Dikisahkan, ada seorang raja yang pergi berburu ke hutan ditemani sejumlah sahabatnya. Keasyikan mengejar hewan buruan membuat raja tersesat dan berpisah dengan para sahabatnya. Raja pun mulai panik dan kebingungan ketika langit mulai gelap dan turun hujan.
Di tengah kepanikan tersebut, raja mulai memacu kudanya untuk bergeser mencari tempat berteduh. Tidak lama kemudian dilihatnya sebuah gubuk, tanpa berpikir panjang ia langsung mendekati gubuk tersebut dan mendapati seorang nenek tua sedang duduk sendirian di depan pintu. Raja pun langsung mengucapkan salam dan meminta izin.
“Nek, bolehkah saya ikut berteduh di sini?” ucap sang raja, setelah ia mengikat kudanya di kandang sapi.
"Boleh, silahkan," jawab si nenek.
Tak berselang lama, datang anak perempuan si nenek sambil membawa seekor sapi betina gembalaannya. Usai memasukkan sapi ke kandang, perempuan itu langsung memerah susu sapi, hasilnya pun cukup banyak.
"Aku akan menerapkan pajak untuk sapi betina yang ada di wilayahku," ucapan itu terbersit dalam hati sang raja usai melihat sapi betina di hadapannya mengeluarkan susu yang melimpah.
Malam pun semakin larut, raja tidak punya pilihan lain selain menginap di gubuk tersebut. Pada saat yang bersamaan raja sulit memejamkan matanya untuk tidur, ia bahkan malah merancang regulasi pajak sapi betina.
“Nak, coba pergi ke kandang dan memerah susu,” pinta sang nenek kepada anaknya di pertengahan malam.
Anak perempuannya pun langsung bergegas menuju kandang untuk memerah sapi. Ia kemudian merasa ada yang tidak beres karena saat diperah, sapi itu nyaris tidak mengeluarkan air susunya.
“Bu, sepertinya raja punya niat jahat pada kita. Sapi ini tidak mau mengeluarkan susunya!” ujarnya.
“Ya sudah, malam masih panjang, nanti kamu coba perah lagi,” jawab si nenek.
Raja pun merasa kaget ketika mendengar percakapan si nenek dengan anaknya.
“Dari mana mereka bisa tahu niatku? Baiklah, kalau begitu saya tidak akan menerapkan pajak sapi betina,” ucap sang raja dalam hati.
Beberapa saat kemudian si nenek membangunkan kembali anaknya agar segera pergi ke kandang dan memerah sapi.
“Ibu, niat jahat raja sudah hilang. Sapi ini mengeluarkan susu lagi,” ungkap anaknya yang berhasil memerah sapi seperti biasanya.
Malam telah berlalu dan berganti pagi. Raja akhirnya ditemukan oleh sahabatnya setelah semalaman mereka menyusuri jejak sang raja.
Raja kemudian naik ke atas kuda dan bersiap untuk pulang. Ia kemudian menginstruksikan sahabatnya untuk membawa si nenek dan anaknya ke kerajaan.
Saat di istana, raja menyambut dan memuliakan mereka berdua. Tanpa basa-basi, raja langsung melemparkan pertanyaan pada nenek dan anaknya.
"Bagaimana kalian bisa tahu bahwa raja punya niat tidak baik? Dan bagaimana kalian bisa tahu bahwa raja telah mengurungkan niatnya yang tidak baik itu?" tanya raja kepada mereka berdua.
Si nenek kemudian menjawab bahwa ia dan anaknya sudah lama tinggal di kampung tersebut dan mempunyai pengalaman tersendiri.
"Pengalaman saya selama tinggal di sana, selama keadilan ditegakkan, maka kampung kami itu subur, makmur, dan kehidupan kami serba berkecukupan. Namun, ketika ada suatu kezaliman, maka kehidupan kami menjadi serba sulit dan sumber-sumber penghidupan kami menjadi terputus," jawab si nenek.
Kisah ini diungkap oleh Imam Ibnu Jauzi dalam Kitab 'Uyunul Hikayat (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2019), halaman 299-300.
Dari kisah ini dapat dipetik sebuah pelajaran tentang pentingnya seorang pemimpin memiliki perasaan kasih sayang kepada rakyat atau bawahannya. Seorang pemimpin diharapkan tidak mempunyai niat, terlebih sampai membuat aturan yang dapat merugikan dan membuat sengsara rakyatnya.
Kasih sayang pemimpin yang ditebarkan kepada rakyatnya akan membawa dampak positif terhadap masyarakat, binatang, tumbuhan, dan alam semesta.
Di sisi lain, mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj dalam sebuah kesempatan menjelaskan bahwa pemimpin yang mempunyai spiritualitas yang baik bisa membawa dampak positif pada masyarakat dan alam semesta.
Ulama tasawuf itu menceritakan, saat Gus Dur menjadi presiden, perekonomian dan berbagai usaha dijalankan masyarakat Indonesia banyak yang meningkat, mulai dari hasil pertanian dan peternakan yang melimpah, perdagangan yang laris, dan sebagainya.
Sementara itu, dalam teori fisika quantum disebutkan bahwa bagian terkecil dari sebuah benda adalah quanta atau vibrasi, yaitu sebuah ruang kosong berisi gelombang atau getaran.
Meskipun ruang kosong, tapi vibrasi sangat cerdas dan sangat peka dalam menangkap pesan apa pun yang diterima kemudian menggerakkan benda atau sesuatu yang satu sifat dengannya. Di sisi lain, pusat vibrasi manusia adalah hati atau perasaan, apapun yang dirasakan oleh hati akan memberikan getaran pada seluruh benda yang satu sifat dengannya.
Dengan demikian, vibrasi yang tumbuh dan bergerak dari seorang pemimpin bisa memberikan getaran pada alam semesta, sebagaimana yang terjadi dalam kisah raja dan keluarga nenek di atas. Wallahu a‘lam.
Editor: Muhammad Faizin


