Roda kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan dengan mulus, terkadang ada saja ujian yang menerpanya. Ujian tersebut bisa datang dari dalam, mulai dari komitmen hingga masalah ekonomi keluarga. Ada juga ujian yang datang dari luar, misalnya pihak ketiga yang masuk di tengah keharmonisan keluarga.
Pihak ketiga ini ada kalanya memang sengaja masuk dalam kehidupan rumah tangga dengan tujuan ingin merusak hubungan keluarga. Salah satu contohnya sebagaimana dikisahkan oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Uyunul Hikayat, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2019], halaman 122-123.
***
Dikisahkan, ada seorang lelaki saleh dari kalangan Bani Israil yang punya istri cantik jelita dan kecantikannya itu memang diakui oleh banyak orang. Meski bekerja sebagai buruh kasar, kehidupan keluarga lelaki saleh itu terlihat bahagia hingga akhirnya berubah ketika datang pihak ketiga.
Suatu hari, penguasa setempat yang sudah lama mengetahui kecantikan wanita tersebut, mencoba mencari cara agar bisa menikahinya. Masalahnya wanita cantik ini berstatus istri orang. Penguasa itu pun terus mencari cara hingga akhirnya ia teringat pada seorang nenek yang ada di lingkungan istana.
"Nek, coba kamu temui wanita itu dan lakukan sesuatu agar dia bercerai dengan suaminya," ujar si penguasa kepada seorang nenek yang ahli dalam siasat dan memengaruhi orang lain.
Si nenek pun langsung berangkat menuju rumah wanita cantik yang dimaksud. Narasi yang disampaikan si nenek rupanya cukup jitu hingga membuat wanita cantik itu mulai terpengaruh.
"Suamimu hanya buruh kasar, apa kamu rela hidup tidak punya apa-apa seperti ini? coba kalau suamimu penguasa tentu kamu akan diberi perhiasan, pakaian sutera, dan hidupmu akan dilayani para pembantu," kata si nenek.
Awalnya wanita cantik itu tidak menggubris perkataan si nenek dan semua perkataannya dianggap sebagai angin lalu. Namun nenek tua itu terus menerus memengaruhi hingga wanita cantik itu yang pada akhirnya ia termakan hasutan dan bujuk rayu si nenek itu.
Sejak saat itu, wanita cantik ini mulai berubah sikap pada suaminya. Sebelumnya, dia biasa menyiapkan berbagai kebutuhan suaminya, mulai dari makan hingga tidur. Namun sejak bertemu dengan nenek tua tersebut, dia sudah tidak mau melakukannya lagi.
"Istriku, kenapa sekarang kamu berubah dan tidak lagi seperti istriku yang aku kenal selama ini?" kata si suami kepadanya.
"Aku memang begini sebagaimana yang kamu lihat sendiri," jawabnya ketus.
Melihat istrinya terus berperilaku yang sama, akhirnya lelaki saleh ini mengetahui bahwa istrinya itu ingin berpisah dengannya. Pernikahan mereka pun akhirnya kandas dan lelaki saleh ini pun menceraikan istrinya.
Singkat cerita, setelah bercerai dengan suaminya, wanita cantik itu dinikahi oleh si penguasa yang sudah lama mengincarnya. Awalnya pengantin baru ini mengira hidupnya akan bahagia namun ternyata malah sebaliknya.
Di malam pertama, saat keduanya hendak bercumbu, tubuh kedua pasangan ini tiba-tiba menjadi lunglai yang mengakibatkan syahwat dalam diri mereka pun menjadi hilang. Di keesokan harinya, kondisi mereka tetap tidak berubah bahkan malah semakin parah.
Akhirnya, kabar yang dialami keduanya pun viral di kalangan masyarakat. Berita ini kemudian dilaporkan kepada seorang nabi Bani Israil dan sang nabi pun mengadukan permasalahan ini kepada Allah. Tidak lama kemudian turun wahyu yang menyatakan bahwa pintu ampunan sudah tertutup untuk mereka berdua karena mereka telah menyakiti dan berbuat zalim pada hamba yang dicintai-Nya.
***
Kisah ini mencerminkan tentang pentingnya menjaga komitmen dalam kehidupan rumah tangga. Komitmen ibarat akar yang akan menguatkan 'pohon pernikahan' dari angin dan badai ujian. Sebagaima diketahui, ujian seorang wanita biasanya datang ketika suami tidak punya apa-apa dan ujian seorang lelaki datang ketika dia memiliki segalanya, sebagaimana tergambar pada sosok wanita cantik dan penguasa dalam kisah ini.
Kisah ini juga bisa dianggap sebagai peringatan bagi orang yang hendak menjadi Pelakor (perebut laki orang) atau Pebinor (perebut bini orang). Merebut pasangan orang lain, apalagi orang saleh, bisa membawa dampak buruk. Datangnya dampak buruk tersebut bisa dalam waktu singkat seperti yang terjadi pada kisah ini, bisa juga di beberapa waktu kemudian. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


