Dark
Light
Dark
Light

Mukjizat Pohon Berbicara: Alam Lebih dari Sekadar Benda Mati

Mukjizat Pohon Berbicara: Alam Lebih dari Sekadar Benda Mati

Arina.id - Di tengah gurun Madinah yang kering dan sederhana, terjadi sebuah peristiwa luar biasa yang melampaui nalar manusia. Sebatang pohon Samurah tiba-tiba datang merayap menghampiri Nabi Muhammad saat dipanggil, lalu menjadi saksi atas keislaman seorang Arab Badui. Pohon itu menjadi mukjizat sekaligus saksi bisu yang bersuara atas perjuangan dakwah Rasulullah.

Kisah ini berasal dari riwayat seorang Arab dusun yang bertanya kepada Nabi tentang kebenaran ajaran Islam. Ketika dimintai saksi, Nabi tidak menunjuk manusia, tapi pohon yang tumbuh di tepi lembah. Nabi memanggilnya, dan pohon itu mendekat sambil menyeret tanah, lalu berdiri di depan beliau. Nabi memintanya bersaksi tiga kali, dan pohon itu mengucapkan syahadat dengan penuh kebenaran dan ketaatan. Kisah ini disebutkan dalam riwayat berikut:

عن ابن عمر رضي الله عنه قال: كنا مع النبيِّ صلى الله عليه وسلم في سفر، فأقبل أعرابيٌّ، فلما دنا منه، قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: أين تريد، قال: إلى أهلي، قال: أفلا أدلك على خير، قال: وما هو، قال: تشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله، قال: هل من شاهد على ما تقول، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: هذه السَّمُرَة، فدعاها رسول الله صلى الله عليه وسلم، وكانت بشاطئ الوادي، فأقبلت تخدُّ الأرض خدًّا حتى وقفت بين يديه، فاستشهدها ثلاثًا، فشهدت أنه كما قال، ثم رجعت إلى منبتها

Artinya, “Dari Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Lalu datanglah seorang Arab dusun. Ketika ia mendekat, Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, ‘Mau ke mana engkau pergi?’ Ia menjawab, ‘Menuju keluargaku.’ Beliau bertanya, ‘Maukah engkau aku tunjukkan pada kebaikan?’ Ia menjawab, ‘Apa itu?’ Beliau bersabda, ‘Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.’

Orang itu berkata, ‘Adakah yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan ini?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Pohon samurah ini.’ Lalu Rasulullah ﷺ memanggil pohon itu, padahal ia tumbuh di tepi lembah. Pohon itu datang merambat, menyeret tanah hingga berada di hadapan Nabi ﷺ. Beliau memintanya menjadi saksi sebanyak tiga kali, dan pohon itu bersaksi bahwa memang benar sebagaimana yang beliau katakan. Setelah itu, pohon itu kembali ke tempat asal tumbuhnya.” (Ibnu Hibban)

Setelah kisah pohon yang bersaksi, ada pula kisah menggetarkan tentang batang kurma yang menangis karena rindu kepada Rasulullah. Masjid Nabawi kala itu masih sederhana karena atap dan tiangnya dari pohon kurma. Nabi biasa bersandar pada salah satu batang saat khutbah. Namun setelah dibuatkan mimbar baru, Nabi pun berpindah. Tiba-tiba, batang itu merintih seperti suara unta betina. Tangisannya menyentuh hati para sahabat yang mendengarnya.

Rasulullah lalu turun dari mimbar, menghampiri batang itu dan memeluknya. Saat tangan beliau menyentuhnya, rintihan itu pun berhenti. Sebagian sahabat menggambarkan tangis batang itu seperti isak seorang anak yang kembali pada ibunya. Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa alam bukan benda mati. Ia mampu mencinta dan merindukan Nabi, bahkan lebih dalam dari sebagian manusia yang diberi akal dan hati. Kisah ini disebutkan dalam satu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Berkaitan dengan kisah batang kurma yang menangis ini, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan:

قالَ البَيْهَقِيُّ: قِصَّةُ حَنينِ الجِذْعِ مِنَ الأُمُورِ الظَّاهِرَةِ الَّتي حَمَلَها الخَلَفُ عَنِ السَّلَفِ، ورِوايَةُ الأَخْبَارِ الخَاصَّةِ فِيها كالتَّكَلُّفِ. وفي الحديثِ دَلالَةٌ علَى أَنَّ الجَمَاداتِ قَدْ يَخْلُقُ اللَّهُ لَها إِدْرَاكًا كالحَيَوَانِ، بل كأَشْرَفِ الحَيَوَانِ، وفِيهِ تَأيِيدٌ لِقَوْلِ مَن يَحمِلُ: {وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ} علَى ظَاهِرِهِ

Artinya, “Al-Baihaqi berkata: Kisah rintihan batang pohon (yang dirindukan Nabi) termasuk peristiwa nyata yang telah disampaikan secara turun-temurun dari generasi salaf ke generasi khalaf. Merinci kisahnya secara mendetail dalam bentuk riwayat-riwayat khusus justru cenderung berlebihan.

Hadits ini menunjukkan bahwa benda-benda mati bisa saja diciptakan oleh Allah dengan kemampuan untuk merasakan, sebagaimana makhluk hidup, bahkan bisa melebihi makhluk hidup paling mulia. Ia juga menguatkan pendapat orang-orang yang memahami firman Allah: ‘Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya’ [QS. al-Isra’: 44], sesuai makna zahirnya.” (Ibnu Hajar, 1986: juz 6, h. 698)

Penjelasan Al-Baihaqi ini menunjukkan bahwa Islam memandang alam bukan sekadar benda mati, tetapi juga makhluk yang bisa diberi rasa dan kesadaran oleh Allah. Batang kurma yang merintih bukan simbol fiksi, tetapi bagian dari kesaksian spiritual alam atas kenabian Muhammad. Peristiwa ini menguatkan kesadaran ekologis bahwa lingkungan sekitar bukan objek diam, tetapi sahabat spiritual yang juga bertasbih dan merasakan, sebagaimana makhluk hidup lainnya.

Mukjizat pohon berbicara dan batang kurma menangis bukan hanya kisah masa lalu, tapi panggilan bagi kita hari ini. Alam tidaklah bisu, ia bernyawa, bersaksi, mencinta, dan merindu. Jika pohon saja mampu merespons kehadiran Rasulullah dengan getaran spiritual, tidakkah hati manusia lebih pantas untuk tergetar? Sudah saatnya kita menyapa alam bukan sebagai benda, tapi sebagai sahabat hidup dan beribadah kepada Allah SWT.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo