Dark
Light
Dark
Light

Keistimewaan Tanggal 10 Muharram dan Rahasia di Balik Nama Asyura

Keistimewaan Tanggal 10 Muharram dan Rahasia di Balik Nama Asyura

Arina.id - Tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah dikenal sebagai Hari Asyura. Dalam sejarah Islam, tanggal tersebut menempati posisi istimewa, dipenuhi kisah-kisah mulia, dan peristiwa agung yang menggugah iman. Nama Asyura (عاشراء) sendiri berasal dari kata ‘asyarah (عشرة) yang berarti sepuluh. Namun, mengapa hari tersebut disebut Asyura dan apa keistimewaan yang dikandungnya? Mengenai hal ini, para ulama memberikan beberapa penjelasan yang kaya makna dan menggambarkan kedalaman tradisi Islam.

Salah satu pendapat yang paling dikenal dikemukakan oleh Imam Badruddin al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari. Ia menyebut bahwa Asyura dinamakan demikian karena bertepatan dengan hari kesepuluh bulan suci. Dalam pendapat ini, makna “Asyura” dimaknai secara literal, yaitu hari ke-10 bulan Muharram. Namun, al-‘Ayni tidak berhenti di situ. Ia lalu menyebut sebuah tafsir simbolik yang jauh lebih dalam dan menyentuh secara spiritual.

Menurutnya, hari Asyura disebut demikian karena Allah memuliakan sepuluh nabi pada hari tersebut dengan sepuluh bentuk kemuliaan. Al-‘Aini menjelaskan:

لِمَ سُمِّيَ ٱلْيَوْمُ ٱلْعَاشِرُ عَاشُورَاءَ؟ ٱخْتَلَفُوا فِيهِ، فَقِيلَ: لِأَنَّهُ عَاشِرُ ٱلْحُرُمِ، وَهَذَا ظَاهِرٌ، وَقِيلَ: لِأَنَّ ٱللَّهَ تَعَالَى أَكْرَمَ فِيهِ عَشَرَةً مِنَ ٱلْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ بِعَشْرِ كَرَامَاتٍ.

Artinya, “Mengapa hari kesepuluh itu disebut Asyura? Para ulama berbeda pendapat mengenainya. Ada yang mengatakan karena ia merupakan hari kesepuluh dari bulan-bulan suci, dan ini adalah penjelasan yang jelas. Ada pula yang mengatakan karena pada hari itu Allah memuliakan sepuluh nabi dengan sepuluh bentuk kemuliaan.” (Al-'Aini, tanpa tahun: juz 11, h. 116)

Misalnya, Nabi Musa diselamatkan dari Firaun dan laut terbelah untuknya pada hari Asyura. Peristiwa ini bahkan menjadi alasan utama Nabi Muhammad berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah, sebagaimana disampaikan dalam beberapa hadits.

Selanjutnya adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Kapalnya dikisahkan berlabuh dengan selamat di atas Gunung Judi pada hari Asyura. Nabi Yunus juga dikisahkan dikeluarkan dari perut ikan pada hari itu. Lalu, Allah menerima taubat Nabi Adam setelah diturunkan dari surga pada hari Asyura pula. Kisah-kisah ini menunjukkan betapa hari tersebut penuh rahmat dan ampunan dari Allah.

Berikutnya, Nabi Yusuf ‘alaihis salam dikeluarkan dari sumur tempat ia dibuang oleh saudara-saudaranya. Nabi ‘Isa dilahirkan dan diangkat ke langit pada hari Asyura, menurut sebagian ulama. Nabi Dawud diterima taubatnya, Nabi Ibrahim dilahirkan, dan Nabi Ya’qub dikembalikan penglihatannya. Bahkan pada hari tersebut Nabi Muhammad sendiri dikisahkan diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang, meski beliau seorang yang ma’shum.

Ada pula yang menambahkan kisah Nabi Idris yang diangkat ke langit, Nabi Ayyub yang disembuhkan dari penyakitnya, dan Nabi Sulaiman yang diberi kerajaan. Peristiwa-peristiwa ini menjadikan hari Asyura tidak sekadar “hari kesepuluh”, tetapi sebuah simbol dari sepuluh limpahan anugerah Ilahi kepada para utusan-Nya. Hari ini mengandung makna spiritual mendalam tentang keselamatan, pengampunan, dan rahmat. (Al-'Aini, tanpa tahun: juz 11, h. 116)

Namun, ada pula pendapat kedua yang tak kalah menarik, yaitu dari Imam as-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin. Ia berpendapat bahwa hari Asyura dinamakan demikian karena merupakan hari kesepuluh dari sepuluh kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat Nabi Muhammad. Pemaknaan ini tidak berfokus pada nabi-nabi terdahulu sebagaimana disampaikan oleh Al-‘Aini, melainkan pada anugerah istimewa yang diberikan khusus kepada umat Islam. As-Samarqandi menyatakan:

قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا سُمِّيَ عَاشُورَاءَ لِأَنَّهُ عَاشِرُ عَشَرَ كَرَامَاتٍ، أَكْرَمَ اللَّهُ بِهَا هَذِهِ ٱلْأُمَّةَ

Artinya, “Sebagian ulama berkata: Asyura dinamakan demikian karena ia adalah yang kesepuluh dari sepuluh bentuk kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada umat ini.” (As-Samarqandi, 2018: h. 247)

Pertama, lanjut As-Samarqandi, adalah Rajab, bulan yang kemuliaannya dianalogikan laksana kemuliaan umat Nabi Muhammad dibanding umat-umat lainnya. Kedua adalah bulan Sya’ban yang lebih mulia dibandingkan bulan lain, laksana keunggulan Nabi Muhammad atas nabi lainnya. Ketiga adalah bulan Ramadhan, mulianya melebihi seluruh bulan, sebagaimana kemuliaan Allah atas seluruh makhluk-Nya. Keempat adalah malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Kelima adalah Hari Idul Fitri, momen yang disebut sebagai hari pembalasan kebaikan dan ampunan. Keenam adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang disebut sebagai hari-hari untuk banyak berdzikir kepada Allah. Ketujuh adalah Hari Arafah, dengan keutamaan puasa yang dapat menghapus dosa dua tahun. Kedelapan adalah Hari Nahr (Idul Adha), hari berkurban yang melambangkan ketundukan kepada Allah.

Kesembilan adalah hari Jumat, yang disebut sebagai penghulu segala hari. Dan yang kesepuluh adalah hari Asyura, dengan puasa yang dapat menghapus dosa satu tahun sebelumnya. Dengan demikian, menurut pandangan ini nama Asyura tidak hanya menunjukkan tanggal ke-10 Muharram, tapi juga posisi istimewa sebagai penutup sepuluh waktu penuh kemuliaan dalam Islam. (As-Samarqandi, 2018: h. 247)

Kesimpulannya, Hari Asyura bukan sekadar angka dalam kalender, melainkan simpul sejarah yang menyatukan kisah nabi, keagungan umat, dan limpahan rahmat. Di balik penamaan "Asyura" tersimpan ajakan untuk merenung, bersyukur, dan mendekatkan diri kepada Allah. Maka, jadikanlah 10 Muharram sebagai momen memperkuat iman, memperbanyak amal saleh, dan menghidupkan semangat spiritual yang diwariskan para nabi kepada umat akhir zaman.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo