutkan bahwa surat yang disertai dengan tutur kata lembut ini mencerminkan hubungan harmonis antara mertua dan menantu. Kiai Thoha, menantu Mbah Kholil sekaligus suami dari Nyai Khotimah binti Kiai Kholil, dikenal memiliki keilmuan yang tinggi namun 'tertutupi' oleh nama besar mertuanya.
“Sebetulnya banyak dari kiai sepuh pendiri pesantren yang ngaji kepada Kiai Thoha namun di catatan biografinya hanya ditulis mengaji kepada Mbah Kholil. Di surat ini, Mbah Kholil tak segan meminta doa kepada Kiai Thoha,”terang Kholili.
Terlepas dari itu, sambung Kholili, perjalanan haji dalam dunia pesantren, selain sebagai perjalanan spiritual, juga merupakan perjalanan akademik. Naik haji di masa itu adalah sinonim dari menyambung sanad keilmuan. Dan dalam usia senja itu, Mbah Kholil masih dahaga akan keilmuan dengan menempuh perjalanan haji, bahkan beliau sempat khawatir akan dikarantina.
Kholili menambahkan, Kiai Syamsuddin alias Man Din yang menjadi pengampu manuskrip surat Mbah Kholil ini menjelaskan, surat Mbah Kholil ini dititipkan dari Singapura kepada seseorang yang hendak pulang ke Surabaya. Setelah tiba di Surabaya, surat itu disimpan di Kebondalem, sebuah pesantren yang memiliki hubungan khusus dengan Mbah Kholil.
Menurut Kholili, Kiai Ahyad dari Kebondalem adalah sahabat karib Mbah Kholil; bahkan keduanya pernah pergi bersama ke Bima untuk mengaji kepada ‘Abd al-Ghani bin Shubh (Snouck H, Or. 7931). Putra Kiai Ahyad, yakni Kiai Dahlan dititipkan kepada Mbah Kholil untuk dididik. Kiai Dahlan Ahyad ini di kemudian hari menjadi Wakil Rais Akbar HBNO.
Setelah tiba di Kebondalem, surat ini kemudian diantarkan ke Jengkebuan, tempat Mbah Kholil membangun pesantren pertamanya. Terakhir, surat tersebut diserahkan kepada Kiai Thoha tatkala Mbah Kholil membangun pesantren di Demangan, kira-kira tahun 1309 H atau 1891 M.
Menurut Kholili, Mbah Kholil biasa menulis shalawat di akhir tulisannya sehingga dalam surat haji ini pun beliau menutupnya dengan bacaan shalawat. Ia juga mengingatkan bahwa Mei adalah bulan kelahiran Mbah Kholil Bangkalan.
Editor: Aiz Luthfi


