Arina.id -- Pemindahan arah kiblat merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Sya'ban, tepatnya pada tahun ke-2 Hijriyah.
Peristiwa perubahan kiblat menandai perubahan arah ibadah umat Islam dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah. Kejadian ini memiliki makna yang mendalam bagi perkembangan Islam dan kesatuan umat Muslim dalam beribadah.
Latar Belakang Peristiwa
Ketika perintah untuk shalat lima waktu diberikan kepada Nabi Muhammad selepas peristiwa Isra Mi’raj, tentu saja saat itu mereka shalat menghadap Ka’bah mengingat Nabi masih tinggal di Makkah. Saat nabi beserta para Sahabat Muhajirin pindah ke Madinah, kaum muslimin kemudian shalat menghadap Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha di Palestina. Peristiwa ini terekam pada keterangan dalam Tafsir Ibnu Katsir, j. I, h. 272:
كَانَ أَوَّلُ مَا نُسِخَ مِنَ الْقُرْآنِ الْقِبْلَةُ، وَذَلِكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَكَانَ أَهْلُهَا الْيَهُودَ، أَمَرَهُ اللَّهُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَفَرِحَتِ الْيَهُودُ، فَاسْتَقْبَلَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يحب قبلة إبراهيم، وكان يَدْعُو وَيَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ
Artinya: “Hal yang pertama kali di-naskh (salin) dalam Al-Qur’an ialah kiblat, bahwasanya Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, sementara penduduk madinah mayoritas adalah Yahudi, Allah memerintahkan untuk menghadap Baitul Maqdis (ketika shalat), maka berbahagialah orang Yahudi. Rasulullah menghadap Baitul Maqdis (ketika shalat) selama lebih dari 10 bulan, padahal beliau lebih senang pada kiblatnya Nabi Ibrahim (Ka’bah), maka beliau seringkali berdoa dan menghadap ke langit”
Beberapa pendapat sejarawan menyimpulkan bahwa kaum muslimin shalat menghadap Baitul Maqdis selama 17 bulan lebih 3 hari. Sebagaimana disebutkan pada keterangan Ibnu Katsir di atas, sesungguhnya Nabi SAW tidak menyukai shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Beliau lebih suka jika shalat menghadap Ka’bah di Makkah mengingat itu adalah kiblat shalat sejak zaman Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai Bapak Ketauhidan, bahkan sejak zaman Nabi Adam sebagai manusia pertama di muka bumi.
Turunnya Perintah Pemindahan Arah Kiblat
Itulah mengapa Nabi sering kali menengadah ke atas langit, berharap wahyu turun yang memerintahkan agar kembali shalat menghadap Ka’bah. Hingga kemudian -sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qurthubi, j. I, h. 671- pada malam Selasa di pertengahan bulan Sya’ban yang dikenal dengan istilah malam Nisfu Sya’ban, turunlah surat Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَووَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّببِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”
Perubahan arah kiblat terjadi ketika Rasulullah SAW dan para sahabat sedang melaksanakan shalat di Masjid Bani Salamah, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat). Hingga kini, di Masjid tersebut masih terdapat dua buah pengimaman, satu menghadap ke Ka’bah yang dipakai hingga sekarang dan satu lagi menghadap ke Baitul Maqdis dan tidak dipakai, namun dipertahankan sebagai bukti pengingat sejarah.
Setelah ayat ini turun, Rasulullah SAW segera berbalik arah ke Ka'bah, dan para sahabat yang sedang shalat pun mengikuti perubahan tersebut tanpa ragu.
Makna dan Hikmah Perubahan Arah Kiblat
Beberapa makna dan hikmah dari perubahan arah kiblat ini diantaranya ialah:
1. Penegasan Identitas Islam
Perpindahan kiblat menjadi simbol bahwa Islam memiliki identitas sendiri yang berbeda dari agama sebelumnya, khususnya Yahudi yang menjadikan Masjidil Aqsha sebagai kiblat mereka. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pemindahan arah kiblat yakni kembali ke Ka’bah ini menegaskan kemurnian tauhid kaum muslimin karena mengacu kepada kiblat nabi-nabi terdahulu, yakni Ka’bah di Makkah al-Mukarramah.
2. Bukan Kiblatnya yang Terpenting, Namun Sang Pemilik Kiblat
Peristiwa pemindahan arah kiblat ini tentu menggembirakan hati Nabi dan para Sahabat terlebih Sahabat Muhajirin yang memang berasal dari Makkah. Di sisi lain, bagi kaum Yahudi, pemindahan ini merupakan pukulan telak bagi mereka hingga mereka melontarkan isu bahwa Nabi adalah orang yang plin-plan.
Suara serupa dikumandangkan oleh orang-orang musyrik penyembah berhala yang kemudian menganggap Tuhannya Muhammad kacau karena memerintahkan menghadap ke sana-kemari ketika shalat. Untuk membantah isu tersebut, Allah kemudian menurunkan ayat 177 surat Al-Baqarah yang menjelaskan bahwa hal yang terpenting adalah menyembah pada Sang Pemilik Kiblat:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
3. Ujian Keimanan Umat Islam
Peristiwa ini menjadi ujian bagi kaum Muslimin untuk melihat siapa yang benar-benar mengikuti ajaran Rasulullah SAW dengan penuh keimanan. Ini tergambar dalam ayat ke 143 surat Al-Baqarah:
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
4. Menegaskan Kesucian Ka'bah
Ka'bah adalah pusat ibadah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail atas perintah Allah, sehingga pemindahan kiblat mengembalikan fitrah ibadah kepada Allah sekaligus kembali kepada fitrah ketauhidan.
Peristiwa pemindahan kiblat di bulan Sya'ban tahun ke-2 Hijriyah merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Islam yang menegaskan keistimewaan Ka'bah sebagai pusat ibadah. Hal ini juga menjadi bukti ketaatan umat Islam terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Hingga saat ini, perubahan kiblat ini terus dikenang dan menjadi bagian dari sejarah besar perjalanan Islam.
Editor: Muhammad Zunus


