Para sahabat Rasulullah adalah orang-orang istimewa yang menjadi saksi sejarah perjuangan Nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam. Terlebih para sahabat Nabi yang dikenal dengan Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Talib.
Masing-masing dari sahabat memiliki karakter yang berbeda. Misalnya Abu Bakar dikenal sangat penyabar, Umar bin Khattab dikenal tegas, Utsman bin Affan dikenal sebagai sahabat yang pemalu.
Utsman bin Affan adalah khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab. Nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qusaiy bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luaiy bin Ghalib, Al-Qurasyi Al-Umawi Al-Makkiy.
Sahabat Utsman lahir pada tahun ke 6 dari peristiwa penyerangan pasukan bergajah. Utsman termasuk gelombang pertama yang memeluk agama Islam.
قال ابن إسحاق: وكان أول الناس إسلامًا بعد أبي بكر، وعلي، وزيد بن حارثة.
Artinya: "Ibnu Ishaq berkata, Utsman termasuk golongan sahabat pertama yang masuk Islam setelah Abu Bakar, Ali, dan Zaid bin Haritsah" (Tarikhul Khulafa, 118)
Utsman menikahi putri Rasulullah yang bernama Ruqayyah. Peristiwa ini terjadi sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi. Ruqayyah wafat pada malam perang Badar, sehingga Utsman datang belakangan di perang Badar, sebab menjaga Ruqayyah yang sakit keras atas izin Rasulullah.
Tak lama kemudian, Rasulullah menikahkan Utsman bin Affan dengan Ummi Kultsum, adik dari Ruqayyah, namun Ummi Kultsum wafat pada tahun 9 hijriah. Dari pernikahan dengan kedua putri agung itulah, Utsman dijuluki Dzunnurain (pemilik dua cahaya) lantaran menikahi dua putri Rasulullah.
Utsman bin Affan termasuk sahabat yang dijanjikan masuk surga (mubasyarun bil Jannah), dan tokoh penting yang melanjutkan cita-cita Umar bin Khattab dalam mengkodifikasi Al-Quran menjadi mushaf. Tim ini terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash dan Harits bin Hisyam.
Para sahabat juga mengutip 146 hadits yang diriwayatkan Utsman bin Affan, di antara sahabat itu adalah: Zaid bin Khalid al-Juhani, Ibn Zubair, Saib bin Yazid, Anas bin Malik, Zaid bin Tsabit, Salamah bin Akwa’, Abu Umamah Al-Bahily, Ibn Abbas, Ibn Umar, Abdullah bin Mughaffal, Abu Qatadah, Abu Hurairah. Termasuk para tabiin, di antaranya, Aban bin Usman, Ubaidillah bin Adi, Imran.
Menurut penuturan Ibn Sa’d yang bersumber dari Abdurrahman bin Hatib, bahwa Utsman bin Affan adalah sahabat Rasulullah yang mahir berkomunikasi dan perkataannya sangat indah, sehingga ucapannya sangat dihormati. Ciri-ciri tubuh Utsman menurut Ibn Asakir, perawakannya tidak tinggi dan tidak pendek, serta tampan. Musa bin Talhah juga mengatakan, Utsman bin Affan adalah lelaki yang sangat tampan.
Utsman bin Affan tergolong sahabat yang sangat pemalu, sehingga siapa pun yang berjumpa dengannya ikut merasa malu, hal ini sebagai bentuk menghormatinya. Dalam salah satu hadits menyebutkan:
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي حَرْمَلَةَ عَنْ عَطَاءٍ وَسُلَيْمَانَ ابْنَيْ يَسَارٍ وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَوَّى ثِيَابَهُ قَالَ مُحَمَّدٌ وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ
Artinya: "Dari Muhammad bin Abu Harmalah dari 'Atha dan Sulaiman yang merupakan kedua anak Yasar dan Abu Salamah bin 'Abdur Rahman, bahwa Aisyah berkata: Pada suatu ketika, Rasulullah sedang berbaring di rumahku dengan membiarkan kedua pahanya atau kedua betisnya terbuka. Tak lama kemudian, Abu Bakar minta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Lalu, Rasulullah pun mempersilakannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti itu dan terus berbincang-bincang (tentang suatu hal). Selanjutnya Umar bin Khattab datang dan meminta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilahkannya untuk masuk dalam kondisi beliau tetap seperti itu dan melanjutkan berbincang-bincang.
Kemudian Utsman bin Affan datang dan meminta izin kepada Rasulullah untuk masuk ke dalam rumah beliau. Maka Rasulullah pun mempersilakannya untuk masuk seraya mengambil posisi duduk dan membetulkan pakaiannya. Muhammad bin Harmalah berkata; Saya tidak mengatakan hal itu pada hari yang sama (peristiwa ini tidak terjadi pada hari yang sama)
Lalu Utsman masuk dan langsung bercakap-cakap dengan beliau tentang berbagai hal. Setelah Utsman keluar dari rumah, Aisyah bertanya: Ya Rasulullah, tadi ketika Abu Bakar masuk ke rumah engkau tidak terlihat tergesa-gesa untuk menyambutnya. Kemudian ketika Umar datang dan masuk, engkaupun menyambutnya dengan biasa-biasa saja. Akan tetapi ketika Utsman bin Affan datang dan masuk ke rumah maka engkau segera bangkit dari pembaringan dan langsung mengambil posisi duduk sambil membetulkan pakaian engkau. Sebenarnya ada apa dengan hal ini semua ya Rasulullah?, Rasulullah menjawab: Hai Aisyah, bagaimana mungkin aku tidak merasa malu kepada seseorang yang para malaikat saja merasa malu kepadanya?" (HR. Muslim)
Redaksi hadits ini memberikan pemahaman betapa mulia akhlak yang dimiliki oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman tatkala bertamu. Padahal dua sahabat masih terhitung keluarga sendiri; Abu Bakar merupakan mertua Rasulullah dan Utsman adalah menantu Rasulullah, namun keduanya meminta izin terlebih dahulu saat akan masuk rumah Rasulullah.
Dari ketiga sahabat yang disebutkan di atas, sahabat Utsman adalah satu-satunya sahabat paling pemalu. Tak heran jika Rasulullah bersikap malu untuk menghormati Utsman bin Affan. Sifat pemalu yang dimiliki sahabat Utsman menjadikan para malaikat merasa malu kepadanya.
Imam Junaid mendefinisikan rasa malu, yaitu melihat kenikmatan dan keteledoran sehingga menimbulkan suatu kondisi yang disebut dengan malu. Inti dari rasa malu ialah sikap yang memotivasi untuk meninggalkan keburukan dan mencegah sikap menyia-nyiakan hak pemiliknya.
Rasa malu sahabat Utsman bukan malu yang dibuat-buat, akan tetapi sifat malunya telah menjadi karakteristiknya. Bahkan rasa malunya membuat dia takut kelamaan berbicara, segan berdialog, dan berdebat lama-lama. Sehingga rasa malunya ini memberikan kebaikan, keberkahan, kelembutan, dan kasih sayang.
Editor: Muhammad Faizin


