Arina.id- Perang Khaibar terjadi pada tahun ke-7 Hijriah, beberapa bulan setelah Perjanjian Hudaibiyah yang kontroversial itu. Khaibar adalah daerah subur di utara Madinah, terkenal dengan benteng-benteng batu kokohnya yang dihuni oleh komunitas Yahudi bersenjata lengkap. Mereka bukan hanya petani, tapi juga veteran perang, termasuk dari kalangan penghasut dalam Perang Khandaq yang lalu.
Rasulullah SAW menilai eksistensi Khaibar menjadi ancaman strategis terhadap Madinah. Selain karena kekuatan militer mereka, posisi Khaibar menjadi titik konsolidasi sisa musuh-musuh Islam yang terus berusaha menyerang balik. Maka, Rasulullah memutuskan melakukan ekspedisi militer dengan sekitar 1.400–1.600 prajurit. Tujuan utamanya bukan hanya menaklukkan wilayah, tapi juga memutus jaringan ancaman dari utara Madinah.
Benteng-benteng di Khaibar dibangun dengan pertahanan tinggi, beberapa di antaranya dilengkapi parit, pintu besi, dan tempat penembak panah di atasnya. Pasukan Muslim belum pernah menghadapi tantangan seberat ini sejak Perang Uhud. Strategi yang digunakan pun harus benar-benar diperhitungkan, sebab setiap benteng berdiri independen, bukan terhubung satu sama lain. Pengepungan dilakukan bertahap, bukan sekali serang.
Beberapa Kali Kegagalan
Benteng pertama yang diserbu adalah Benteng Na'im. Rasulullah mengutus Abu Bakar untuk memimpin pasukan utama mendekati benteng dan membuka serangan. Namun, perlawanan dari dalam benteng begitu sengit, dan pasukan Muslim tidak berhasil menjebol pertahanan. Abu Bakar mundur dan kembali tanpa hasil. Keesokan harinya, giliran Umar bin Khattab diutus memimpin pasukan.
Hasilnya pun serupa. Umar dan pasukannya menghadapi hujan panah dari atas dan medan sekitar benteng tidak mendukung untuk penetrasi cepat. Pertahanan benteng dirancang untuk menghadapi serangan luar dengan memaksimalkan posisi tinggi dan sistem perlindungan ganda.
Dalam Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah disebutkan bahwa Umar kembali dengan suasana tegang; ia menyalahkan para prajurit, dan mereka pun menyalahkannya kembali.
Kegagalan dua pemimpin besar itu tentu mengguncang semangat sebagian pasukan. Bahkan muncul kecemasan: apakah kemenangan benar-benar mungkin? Namun, dalam situasi itulah Rasulullah menyampaikan sabdanya yang terkenal, “Besok aku akan menyerahkan panji kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya. Allah akan menaklukkan (Khaibar) lewat tangannya.” (Ibnu Abi Syaibah, 1994: juz 8, h. 522)
Pernyataan itu menggugah antusiasme para sahabat. Mereka menanti siapa sosok pilihan itu. Bahkan Abu Bakar dan Umar yang baru gagal pun berharap dipilih kembali. Tapi Rasulullah memilih seseorang yang tak terduga hari itu, Ali bin Abi Thalib, yang saat itu sedang menderita sakit mata dan belum aktif di barisan depan.
Keberhasilan Ali bin Abi Thalib
Saat dipanggil, Ali dalam kondisi sakit mata yang cukup parah, bahkan tidak bisa melihat jelas. Rasulullah meludahi matanya dan mendoakannya, lalu secara ajaib matanya sembuh seketika. Beliau pun menyerahkan panji kepada Ali dan memintanya memimpin pasukan ke jantung benteng Khaibar. Inilah momen ketika strategi militer bertemu spiritualitas.
Ali memimpin langsung pengepungan Benteng Qamus, salah satu benteng terkuat. Di gerbang, ia berhadapan dengan Marhab, ksatria Khaibar yang disegani. Marhab keluar sambil menyanyikan syair-syair keberanian dan memperkenalkan dirinya sebagai pendekar tak terkalahkan. Namun Ali tak gentar. Ia membalas syair itu dan maju dengan gagah, lalu menebas kepala Marhab hingga pedangnya menancap dalam ke tengkoraknya.
Berikut adalah syair Marhab sebagaimana riwayat yang disampaikan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya:
قَدْ عَلِمَتْ خَيْبَرُ أَنِّي مَرْحَبُ * شَاكِيَ السِّلَاحِ بَطَلٌ مُجَرَّبُ
إِذَا اللُّيُوثُ أَقْبَلَتْ تَلْهَبُ * أَطْعَنُ أَحْيَانًا وَحِينًا أَضْرِبُ
"Khaibar tahu bahwa akulah Marhab, Prajurit bersenjata, pemberani, dan telah berpengalaman. Saat singa-singa datang dengan garang, Aku terkadang menusuk, dan terkadang memukul."
(Ibnu Abi Syaibah, 1994: juz 8, h. 522)
Kematian Marhab menghancurkan semangat bertahan pasukan Yahudi. Beberapa di antara mereka mulai mundur, dan barisan pertahanan mulai retak. Ali melanjutkan serangan dengan pasukan kecil, bahkan dalam beberapa riwayat disebut bahwa ia menggunakan pintu benteng yang terlepas sebagai perisai besar untuk maju ke dalam. Pasukan Muslim pun menyusul masuk, dan benteng itu pun jatuh.
Riwayat tentang kisah heorik ini disampaikan oleh beberapa sumber, baik dalam kitab-kitab hadits maupun sejarah Islam klasik. Salah satunya disampaikan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikhu Madinati Dimasyqa berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللهِ أَبَا بَكْرٍ إِلَى خَيْبَرَ فَهُزِمَ، فَرَجَعَ، فَبَعَثَ عُمَرَ فَهُزِمَ، فَرَجَعَ يُجَبِّنُ أَصْحَابَهُ وَيُجَبِّنُونَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: لَأَدْفَعَنَّ الرَّايَةَ إِلَى رَجُلٍ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ، فَدَعَا عَلِيًّا، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهُ أَرْمَدُ، قَالَ: ادْعُوهُ، فَدَعَوْهُ، فَجَاءَهُ، فَدَفَعَ إِلَيْهِ الرَّايَةَ، فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ.
Artinya: “Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW pernah mengutus Abu Bakar ke Khaibar, namun ia kalah lalu kembali. Kemudian Rasulullah mengutus Umar, dan ia pun kalah lalu kembali, sambil menyalahkan pasukannya dan disalahkan oleh pasukannya. Maka Rasulullah bersabda, "Sungguh, besok aku akan menyerahkan panji ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya. Melaluinya Allah akan memberikan kemenangan. Lalu Rasulullah memanggil Ali. Orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah, dia sedang sakit mata." Beliau bersabda, "Panggil dia!" Maka mereka memanggilnya dan ia pun datang. Rasulullah menyerahkan panji itu kepadanya, dan Allah memberikan kemenangan melalui tangannya.” (Ibnu 'Asakir, 2012: juz 23, h. 287)
Kemenangan ini menjadi titik balik Perang Khaibar. Setelah Benteng Qamus jatuh, benteng-benteng lainnya pun kehilangan moral dan satu per satu menyerah. Rasulullah tidak membumihanguskan mereka, tetapi membuat perjanjian: mereka boleh tetap tinggal dan mengolah tanah, namun hasil panennya dibagi dua. Ini menjadi sumber ekonomi baru bagi umat Islam pasca-Hudaibiyah.
Kisah Ali bin Abi Thalib di Khaibar adalah bukti bahwa kemenangan bukan semata soal kekuatan fisik atau jumlah, tetapi keyakinan, keteguhan hati, dan keberpihakan Allah. Perang ini juga menunjukkan bagaimana Rasulullah menempatkan orang yang tepat di waktu yang tepat, bahkan ketika pilihan itu secara lahiriah tidak diunggulkan. Ali menjadi simbol keberanian dan kecintaan sejati kepada Allah dan Rasul-Nya, dan sejarah mencatatnya dengan tinta keemasan. Wallahu a’lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin


