KH Ulil Abshar Abdalla dalam sesi Ngaji Ihya Ulumuddin edisi kedua, memaparkan tentang makna elemen penting dalam diri manusia, yaitu hati dan ruh. Sebagaimana dijelaskan pada sesi sebelumnya, hati merupakan bagian penting dalam diri manusia, untuk itu umat Islam perlu memahami makna hati agar dapat mengenali diri sendiri yang pada akhirnya juga berdampak pada pemahaman dan pengenalan terhadap Tuhan.
1. Makna Hati
Imam Ghazali mengungkapkan bahwa hati dalam diri manusia terdiri dari 2 dimensi, yaitu dimensi lahir dan batin. Hati dalam bentuk lahir dijelaskan oleh Imam Ghazali dengan definisi sebagaimana tercantum dalam kitab Ihya Ulumuddin (Beirut, Daru Ibn Hazm: 2005) halaman 877 berikut ini:
اللحم الصنوبري الشكل المودع في الجانب الأيسر من الصدر، وهو لحم مخصوص، وفي باطنه تجويف، وفي ذلك التجويف دم أسود هو منبع الروح ومعدنه
Artinya: “Daging yang bentuknya seperti pohon pinus (sanubar) yang terletak di bagian kiri dada. Daging ini adalah daging yang dikhususkan, di bagian dalamnya ada lubang dan dalam lubang itu ada darah hitam yang menjadi sumber dari ruh.”
Gus Ulil menyebut bahwa keterangan hati atau jantung dari Imam Ghazali ini belum tentu sesuai dengan konsep anatomi tubuh manusia menurut sains modern. Namun demikian, keterangan Imam Ghazali ini sudah sesuai dengan perkembangan ilmu anatomi tubuh pada zamannya.
“Tetapi ini tidak terlalu penting karena pengertian hati seperti ini tidak terkait langsung dengan pembahasan mengenai hati di dalam tinjauan ilmu tasawuf,” jelas Gus Ulil sebagaimana dikutip dari Youtube Ghazalia College, Ahad (27/10/2024).
Imam Ghazali menegaskan, hati dalam pengertian ini bukan menjadi fokus kajiannya karena hati yang dimaksud adalah jantung dan ini menjadi bagian dari kajian ilmu kedokteran. Selain itu, hati atau jantung ini dimiliki oleh orang yang sudah meninggal, bahkan binatang-binatang pun memilikinya. Maka, hati dalam konteks ini tidak ada kaitannya dengan kajian tasawuf dan tujuan keagamaan.
“Hati dalam pengertian pertama adalah organ tubuh tapi ini bukan hati yang akan menjadi fokus pembahasan dari kitab Ihya,” jelas Gus Ulil.
Adapun hati yang menjadi fokus kajian ilmu tasawuf adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ghazali berikut ini:
والمعنى الثاني : هو لطيفة ربانية روحانية لها بهذا القلب الجسماني تعلق، وتلك اللطيفة هي حقيقة الإنسان وهو المدرك العالم العارف من الإنسان
Artinya: “Makna kedua hati adalah sesuatu yang yang lembut (lathifah), bersifat ketuhanan (rabbaniyyah), dan bersifat kerohanian (ruhaniyyah). Hati tersebut masih ada kaitannya dengan hati dalam pengertian pertama (jantung). Hati yang lembut tersebut adalah esensi manusia karena mempunyai 3 kapasitas mental, yaitu kapasitas tahu (idrak), mengetahui (ilm), dan mengerti/marifat (‘arif),”
Hati dalam pengertian yang kedua ini menjadi objek atau sasaran firman Tuhan, ancaman Tuhan, kritik Tuhan, dan tuntutan Tuhan. Selanjutnya, meski hati dalam pengertian pertama (jantung) dan kedua (spiritual) ini terpisah, namun keduanya saling berhubungan dan terikat satu sama lain.
Di sisi lain, Gus Ulil mengutip kajian ilmu modern yang menyebut bahwa tempat hati dalam pengertian kedua ini bukan di jantung, melainkan ada di otak. “Mana yang benar? buat saya tidak terlalu penting karena yang penting sebetulnya adalah hati dalam pengertian ruhaniyyah itu,” kata Gus Ulil.
Gus Ulil menjelaskan, hati dalam pengertian pertama (jantung) dan kedua (spritual) mempunyai hubungan sebagaimana jism dan aradh atau sifat dan sesuatu yang disifati. Dalam pengajian tersebut, Gus Ulil mengumpamakan gelas yang ada di hadapannya. Gelas tersebut mengandung 2 dimensi, yaitu gelas secara fisik dan atribut yang ada padanya, misalnya bentuknya bulat, warnanya transparan, dan sebagainya.
“Hubungan antara hati fisik dengan hati spiritual, kira-kira sama dengan hubungan antara gelas dan sifat-sifatnya, gelas yang terbuat dari kaca, sifat-sifatnya yang transparan, mudah pecah misalnya dan seterusnya. Jadi ada sifat ada mausuf, ada jisim ada 'aradh, ada esensi ada aksiden,” jelas Gus Ulil.
Jika dikaitkan dengan masa kini, mungkin seperti hubungan antara listrik dengan kabel. Di dalam kabel yang aktif, terdapat aliran listrik yang tidak bisa terlihat secara kasat mata. Namun demikian, kehadiran listrik tersebut bisa dirasakan dan dibuktikan dengan lampu yang menyala misalnya.
Gus Ulil menegaskan, meskipun Al-Ghazali mengritik tajam filsafat melalui kitabTahafutul Falasifah, tetapi sebenarnya Al-Ghazali masih tetap menggunakan pemikiran-pemikiran filsafat. Hal ini terlihat dari corak pemikiran dan sejumlah istilah filsafat yang mewarnai kitab Ihya, misalnya istilah jism-aradh dan sifat-maushuf yang menjadi bagian dari kajian ilmu filsafat.
Perumpaan lain terkait hubungan hati fisik dan hati spiritual adalah seperti alat dan orang yang menggunakan alat tersebut, misalnya HP adalah hati fisik dan orang yang menggunakan HP adalah hati spiritual. Bisa juga seperti hubungan antara sebuah tempat dan orang yang menempati, misalnya kursi adalah hati fisik dan orang yang duduk di atas kursi tersebut adalah hati spiritual.
Penjelasan tentang hati fisik dan hati spiritual ini sebenarnya tidak secara eksplisit ada dalam Al-Qur’an dan hadits, lalu dari mana Al-Ghazali mendapat informasi tentang hati tersebut? Gus Ulil menjelaskan, Imam Ghazali banyak dipengaruhi oleh pemikiran tentang ilmu tasawuf yang saat itu sudah berkembang. Sebelum Al-Ghazali, sudah muncul tokoh-tokoh sufi seperti Imam Junaid Al-Baghdadi, Dzunnun Al-Mishri, Abu Yazid Al-Busthami, Al-Hallaj, dan Abu Thalib Al-Makki.
“Al-Ghazali juga menyumbangkan kontribusi yang baru di dalam kitab Ihya ini. Ada kontribusi yang original dari Imam Ghazali tetapi juga ada sumber-sumber yang diperoleh Al-Ghazali dari para mistikus yang datang sebelum beliau,” jelas Gus Ulil.
2. Makna Ruh
Sebelum mendefinisikan makna ruh, Gus Ulil menyebut bahwa kata “ruh” ini cukup unik karena bentuknya mudzakar (maskulin) tetapi sering dipakai dalam bentuk mu’anats (feminim). Dalam bab ini, Imam Ghazali memperlakukan kata ruh dalam bentuk mudzakar, hal ini terlihat dari isim dlamir yang digunakan untuk merujuk pada ruh dengan diksi “huwa”, bukan “hiya”.
“Mungkin yang dimaksudkan di sini adalah lafal ruh-nya, bukan ruh-nya,” ujar Gus Ulil.
Sebagaimana dengan hati, Imam Ghazali juga mendefinisikan ruh dengan 2 makna. Adapun makna pertama ruh adalah sebagaimana berikut:
جسم لطيف منبعه تجويف القلب الجسماني، فينشر بواسطة العروق الضوارب إلى سائر أجزاء البدن
Artinya: “Organ halus yang sumbernya ada di lobang dalam hati yang bersifat fisik (jantung). Maka (organ halus itu) disebarkan melalui saraf-saraf yang bercabang ke seluruh anggota tubuh.”
Menurut Gus Ulil, definisi ruh ini adalah semacam organ halus yang berpusat di jantung dan menyebar ke seluruh tubuh manusia melalui saraf dan otot. Dalam ilmu anatomi modern, ruh itu semacam energi yang dihasilkan oksigen dan disebarkan melalui darah yang dipompa oleh jantung.
“Ini adalah pengertian ruh di dalam konteks anatomi yang dikenal pada zaman Imam Ghazali, pada abad ke-11 Masehi. Pada saat itu, yang disebut ruh itu adalah organ tubuh yang halus sekali yang menyerupai sebuah energi, tapi dia jisim, dia adalah anggota badan,” ujar Gus Ulil.
Digambarkan Gus Ulil, dalam komik populer atau film horor seringkali ruh digambarkan sebagai sosok halus yang keluar dari tubuh kasar seseorang yang meninggal dunia. Visualisasi ruh tersebut sebenarnya berkaitan erat dengan pengertian ruh yang ada pada zaman klasik.
Imam Ghazali menambahkan, ruh itu semacam energi kehidupan yang tumpah dan mengalir ke dalam seluruh bagian organ tubuh manusia, ruh masuk ke dalam indera penglihatan, indera pendengaran, Indra penciuman, dan seterusnya. Aliran ruh yang mengalir dalam tubuh itu seperti cahaya lampu yang mengalir dan memenuhi sudut-sudut ruangan.
“Kalau Anda punya lampu, Anda hidupkan, dalam hitungan sepersekian detik itu cahayanya itu pelan-pelan mengalir kemudian merembet dan menerangi seluruh sudut-sudut rumah. Itu kan prosesnya mengalir sebetulnya,” terang Gus Ulil.
Gus Ulil membayangkan, jika proses aliran cahaya dari lampu ini direkam dalam bentuk video, lalu diputar ulang dengan gerakan slow motion yang sangat lambat, akan terlihat cahaya tersebut bergerak perlahan dari lampu dan menyebar secara bertahap ke seluruh sudut ruangan. Begitu pun dengan ruh, dia mengalir dari jantung dan masuk ke setiap sudut organ tubuh sehingga dengannya tubuh manusia menjadi hidup dan bisa bergerak.
“Jadi kira-kira ruh itu seperti cahaya lampu yang mengalir menyinari sudut-sudut rumah,” imbuh Gus Ulil.
Imam Ghazali mengungkapkan, makna pertama ruh ini bukan bagian dari kajiannya karena topik ini bagian dari kajian ilmu kedokteran yang berkaitan dengan kesehatan tubuh fisik manusia. Adapun kajian ruh yang menjadi kajian “dokter agama” adalah ruh yang masuk dalam makna yang kedua.
Selanjutnya, makna kedua ruh mirip dengan makna kedua hati, yaitu kapasitas halus atau kapasitas spiritual yang memungkinkan manusia mengetahui dan mengerti pada rahasia Tuhan. Ruh dalam pengertian ini merupakan keajaiban dan misteri ketuhanan yang tidak mudah dijangkau, sehingga banyak orang yang tidak memahami pada esensi ruh tersebut.
“Jadi sama dengan hati, ada dua pengertian, ada ruh yang dhahir ada ruh yang batin, ada dimensi eksoteris ada dimensi esoteris, ada dimensi lahiriyah ada dimensi batiniyah. Kalau kita lihat pendekatan para ahli mistik selalu begitu, melihat semua hal itu dua komponen, ada dhahir ada batin, ada ruh sebagai tubuh halus ada ruh sebagai lathîfah rabbaniyyah. Orang-orang yang masuk di dalam ranah mistik dan sufi, biasanya mereka lebih masuk ke dalam ranah batin ini, ranah kebatinan, kerohanian, spiritualitas,” jelas Gus Ulil.
Dijelaskan Gus Ulil, dalam ajaran Islam ada aspek lahir dan batin. Ketika umat Islam lebih fokus pada aspek lahir akan membuat sikap beragama menjadi kaku dan sempit. Untuk itu, umat Islam dianjurkan agar memperluasnya dengan mengkaji dan mengamalkan ilmu tasawuf. Gus Ulil bahkan menegaskan, tasawuf adalah jalan keberagamaan yang dapat membantu umat Islam, untuk menghindari sikap merasa paling benar dan paling lurus sendiri dalam menjalankan agamanya.
Hal ini pernah dialami sendiri oleh Imam Ghazali, saat masih muda Al-Ghazali pernah mengkritik mazhab Hanafi dalam kitabnya yang berjudul Al-Mankhul min Ta‘liqatil Ushul. Seiring berjalannya waktu dan mulai mengkaji tasawuf, Al-Ghazali semakin dewasa, bijak, dan penuh hikmah sebagaimana terlihat dalam kitab Ihya Ulumuddin. Untuk itu, melalui Ngaji Ihya ini, Gus Ulil mengajak umat Islam untuk memperluas perspektif keberagamaan dengan cara mengintegrasikan aspek syariat dan tasawuf agar memiliki pandangan yang matang, bijak, dan penuh hikmah.
Editor: Aiz Luthfi


