Arina.id - Ramadan 1446 H menjadi momentum istimewa bagi para pencinta ilmu dan Al-Qur’an. Pada Bulan Puasa kali ini, KH. Ulil Abshar Abdalla atau yang akrab disapa Gus Ulil, mengkaji kitab Jawahirul Qur’an, karya ulama besar, Imam Al-Ghazali. Kajian ini disiarkan melalui berbagai platform media sosial dan kanal YouTube Ghazalia College, membuka ruang refleksi tentang cara memahami Al-Qur’an dengan lebih dari sekadar bacaan rutin.
Dalam kajian Ngaji Jawahirul Qur’an, Gus Ulil mengajak untuk melihat bagaimana Imam Al-Ghazali mengkritik cara sebagian orang dalam membaca Al-Qur’an. Banyak yang membaca dengan cepat, berlomba dalam kuantitas tanpa menyentuh kedalaman makna. Imam Al-Ghazali menggambarkan mereka, sebagai orang-orang yang hanya berputar-putar di tepi pantai lautan Al-Qur’an [تطوف على ساحل البحر مُغَمَّضاً], tanpa keberanian menyelam lebih dalam untuk menemukan mutiara hikmah yang tersembunyi di dalamnya.
“Ini kritik kepada orang-orang yang selama ini memperlakukan Al-Qur’an itu, ya nggak serius, dianggap kitab suci, ya dibaca-dibaca saja, kalau pun memahami maknanya, ya makna permukaan saja,” tutur Gus Ulil sebagaimana dikutip dari Ghazali College, Jumat [07/03/2025].
Kritik ini mengingatkan kita bahwa esensi membaca Al-Qur’an tidak hanya pada lafaz, tetapi juga pemahaman dan pengamalan. Dalam pembukaan kitab Jawahirul Qur’an, halaman 21 [edisi Darul Ihyaul Ulum, Beirut] Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an harus diiringi dengan pemahaman makna. Al-Qur’an, kata Imam Ghazali sebagai sebuah lautan luas yang penuh dengan keajaiban dan kekayaan makna.
Seperti seorang penjelajah yang naik kapal dan mengarungi ombak menuju tengah samudera, seorang pencari ilmu harus berani menyelam lebih dalam ke dalam samudera Al-Qur’an untuk menemukan mutiara-mutiara berharga berupa hikmah dan makna tersembunyi yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh.
Lebih jauh, di Jawahirul Qur’an, halaman 21, Al-Ghazali menggunakan metafora yang sangatlah indah dan menggugah. Lautan Al-Qur’an memiliki gelombang besar, yang menggambarkan bahwa memahami isinya membutuhkan perjuangan dan usaha. Tidak cukup hanya menghafal atau membaca dengan cepat, tetapi juga harus ada semangat mencari makna di balik setiap ayat.
Salah satu keistimewaan kitab Jawahirul Qur’an adalah penggunaannya terhadap istilah-istilah batu mulia, seperti al-jauhar (permata), al-yaqut (ruby), dan az-zabarjad (zamrud), untuk menggambarkan kekayaan makna Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks biasa, melainkan sebuah warisan spiritual yang memiliki nilai tinggi dan mendalam.
Namun, sebagaimana permata yang tersembunyi di dasar laut, maknanya tidak akan ditemukan kecuali oleh mereka yang bersedia menyelami dan menggali lebih dalam. Untuk itu, Al-Ghazali mendorong umat Islam untuk tidak hanya puas dengan pemahaman yang dangkal, tetapi berusaha lebih jauh dalam memahami dan menghayati ajaran Al-Qur’an secara mendalam.
“Apa enggak bosan sampean itu di pantai saja? seluas-luasnya pantai ya begitu saja. Mbok, sekali-kali naik kapal menuju ke tengah lautan gitu, melihat keluasan samudera yang namanya Al-Qur’an itu,” lanjut Gus Ulil.
Simak penjelasan Imam Ghazali berikut;
أما بعدَ حَمْدِ اللهِ الذي هو فاتحةُ كُلِّ كتاب، والصلاةِ على رُسُلِهِ التي هي خاتمةُ كل خطاب. فإِني أُنَبِّهك على رَقْدَتك، أيُّها المُستَرسِلُ في تِلاوَتِك، المُتَّخِذُ دراسة القرآن عملاً، المُتَلقِّفُ من معانيه ظواهر وجُمَلاً، إلى كم تطوف على ساحل البحر مُغَمَّضاً عينيك عن غرائبها؟ أَوَمَا كان لك أن تركب مَتْنَ لُجَّتِها لِتُبْصِرَ عجائبَها؟ وتسافَر إلى جزائرها لاجتِنَاء أطَايِبِها؟ وتغوصَ في عمقها فتستغني بِنَيْلِ جواهِرها؟ أوَما تُعَيِّر نفسكَ في الحرمان عن دُرَرِها وجواهرها بإدمان النظر إلى سواحلها وظواهرها؟ أوَما بَلغك أن القرآن هو البحر المحيط؟ ومنه يتشعَّب علمُ الأَوَّلينَ والآخرِينَ كما يتشعب عن سواحل
Artinya: “Amma ba’du, setelah memuji Allah yang pujian-Nya adalah pembuka setiap kitab, dan shalawat atas para rasul-Nya yang ucapan mereka adalah penutup setiap khutbah. Maka sesungguhnya aku ingin membangunkanmu dari kelalaianmu, wahai orang yang terlena dalam tilawahmu, yang menjadikan mempelajari Al-Qur’an sebagai sekadar pekerjaan, yang hanya menangkap makna-maknanya secara lahiriah dan sebatas kalimat-kalimatnya.
Sampai kapan engkau berkeliling di tepi pantai lautan (Al-Qur’an) dengan mata tertutup dari keajaiban-keajaibannya? Tidakkah seharusnya engkau menaiki ombaknya agar dapat melihat keajaiban-keajaibannya? Mengarungi pulaunya untuk memetik buah-buahnya yang lezat? Menyelam menuju kedalamannya hingga engkau merasa cukup dengan memperoleh permata-permatanya?
Tidakkah engkau mencela dirimu sendiri karena terhalang dari mutiara dan permata (hikmah) Al-Qur’an, hanya karena engkau terus-menerus terpaku pada pesisir dan permukaannya? Tidakkah sampai kepadamu kabar bahwa Al-Qur’an adalah lautan luas yang mengelilingi segalanya? Darinya bercabang ilmu para pendahulu dan orang-orang setelahnya, sebagaimana cabang-cabang yang tersebar dari pesisirnya?” (Imam Ghazali, Jawahirul Qur’an, [Beirut: Darul Ihya Ulum, 1986], halaman 21).
Dengan demikian, Al-Qur’an, sebagaimana dianalogikan oleh Imam Al-Ghazali, bukan sekadar lautan kecil yang terbatas pada batasan geografis seperti Laut Jawa atau Laut Banda, melainkan sebuah samudra yang maha luas—Al-Bahrul Muhit. Samudra ini mengelilingi daratan ilmu dan menjadi sumber utama bagi berbagai cabang keilmuan yang mengalir darinya.
Namun, banyak orang yang hanya berjalan di tepian pantainya, merasa telah memahami kedalaman Al-Qur’an, padahal sejatinya mereka belum benar-benar menyelaminya. Seperti pelaut yang hanya berlayar di pesisir, mereka merasa cukup tanpa pernah merasakan arus deras dan gelombang besar yang membawa mereka menuju perbendaharaan ilmu yang tersembunyi di dasar samudra.
Bagi mereka yang berhenti di pantai, memahami Al-Qur’an hanya sebatas pada teks zahirnya tanpa menggali lebih dalam makna yang tersirat di dalamnya. Padahal, sebagaimana samudra yang memiliki palung-palung terdalam, Al-Qur’an menyimpan mutiara hikmah yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang berani menyelam lebih dalam.
Ilmu-ilmu yang lahir dari Al-Qur’an adalah seperti sungai-sungai besar yang mengalir dari samudra ini, ada sungai utama yang melahirkan anak-anak sungai yang kemudian bercabang menjadi aliran-aliran kecil. Inilah ilmu yang diwariskan dari generasi ke generasi, dari para ulama terdahulu hingga sekarang, di mana semua cabang keilmuan sejatinya bermuara kembali kepada Al-Qur’an.
Namun, menyelami samudra Al-Qur’an bukanlah sekadar mencocok-cocokkan ayat dengan teori modern secara dangkal. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa pemahaman yang sejati bukanlah hasil dari tafsir yang terburu-buru dan permukaan, melainkan melalui penggalian yang dalam dan metodologi yang kokoh.
Ia membuktikan dalam karyanya seperti Mi’yarul ‘Ilm dan Al-Qisthasul Mustaqim, bahwa logika Aristotelian dan berbagai bentuk analogi dalam filsafat Yunani sebenarnya telah terkandung dalam Al-Qur’an. Namun, pemahaman ini harus didalami dengan ketelitian dan keilmuan yang tinggi, bukan sekadar mengaitkan sesuatu secara serampangan tanpa dasar yang kuat.
Para pencari ilmu sejati adalah mereka yang berani menantang ombak, menyelam jauh ke dalam palung-palung samudra Al-Qur’an, dan menemukan harta karun yang berharga. Batu-batu mulia seperti Al-Kibritul Ahmar (sulfur merah), Ya’qut (batu ruby), Durrah (mutiara putih cemerlang), dan Zabarjad (batu zamrud hijau) adalah metafora bagi hikmah-hikmah tersembunyi yang hanya bisa diperoleh oleh mereka yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Mereka yang mampu menembus kedalaman makna Al-Qur’an akan menemukan cahaya kebenaran yang tak ternilai harganya.
Maka, apakah kita tidak iri kepada mereka yang telah berani mengarungi samudra ini? Apakah kita akan tetap puas hanya menjadi penikmat keindahan pantai, tanpa pernah mencoba berlayar menuju kedalaman yang lebih bermakna? Mengaji Al-Qur’an bukan sekadar membaca, tetapi menyelam untuk menemukan mutiara hikmah yang terpendam di dasarnya.
Sebab, ilmu yang sejati tak akan pernah ditemukan oleh mereka yang takut basah, tetapi hanya oleh mereka yang siap menantang ombak, menembus badai, dan menyelami samudra Al-Qur’an dengan hati yang tulus dan pikiran yang terbuka.
Maqasidul Qur’an
Selanjutnya, dalam Kitab Jawahirul Qur’an, pada bab kedua, fi Hasr Maqasid Al-Qur’an, Imam Ghazali membahas tentang konsep maqasidul Qur’an, yaitu pembagian tujuan-tujuan utama Al-Qur’an. Dalam pembahasan ini, dijelaskan bahwa Al-Qur’an; yang terdiri dari 30 juz dan 114 surat— dapat diringkas dalam enam tujuan pokok yang disebut sebagai maqasidul Qur’an.
Lebih jauh, Imam Al-Ghazali menyebut bahwa inti dan rahasia Al-Qur’an (sirrul Qur’an) adalah mengajak para hamba untuk kembali kepada Allah, Al-Jabbar yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi. Inilah tujuan paling esensi dari Al-Qur’an, yaitu mengarahkan manusia kepada Tuhan semesta alam, Tuhan langit dan bumi, serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Dalam berbagai ayatnya, Al-Qur’an mengajak manusia untuk mengenal dan mengesakan Allah, serta memahami hubungan antara penciptaan, kehidupan, dan akhirat.
Karena itu, surat-surat dan ayat-ayat dalam Al-Qur’an dapat dikategorikan dalam enam bagian utama. Pembagian ini bertujuan untuk mempermudah pemahaman terhadap kandungan Al-Qur’an yang begitu luas. Dengan memahami enam kategori utama ini, seseorang dapat lebih sistematis dalam mendalami pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an tanpa kehilangan arah.
Pendekatan ini dapat disamakan dengan cara seorang pelancong memahami sebuah kota besar. Jika seseorang ingin mengunjungi Jakarta tetapi tidak memiliki alamat yang jelas atau peta, maka ia akan kesulitan mencapai tujuannya.
Begitu pula dalam memahami Al-Qur’an, tanpa adanya peta atau panduan, seseorang bisa merasa kebingungan dalam menavigasi isinya. Kitab Jawahirul Qur’an berfungsi sebagai peta yang membantu pembaca memahami struktur besar Al-Qur’an, mirip dengan bagaimana seseorang menggunakan Google Maps untuk menavigasi kota yang luas.
“Kalau di sini Al-Qur’an diserupakan dengan lautan atau samudra, dalam analogi lain, Al-Qur’an juga bisa diibaratkan sebagai kota besar, Mega City. Jalannya banyak, gang-gangnya pun tak terhitung. Kalau sampean nggak punya peta, gimana? Bingung, kan? Nah, kitab Jawahirul Qur’an ini seperti Google Maps, seperti peta yang memandu sampean untuk memasuki gerbang kota, menuntun sampean masuk ke Mega City, kota besar—atau kalau pakai istilah sekarang, aglomerasi, kumpulan dari berbagai kota yang menjadi satu kesatuan besar,” tambah Gus Ulil.
Dalam pembagiannya, tiga bagian dari enam kategori utama Al-Qur’an disebut dengan as-sawabiq, yaitu ayat-ayat dan surat-surat yang berada di bagian utama atau pokok. Ayat-ayat ini memiliki kedudukan utama karena membahas tema-tema fundamental dalam Al-Qur’an. Tema-tema ini mencakup ajaran tauhid, kenabian, dan kehidupan setelah mati, yang menjadi dasar dari seluruh isi Al-Qur’an.
Sementara itu, tiga bagian lainnya disebut sebagai ar-rawadif, yaitu ayat-ayat dan surat-surat yang bersifat pendamping atau pengikut. Jika as-sawabiq merupakan ayat-ayat utama yang berada di depan, maka ar-rawadif adalah ayat-ayat yang menjelaskan, melengkapi, dan menyempurnakan pemahaman terhadap ayat-ayat pokok tadi. Dalam istilah lain, ar-rawadif adalah ayat-ayat cabang yang memperjelas inti ajaran yang terkandung dalam as-sawabiq.
Pemisahan antara as-sawabiq dan ar-rawadif membantu dalam memahami struktur tematik Al-Qur’an. Ini serupa dengan bagaimana sebuah kota memiliki jalan utama dan jalan-jalan kecil yang saling terhubung. Dengan mengenali jalan utama, seseorang dapat dengan mudah menemukan jalur-jalur yang lebih kecil. Dalam konteks Al-Qur’an, mengenali ayat-ayat utama (as-sawabiq) akan membantu dalam memahami ayat-ayat yang lebih mendetail (ar-rawadif).
Secara keseluruhan, Jawahirul Qur’an memberikan panduan sistematis dalam memahami Al-Qur’an dengan membaginya ke dalam kategori besar dan kecil. Dengan cara ini, seseorang dapat lebih mudah menguasai kandungan Al-Qur’an tanpa merasa tersesat dalam lautan ayat-ayatnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa memahami Al-Qur’an membutuhkan metode yang terstruktur agar pesan-pesan ilahiah dapat terserap dengan baik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Edisi Ramadan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk merenungi sejauh mana kita telah berinteraksi dengan Al-Qur’an. Apakah kita masih berada di tepian, ataukah sudah mulai berani menyelami maknanya? Melalui kajian Ngaji Jawahirul Qur’an bersama Gus Ulil, kita diajak untuk lebih serius dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu, hikmah, dan petunjuk hidup.
Editor: Aiz Luthfi


