Arina.id - Rajab adalah salah satu bulan mulia yang berasal dari kata tarjib, yang berarti agung. Sebagian ulama mengartikan tumpah (al-Asabb), yakni tumpahan rahmat untuk orang yang bertaubat dan terkabulnya doa orang yang telah melakukan amal ibadah ikhlas karena Allah.
Imam Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub menyebut Rajab sebagai al-asham (tuli) atau tidak mendengar suara gemerincing pedang yang sedang beradu dalam peperangan. Namun sebagian ulama mengatakan, Rajab adalah nama sungai yang terdapat di surga yang memiliki warna putih melebihi putihnya susu dan sangat manis dari pada manisnya madu, dan lebih dingin dari pada es.
Syekh Muttaqi Al-Hindi (975 H) dalam kitab Kanzul Ummal juz 12/311, tepatnya di aplikasi Mausu’ah Asfar, menyebutkan:
إن رجبا شهر عظيم تضاعف فيه الحسنات، من صام يوما منه كان كصيام سنة
Artinya: "Sesungguhnya Rajab adalah bulan yang agung dan amal kebaikan akan dilipatgandakan, siapa saja yang berpuasa satu hari di bulan Rajab, maka (pahalanya) seperti berpuasa setahun."
Pernyataan Al-Hindi ini tentu cukup beralasan mengingat bulan Rajab adalah bulan untuk memperbanyak amal ibadah, menghindari peperangan, khusyuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, membaca Al-Qur'an, dan mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Sya’ban dan Ramadhan.
Terdapat sebuah kisah seorang ibu yang mengamalkan bacaan surat Al-Ikhlas di bulan Rajab, kemudian ia mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Berikut kisah yang termuat dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Al-Ghazali:
وحكى ان امرأة في بيت المقدس كانت تقرأ كل يوم من رجب قل هو الله احد اثنتي عشرة الف مرة وكانت تلبس الصوف في شهر رجب فمرضت واوصت ابنها ان يدفن معها صوفها
Artinya: "Dikisahkan, seorang ibu yang berada di Baitul Muqaddas setiap hari di bulan Rajab membaca qul huwallahu ahad 12.000 kali dengan berpakaian wol (pakaian kasar), kemudian dia sakit dan berwasiat kepada anaknya agar dikubur bersama pakaian wolnya."
فلما ماتت كفنها في ثياب مرتفعة فرأها في منامه تقول له انا عنك غير راضية لانك لم تعمل بوصيتي فانتبه فزعا واخذ صوفها ليدفنه معها فنبش قبرها فلم يجدها فيه فتحير فسمع نداء اما علمت ان من اطاعنا في رجب لانتركه فردا وحيدا.
"Ketika sang ibu meninggal, lalu anaknya mengkafani dengan pakaian yang bagus (bukan pakaian wol), kemudian dia berjumpa ibunya dalam mimpi seraya berkata: aku tidak rela padamu, karena engkau tidak melaksanakan wasiatku. Anak itu terbangun dan secepatnya mengambil pakaian wol untuk dikuburkan di makam ibunya, dia menggali kuburan ibunya akan tetapi tidak menemukan jenazah ibunya. Di saat sedang kebingungan, tiba-tiba terdengar suara: tidakkah engkau ketahui bahwa seseorang yang taat kepadaku di bulan Rajab tidak akan kubiarkan sendirian di dalam kuburnya."
Kisah ini mengandung pelajaran penting yang dapat dipetik, yakni bahwa keistiqomahan seseorang yang beribadah, memperbanyak membaca al-Quran, mendekatkan diri kepada Allah akan mendapat kemuliaan dari Allah.
Walhasil, dari kisah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa bulan Rajab memiliki keistimewaan yang luar biasa, sebab bulan Rajab adalah salah satu bulan mulia (asyhurul hurum) yang sejajar dengan bulan Muharram, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan sebaiknya diisi dengan memperbanyak amal ibadah; membaca Al-Quran, berpuasa, bersedekah, tahajjud, berbuat baik kepada sesama. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


