Allah menciptakan semua makhluk-Nya tidak ada yang sia-sia, semuanya memiliki manfaat yang terkadang tidak diketahui oleh manusia. Hanya manusia yang berdzikir dan bertafakurlah yang mampu mengetahuinya. Hal ini sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam Surat Ali Imran ayat 191:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka."
Mengenai hal ini, ada sebuah kisah menarik yang diungkap oleh Syekh Ahmad Syihabudin Al-Qulyubi dalam kitab An-Nawadir fi Hikayatis Shâliḫîn wa ‘Ajâ’ibil Mutaqaddimin (Kairo, Darul Afaq al-Arabiyah: 2010), halaman 84.
Dikisahkan ada seorang lelaki, sebut saja Fulan yang tidak sengaja melihat kumbang. Ia pun mencibir makhluk Allah tersebut dan menganggap bahwa kumbang itu punya bentuk tubuh yang jelek dan baunya pun tak sedap. Bahkan sampai berpikir untuk apa Allah menciptakan kumbang yang berkarakter demikian?
Tidak lama kemudian Fulan jatuh sakit, penyakit borok menyerang tubuhnya. Ia mencoba berobat ke dokter namun dinilai sia-sia karena boroknya tidak juga hilang. Bukan hanya mendatangi satu dokter, ia berobat ke beberapa dokter dan hasilnya tetap sama, tidak sembuh.
Suatu hari, dari sebuah jalan sempit tiba-tiba ada seseorang yang terus-terusan memanggil, tapi Fulan tak menggubrisnya karena orang tersebut dianggap asing dan tidak dikenal.
"Tolong panggil dia kemari, mungkin dia bisa menyembuhkan penyakitku," ucap Fulan pada orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Bagaimana mungkin orang tidak jelas seperti dia bisa menyembuhkanmu? Orang dokter saja tidak sanggup," jawab salah seorang di antara mereka.
"Tidak apa-apa, mungkin dia bisa menyembuhkanku," jawab Fulan.
Setelah bertemu dan melihat penyakit borok Fulan, orang asing itu kemudian meminta seseorang untuk mencari kumbang. Setelah mendengar permintaan itu, orang-orang menertawakannya karena bagaimana bisa kumbang bisa menyembuhkan borok.
Pada saat yang sama, Fulan teringat pada perilakunya beberapa waktu lalu yang mencela dan mencibir kumbang. Ia pun akhirnya menuruti permintaan orang asing itu untuk membawakan kumbang.
"Sudahlah, jangan tertawa lagi. Orang ini lebih paham dengan urusannya. Tolong carikan kumbang dan bawa kemari," ujar Fulan.
Tidak perlu waktu lama, kumbang pun disodorkan kepada orang asing itu. Ia pun kemudian membakar kumbang dan bubuknya dioleskan pada luka borok pada tubuh Fulan. Dengan izin Allah, Fulan akhirnya sembuh dari penyakitnya.
Kisah ini mengandung hikmah yang dapat dipetik pelajarannya, di antaranya adalah anjuran untuk tidak mencela, mencibir, meremehkan, maupun menghina pada makhluk Allah. Jangankan kepada sesama manusia, kepada binatang saja tidak dibolehkan. Mencela makhluk sama saja dengan mencela Allah.
Selain itu, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Allah menciptakan makhluk-Nya tidak ada yang sia-sia, semuanya mengandung hikmah dan manfaat tersendiri. Wallahu a‘lam.
Editor: Muhammad Faizin


