Arina.id - Suami ideal dalam Islam bukanlah sosok yang hanya memenuhi bayangan maskulinitas atau kekuatan semu yang diagung-agungkan oleh budaya patriarkal modern. Lebih dari itu, Islam menempatkan suami sebagai poros tanggung jawab, penopang keteguhan rumah tangga, dan penjaga kasih sayang di dalamnya.
Suami ideal adalah pribadi yang mampu menjadi rahmat bagi istrinya, anak-anaknya, dan masyarakat di sekelilingnya. Peran ini sejalan dengan visi Al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad SAW, yang menunjukkan bagaimana seorang suami seharusnya menghidupkan nilai-nilai sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta kasih), dan rahmah (belas kasih) dalam kehidupan berumah tangga.
Konsep ini berakar dari firman Allah SWT dalam surah Ar-Rum ayat 21 yang menegaskan bahwa pernikahan adalah salah satu tanda kebesaran-Nya. Tanda itu bukan hanya dalam bentuk kebersamaan, tetapi dalam kemampuan dua insan saling menumbuhkan kedamaian dan cinta dalam ikatan yang suci.
Nabi Muhammad SAW pun memberikan teladan yang sangat luhur dalam memperlakukan istri-istrinya. Beliau bukan hanya seorang pemimpin dalam keluarga, tetapi juga seorang sahabat sejati, pendengar yang setia, dan pendidik yang penuh kelembutan.
Beliau bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
Artinya: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Lalu, apa standar dan kriteria yang menjadikan seorang pria layak disebut suami ideal yang mampu menghidupkan sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam rumah tangganya? Dalam hal ini, kita dapat merujuk kepada pandangan para ulama, termasuk Sayyid Alwi al-Maliki, tentang sifat-sifat mulia yang seharusnya dimiliki oleh seorang suami.
Kriteria Suami Ideal Menurut Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki
Dalam menjelaskan kriteria dan standar suami ideal, Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dalam kitab Adab al-Islam fii Nizham al-Usrah memaparkan dua komponen penting yang harus dipenuhi oleh seorang suami ketika berinteraksi bersama istrinya yakni:
1. Suami yang Lapang Dada, Penuh Kasih, dan Memaafkan
Suami ideal adalah pria yang mampu bersikap lapang dada dalam menghadapi pasangannya. Ia tidak mudah terpancing oleh kekhilafan-kekhilafan kecil istrinya, melainkan memilih untuk bersabar, menahan amarah, dan menanggapi dengan kasih sayang.
Ketika seorang istri melakukan kesalahan atau menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan, suami yang ideal tidak serta-merta membalas dengan kemarahan atau tindakan kasar, tetapi justru menanggapinya dengan kelembutan dan toleransi.
ومن حسن عشرة الرجل للمرأة أن يتحمل أذاها ويتغافل عن كثير مما يصدر منها، رحمة بها وشفقة عليها، وقد أمر الله تعالى بمعاشرة النساء بالمعروف، كما أمر بمصاحبة الوالدين بالمعروف، فقال في الوالدين: (وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا)، وقال في النساء: (وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا)
Artinya: “Termasuk dari baiknya pergaulan seorang laki-laki terhadap perempuan (istri) adalah kesediaannya menahan gangguan darinya dan berpura-pura tidak tahu terhadap banyak hal yang muncul darinya, karena kasih sayang dan belas kasih kepadanya. Allah Ta'ala telah memerintahkan untuk mempergauli para wanita dengan cara yang baik, sebagaimana Dia juga memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Allah berfirman tentang kedua orang tua: 'Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik' (QS. Luqman: 15), dan tentang para istri: 'Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik' (QS. An-Nisa: 19). Jika kalian membenci mereka, bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Adab al-Islam fii Nizham al-Usrah, [Makkah, Maktabah al-Malik, 2002] hal. 11)
2. Suami yang Romantis dan Penuh Perhatian
Ciri suami ideal menurut Sayyid Alwi berikutnya adalah kemampuan suami untuk berinteraksi secara lembut dan mesra dengan istrinya. Islam tidak mengajarkan kekakuan dalam hubungan suami istri, tetapi justru mendorong sikap yang hangat, penuh kasih, dan menyenangkan dalam kehidupan rumah tangga.
ومن حسن عشرة الرجل للمرأة: أن يمازحها ويداعبها، فإن في المداعبة تطييبا لقلبها وراحة لنفسها وجبرا لخاطرها، وإنه تنشيطها إلى العمل عن رغبة في إرضاء الزوج وحب له
Artinya: “Termasuk dari bentuk baiknya pergaulan seorang laki-laki terhadap istrinya adalah bercanda dan bersenda gurau dengannya. Karena dalam candaan itu terdapat penghiburan bagi hatinya, ketenangan untuk jiwanya, dan penguatan untuk perasaannya. Candaan itu juga menjadi semangat bagi istri untuk melakukan sesuatu dengan sukarela, karena ingin menyenangkan suami dan karena cinta kepadanya.” (Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, Adab al-Islam fii Nizham al-Usrah, [Makkah, Maktabah al-Malik, 2002] hal. 12)
Suami ideal dalam Islam bukanlah sosok yang sekadar kuat secara fisik atau dominan, melainkan pribadi yang menjadi rahmat bagi istri dan keluarganya. Ia menciptakan sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam rumah tangga sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, sebagai sahabat yang lembut, pendengar yang baik, dan pemimpin yang penuh kasih.
Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki menjelaskan bahwa suami ideal adalah yang lapang dada, sabar atas kekurangan istri, dan menanggapi dengan kasih sayang. Ia juga romantis, memperhatikan perasaan istri dengan senda gurau yang menyenangkan, serta tidak memaksakan diri dalam memberi nafkah. Semua ini adalah bentuk nyata dari pergaulan yang baik dalam rumah tangga menurut Islam. Wallahu a'lam.
Muhaimin Yasin
Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman
Editor: Muhammad Faizin


