Keberadaan waliyullah di muka bumi ini merupakan bagian dari keyakinan yang banyak dianut oleh umat Islam, khususnya kalangan Ahlussunnah wal Jama‘ah. Pembahasan mengenai sosok para kekasih Allah ini kemudian banyak disorot dan dikaji oleh ulama ahli tasawuf.
Salah satu ulama yang menjelaskan tentang sosok para wali ini adalah Syekh Abu Bakar Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah AL-Hatimi atau lebih dikenal dengan Ibnu Arabi. Ia adalah tokoh sufi terkemuka yang pemikirannya tidak hanya dikaji oleh ahli tasawuf, melainkan juga oleh para filsuf.
Dalam kitab al-Futuhatul Makkiyyah, karya monumental Ibnu Arabi, ia menyebutkan bahwa ada sejumlah struktur kewalian dan kelompok wali Allah yang tersebar di seluruh penjuru dunia, di antaranya adalah wali Aqtab, A’imah, Autad, Abdal, Nuqaba, Nujaba, Hawariyyun, Rajabiyun, dan khatmul wilayah.
Menariknya, dari tingkatan wali tersebut ada kelompok wali yang namanya Rajabiyyun, yaitu para wali Allah yang hanya muncul di bulan Rajab. Menurut Ibnu Arabi, jumlah mereka ada 40 orang di seluruh penjuru dunia. Ibnu Arabi menjelaskan:
ومنهم رضي الله عنهم الرجبيون وهم أربعون نفسا في كل زمان لا يزيدون ولا يينقصون
Artinya: “Di antara mereka (wali-wali Allah), semoga Allah meridai mereka, ada yang disebut Rajabiyyun. Mereka berjumlah empat puluh orang pada setiap zaman, tidak bertambah dan tidak berkurang." (Ibnu Arabi, Futuhatul Makiyyah [Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah: 1999], juz III, h.14)
Ibnu Arabi menyebutkan bahwa Wali Rajabiyyun memiliki ciri khas tersendiri, yaitu mengalami keadaan spiritual (hal) hanya di bulan Rajab, yakni sejak munculnya hilal Rajab hingga berakhirnya bulan tersebut. Setelah melewati Rajab, mereka akan kembali menjadi hamba Allah pada umumnya. Jika panjang umur, mereka akan kembali mengalami keadaan itu di bulan Rajab tahun berikutnya.
Menurut Ibnu Arabi, ciri yang paling menonjol dalam diri Wali Rajabiyyun adalah merasakan beban sangat luar biasa yang mereka alami di awal bulan Rajab. Beban tersebut memengaruhi terhadap kondisi fisik terlebih lagi pada dimensi spiritual mereka. Ibnu Arabi menggambarkan:
أطبقت عليهم السماء فيجدون من الثقل بحيث لا يقدرون على أن يطرفوا ولا يتحرك فيهم جارحة
Artinya: “Langit seakan menekan mereka sehingga mereka merasakan beban yang sangat berat, seolah mereka tidak mampu mengedipkan mata, dan tidak ada satu pun anggota tubuh yang dapat bergerak.”
Selanjutnya, beban yang mereka pikul akan berkurang di hari kedua, apalagi di hari ketiga. Setelah itu, terbukalah tabir dalam dimensi spiritual mereka. Pada saat itulah hati mereka akan menerima kasyaf, tajalli, dan pengetahuan terhadap hal-hal gaib.
Tidak hanya itu, mereka pun akan kembali berinteraksi dengan orang lain seperti biasanya. Namun beban spiritual tersebut masih melekat dalam diri mereka hingga akhir bulan Rajab. Beratnya keadaan ruhani itu akan terangkat sepenuhnya ketika telah memasuki bulan Sya‘ban, tapi ada juga sebagian Wali Rajabiyyun yang tetap merasakan percikan-percikan ilahiyah itu.
Berdasarkan pengalaman Ibnu Arabi, ia pernah bertemu dengan salah seorang Wali Rajabiyun di Dunaysir, daerah yang saat ini masuk wilayah Turki. Menurut Ibnu Arabi, sosok tersebut berhasil mengungkap seorang Syiah Rafidah yang secara lahiriah tidak menampakkan aliran tersebut. Wali itu kemudian menasihatinya dan memintanya agar segera bertobat kepada Allah.
Demikian gambaran kelompok Wali Rajabiyyun, para kekasih Allah yang keadaan spiritualnya menonjol hanya di bulan Rajab. Keberadaan mereka seakan memberikan isyarat bahwa bulan Rajab memiliki keistimewaan tersendiri, yakni bulan ketika Allah memperlihatkan rahasia dan dimensi spiritual kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Wallahu a’lam.
Editor: Muhammad Zunus


