Arina.id- Hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram sering kali disebut sebagai hari penuh keberkahan dan kesempatan emas untuk berbuat kebaikan. Di hari inilah, sejarah mencatat kisah-kisah agung tentang ampunan, penyelamatan, dan kemurahan hati.
Namun, salah satu kisah paling menggetarkan justru datang dari seseorang yang belum memeluk Islam, seorang Nasrani yang bersedekah dengan ikhlas dan tulus. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Irsyadul 'Ibad (Al-Malibari, 2014: h. 82).
***
Dikisahkan bahwa di kota Rayy pernah hidup seorang qadi (hakim) kaya raya. Pada hari Asyura, seorang fakir miskin datang mengetuk pintu rumah sang qadi, membawa harapan dan doa. Ia berkata, “Saya seorang miskin dengan tanggungan keluarga. Demi keagungan hari ini, berilah saya sepuluh mann roti, lima mann daging, dan dua dirham.” Ia datang dengan harapan kecil bahwa hatinya akan disentuh oleh kebaikan.
Qadi tersebut menjanjikan bantuan itu akan diberikan saat waktu Dzuhur. Namun ketika si miskin datang kembali, sang qadi menunda hingga Ashar. Saat ia datang lagi di waktu Ashar, harapannya benar-benar pupus. Ia tidak diberi apa pun. Ia pun pulang dengan hati remuk, kecewa, dan barangkali bertanya dalam hati, adakah tempat di dunia ini bagi orang miskin seperti dirinya untuk dihargai?
Dalam perjalanan pulangnya, si fakir lewat di depan rumah seorang Nasrani yang sedang duduk di ambang pintu. Dengan sisa keberanian yang ada, ia berkata, “Demi kehormatan hari ini, berilah saya sesuatu.” Nasrani itu bertanya, “Hari apakah ini?” Si fakir menjelaskan bahwa hari itu adalah Asyura, hari agung yang dimuliakan dalam Islam. Ia menyebutkan sebagian keutamaannya.
Mendengar penjelasan itu, si Nasrani langsung tersentuh. Ia berkata, “Sebutkan saja kebutuhanmu. Aku bersumpah demi kehormatan hari ini akan memenuhinya.” Dengan penuh harap, si fakir menyebut permintaannya, yaitu roti, daging, dan dua dirham. Luar biasa, si Nasrani justru memberinya lebih banyak. Ia memberinya sepuluh qafiz gandum, seratus potong daging, dan dua puluh dirham untuk kebutuhan bulanan.
Lebih dari itu, si Nasrani berjanji, “Ini untukmu dan keluargamu setiap bulan, selama aku masih hidup. Semuanya sebagai bentuk penghormatan atas hari Asyura ini.” Betapa kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih, meski datang dari seseorang yang bukan Muslim, mampu menggantikan sikap abai dari seorang Muslim yang berilmu dan berkedudukan. Ia tidak hanya memberi, tapi juga mencintai kehormatan hari suci umat Islam.
Malam harinya, qadi itu tidur dan bermimpi. Ia mendengar suara yang menyuruhnya mengangkat kepala. Ketika ia melakukannya, tampaklah dua istana di hadapannya, satu dibangun dari batu bata emas dan perak, dan satu lagi dari batu yakut merah yang transparan. Ia bertanya, “Tuhanku, apa dua istana ini?” Lalu terdengar suara, “Keduanya adalah milikmu, seandainya kau memenuhi permintaan si fakir.”
“Tapi karena kau menolaknya,” suara itu melanjutkan, “kini istana-istana itu telah diberikan kepada si Nasrani.”
Qadi itu terbangun dengan ketakutan, dadanya sesak oleh penyesalan. Keesokan harinya, ia bergegas mendatangi rumah si Nasrani dan bertanya, “Apa yang kau lakukan semalam?” Ia menceritakan mimpi tersebut dan mencoba membeli ‘pahala’ perbuatan itu dengan seratus ribu dirham.
Si Nasrani menjawab dengan tenang tapi tajam, “Wahai qadi, kebaikan yang diterima itu amat berharga. Aku takkan menukarnya bahkan dengan seluruh isi bumi ini.” Perkataan itu menyayat nurani sang qadi. Tapi ada satu persoalan lagi. Ia berkata, “Tapi engkau belum menjadi Muslim.” Mendengar itu, si Nasrani langsung berdiri dan merobek ikat keagamaannya.
Dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, ia mengucap syahadat, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Aku bersaksi bahwa Islam adalah agama yang benar.” Betapa sedekah yang ia berikan atas dasar penghormatan, meski belum memeluk Islam, justru menjadi jalan hidayah baginya. Ia memberi sedikit, tetapi dibalas Allah dengan istana emas dan cahaya iman.
***
Kisah ini menampar kita yang sering menunda berbuat baik hanya karena merasa belum siap. Kita kadang ragu membantu karena merasa jumlah yang kita punya tak seberapa. Padahal bukan soal besar kecilnya pemberian. Tetapi kapan dan dengan niat apa kita memberi.
Si Nasrani itu memberi di saat orang lain menolak. Ia memberi saat orang miskin itu berada di ujung putus asa. Di sanalah letak keagungan amalnya.
Allah tak butuh label siapa kita. Ia menilai hati yang memberi, bukan status agama, jabatan, atau popularitas seseorang. Jika seorang non-Muslim bisa masuk Islam dan mendapatkan istana emas hanya karena sedekah tulus di hari Asyura, bagaimana dengan kita yang lahir dan tumbuh dalam iman namun kikir saat diminta berbagi? Kisah ini menjadi cermin, pengingat, dan cambuk nurani kita bersama.
Hari Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender Hijriah. Ia adalah panggilan untuk melembutkan hati, memperbanyak kebaikan, dan menyadari bahwa kesempatan memberi selalu terbuka. Jika seorang Nasrani bisa mencintai hari ini dan menjadikannya awal petunjuk, tidakkah kita yang menyebut diri Muslim harus lebih peka lagi terhadap nilai-nilai kasih sayang dan kepedulian di hari-hari mulia?
Akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang seorang Nasrani yang masuk Islam. Ia adalah kisah tentang satu tindakan kebaikan bisa mengubah hidup, menembus langit, dan mengundang kasih sayang Ilahi. Si fakir itu adalah perantara. Si qadi adalah cermin kita yang sering menunda. Dan si Nasrani yang akhirnya jadi Muslim adalah bukti bahwa hidayah bisa datang lewat jalan yang tak kita duga. Wallahu a'lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin


