Para sahabat Nabi merupakan manusia-manusia pilihan yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, terlebih jajaran Khulafaurrasyidin, yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Talib. Seiring waktu berjalan, hubungan yang baik sebagai seorang sahabat menjadikan mereka memiliki hubungan kekerabatan.
1. Abu Bakar
Salah satu sahabat Rasulullah yang dikenal memiliki hati yang lembut adalah Abu Bakar As-Siddiq. Sosok pertama yang membersamai Nabi Muhammad hingga tutup usia ini adalah tipikal sahabat yang mempercayai apapun yang dikabarkan oleh Rasulullah, seperti peristiwa Isra’ Mi’raj. Profil Abu Bakar tergambar sebagai berikut:
التعريف بأبي بكرهو عبد الله بن عثمان بن عامر بن عمرو بن كعب بن سعد بن تيم بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب، ويلتقي بنسبه مع النبي في مرة
Artinya: "Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib. Pada kakek bernama Murrah, nasab Abu Bakar bertemu dengan nasab Rasulullah SAW." (Lihat Tarikh Khulafa’ Rasyidin 1/13).
Sahabat Abu Bakar sendiri merupakan khalifah pertama sepeninggal Rasulullah dan menjabat selama 2 tahun setengah (11-13 H/632-634 H). Abu Bakar diberi gelar As-Siddiq atau orang yang sangat mempercayai Nabi Muhammad.
Ikatan keduanya sangat erat, dari persahabatan hingga berlanjut menjadi hubungan menantu mertua, yakni Nabi Muhammad menikahi Aisyah binti Abu Bakar.
2. Umar bin Khattab
Sedangkan yang kedua adalah sahabat Nabi yang terkenal keras dan tegas, yaitu Umar bin Khattab. Sosok satu ini ditakuti dan disegani oleh lawan. Bahkan pernah saat akan hijrah ke Madinah, Umar bin Khattab dengan keberanian yang luar biasa ini diabadikan oleh Ibnu Asakir:
أخرج ابن عساكر عن علي قال: ما علمت أحدا هاجر إلا مختفيا إلا عمر بن الخطاب، فإنه لما هم بالهجرة.. تقلد سيفه، وتنكب قوسه وانتضى في يده أسهما، وأتى الكعبة وأشراف قريش بفنائها، فطاف سبعا، ثم صلى ركعتين عند المقام، ثم أتى حلقهم واحدة واحدة، فقال: شاهت الوجوه، من أراد أن تثكله أمه وييتم ولده، وترمل زوجته.. فليلقني وراء هذا الوادي، فما تبعه منهم أحد
Artinya: "Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ali, aku tidak pernah melihat satu pun sahabat yang hijrah melainkan dengan cara sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Khattab. Saat dia akan hijrah, dia mengalungkan pedang, menenteng busur, memegang anak panah, dan mendatangi Ka’bah serta pembesar Quraisy. Kemudian tawaf tujuh kali, sholat sunnah dekat maqam Ibrahim, mendatangi perkumpulan Quraisy satu persatu lalu dia berkata: Siapa yang menginginkan ibunya susah, anaknya yatim, istrinya janda, ayo duel denganku di balik bukit ini. Lalu tidak ada satupun yang berani menerima tantangannya."
Seperti halnya Abu Bakar, ikatan persahabatan Umar bin Khattab semakin erat sebab menjadi mertua Nabi Muhammad yang memperistri Hafsah binti Umar bin Khattab.
3. Utsman bin Affan
Selanjutnya sahabat ketiga adalah Utsman bin Affan, sosok sahabat yang dikenal sangat tampan, lembut, pemalu dan dermawan.
Utsman menikahi putri Rasulullah yang bernama Ruqayyah. Peristiwa ini terjadi sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi. Ruqayyah wafat pada malam perang Badar, sehingga Utsman datang belakangan di perang Badar, sebab menjaga Ruqayyah yang sakit keras atas izin Rasulullah.
Lalu Rasulullah menikahkan Utsman bin Affan dengan Ummi Kultsum, adik dari Ruqayyah, namun Ummi Kultsum wafat pada tahun 9 hijriah. Dari pernikahan dengan kedua putri agung itu, Utsman dijuluki Dzunnurain (pemilik dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah.
Makam ketiga sahabat ini berada dalam satu lokasi di Madinah. Berbeda dengan Ali bin Thalib yang lokasi makamnya tidak berada di Madinah maupun Makkah.
4. Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Talib dikenal sebagai pemuda pemberani. Ali bin Abi Thalib erat hubungannya dengan Nabi Muhammad sebab masih sepupu. Lalu hubungan keduanya menjadi semakin kuat sebab statusnya adalah menantu dan mertua, yakni Ali menikah dengan Fatimah binti Nabi Muhammad SAW.
Keseluruhan sahabat Nabi disebutkan dalam salah satu riwayat:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَشَرَةٌ مِنْ قُرَيْشٍ فِي الْجَنَّةٍ أَنَا فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فِي الْجَنَّةِ ثُمَّ سَكَتَ سَعِيدٌ فَقَالُوا مَنِ الْعَاشِرُ؟ فَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا
Artinya: "Diriwayatkan dari Sa’id bin Zain bin Amr bin Nufail, Rasulullah saw bersabda, “Ada sepuluh orang dari kaum Quraisy yang akan berada di surga. Aku di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, az-Zubair di surga, Thalhah di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’d bin Abi Waqash di surga,” Sa’id pun berhenti sejenak, hingga para sahabat yang menyimak bertanya, “Siapa yang kesepuluhnya?” Sa’id pun menjawab, “Aku.” (Lihat: Musnad al-Humaidi, [Damaskus: Darus-Saqa], 1996, juz I, halaman 197).
Dari sini dapat disimpulkan, persahabatan yang didasari kepercayaan (siddiq), ketegasan, kelembutan, keberanian yang diikat menjadi hubungan kekerabatan semakin memperkuat soliditas umat Islam pada masa itu.
Perjuangan para sahabat Nabi, mulai Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dalam berjuang bersama Nabi Muhammad menyebarkan agama Islam patut menjadi teladan. Seperti pembelaannya terhadap Nabi Muhammad yang dituduh sebagai pembohong terkait isra’ mi’raj, bagaimana pula kesetiaannya menemani Nabi Muhammad saat hijrah dan bersembunyi di gua Tsur.
Kecintaan dan kesetiaan para sahabat terhadap Nabi Muhammad sangat tepat menjadi inspirasi dan teladan bagi umat Islam agar memiliki mahabbah yang kuat kepada Rasulullah, tak gentar menghadapi segala macam rintangan dan semangat untuk berjuang menegakkan panji Islam yang mulia.
Editor: Muhammad Faizin


