Dark
Light
Dark
Light

Kisah Utsman bin Affan Sedekahkan Semua Dagangannya untuk Fakir Miskin

Kisah Utsman bin Affan Sedekahkan Semua Dagangannya untuk Fakir Miskin

Arina.id - Di tengah padang pasir yang tandus, Madinah kala itu dilanda masa sulit. Hujan enggan menyapa bumi, menyebabkan tanah menjadi kering dan gersang. Tanaman layu sebelum sempat berbuah, dan sungai-sungai yang dulu mengalir deras kini hanya menyisakan pasir yang berdesir. Masyarakat hidup dalam kegetiran, menghadapi paceklik yang merayap ke setiap sudut rumah mereka. Butiran gandum menjadi lebih berharga dari emas, dan harapan mulai memudar dalam wajah-wajah yang sayu.

Inilah kisah Madinah saat dilanda kekeringan besar yang didokumentasikan dalam Kitab Asy-Syari’ah bab “Penghormatan Nabi kepada Utsman bin Affan” karya Abu Bakar Muhammad bin Husain Al-Ajurri (Al-Ajurri, tanpa tahun: juz 4, h. 2013). Kisah ini menjadi saksi kedermawanan Utsman bin Affan yang sangat tulus terhadap orang-orang yang hidup berkekurangan.

Dalam situasi kekeringan genting seperti ini, kaum Muslimin berbondong-bondong mendatangi Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Mereka mengeluhkan kelaparan yang semakin menjadi, anak-anak menangis meminta makan, dan para ibu tak mampu lagi menenangkan tangis mereka. Abu Bakar, dengan ketenangan seorang pemimpin yang penuh iman, hanya berkata,

“Bersabarlah, karena pertolongan Allah tidak akan lama lagi datang. Pulanglah, dan sebelum malam tiba, kalian akan melihat keajaiban-Nya.”

Orang-orang pun pulang dengan hati yang masih digelayuti kecemasan. Namun, tepat sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, serombongan kafilah dagang memasuki Madinah. Debu-debu beterbangan di belakang unta-unta yang membawa muatan berharga: gandum, kurma, minyak, dan berbagai bahan makanan yang telah lama dirindukan oleh masyarakat yang kelaparan. Seratus unta milik Utsman bin Affan tiba dengan membawa harapan baru.

Mendengar kabar ini, para pedagang di Madinah segera berkumpul di depan rumah Utsman. Mereka datang bukan hanya karena lapar, tetapi juga dengan harapan dapat membeli bahan makanan ini untuk dijual kembali kepada masyarakat dengan harga yang lebih tinggi. Pintu rumah Utsman diketuk, dan ia keluar menemui mereka dengan senyuman lembut yang selalu menghiasi wajahnya.

“Wahai Utsman, kami mendengar bahwa kafilahmu telah datang membawa banyak bahan makanan,” salah seorang pedagang berbicara. 

“Kami ingin membelinya darimu. Berikanlah kepada kami harga yang pantas, dan kami akan menjualnya kepada masyarakat yang membutuhkan,” sambungnya,

Utsman kemudian mengangguk, mempersilakan mereka masuk ke dalam rumahnya. Di sana, di sebuah ruangan luas, tersusun karung-karung gandum yang harum, gentong-gentong minyak yang masih segar, dan tumpukan kurma yang ranum. Para pedagang mulai menaksir harga, lalu salah seorang dari mereka berbicara,

“Kami akan membayar setiap sepuluh dirham dengan dua belas dirham. Engkau akan mendapatkan keuntungan dua dirham untuk setiap sepuluh yang kau keluarkan.” Ucap salah seorang dari mereka.

Namun, Utsman tersenyum dan menggelengkan kepala. “Ada yang menawar lebih tinggi.”

Para pedagang terkejut. Mereka saling berpandangan, lalu menaikkan tawaran,

“Baiklah, kami akan membayar empat belas dirham untuk setiap sepuluh dirham yang kau keluarkan.”

Namun lagi-lagi, Utsman menggeleng. “Ada yang menawar lebih tinggi.”

Mereka semakin penasaran, siapakah gerangan yang menawar lebih tinggi dari mereka? Mereka pun menaikkan tawaran hingga lima belas dirham untuk setiap sepuluh dirham. Namun, jawaban Utsman tetap sama, “Ada yang menawar lebih tinggi.”

Akhirnya, salah seorang pedagang yang tak sabar bertanya, 

“Wahai Abu Amr, tidak ada pedagang lain di Madinah selain kami. Siapakah yang menawar lebih tinggi darimu?”

Utsman tersenyum lembut, lalu berkata, 

“Allah telah menjanjikan kepadaku keuntungan sepuluh kali lipat. Setiap dirham yang aku keluarkan akan diganti dengan sepuluh kebaikan di sisi-Nya. Apakah kalian bisa menandingi tawaran itu?”

Mereka semua terdiam. Tidak ada lagi angka yang bisa mereka sebutkan, tidak ada lagi keuntungan duniawi yang mampu menyaingi janji Ilahi. Saat itu juga, Utsman mengangkat tangannya ke langit dan berkata, 

“Aku bersaksi kepada Allah bahwa seluruh makanan ini aku sedekahkan kepada fakir miskin kaum Muslimin.”

Kabar itu tersebar ke seluruh Madinah secepat angin yang berhembus di padang pasir. Masyarakat yang kelaparan berbondong-bondong datang ke rumah Utsman, dan dengan penuh kasih sayang, ia membagikan setiap butir gandum, setiap tetes minyak, dan setiap buah kurma kepada mereka yang membutuhkan. Anak-anak yang semula menangis kini tersenyum, para ibu yang semula putus asa kini mengangkat tangan mereka dalam doa, dan orang-orang yang semula tak berdaya kini merasakan kembali keberkahan hidup.

Malam itu, Ibnu Abbas bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Rasulullah ﷺ menunggangi seekor kuda putih bercahaya, mengenakan pakaian dari cahaya, dan di tangannya ada tongkat bercahaya. Beliau tampak tergesa-gesa, seolah menuju sebuah tempat yang sangat penting. Dengan penuh rindu, Ibnu Abbas bertanya,

“Wahai Rasulullah, ke mana engkau hendak pergi?”

Rasulullah tersenyum dan menjawab, 

“Wahai Ibnu Abbas, Utsman bin Affan telah bersedekah dengan sedekah yang diterima oleh Allah. Sebagai balasannya, Allah telah menikahkannya dengan seorang bidadari di surga. Aku diundang ke pernikahannya.”

***

Kisah hikmah ini bukan sekadar cerita tentang kedermawanan, tetapi juga tentang keyakinan terhadap janji Allah. Di dunia ini, banyak yang berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa harta sejati adalah yang disimpan untuk akhirat. Utsman bin Affan memahami esensi sejati dari kepemilikan. Ia menyadari dunia hanyalah titipan, dan sebaik-baik investasi adalah investasi untuk kehidupan abadi.

Dalam renungan kita, mungkin kita tidak memiliki seribu unta penuh bahan makanan seperti Utsman. Namun, kita memiliki tangan untuk memberi, hati untuk peduli, dan jiwa yang dapat meneladani kemurahan hati para sahabat Nabi. Seperti kata Rasulullah ﷺ, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.”

Hari ini, kisah Utsman bin Affan bukan sekadar sejarah, tetapi cermin bagi kita semua. Saat dunia semakin sibuk dengan urusan materi, masihkah kita mengingat bahwa kekayaan sejati bukanlah yang kita simpan, tetapi yang kita berikan?


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo