Dark
Light
Dark
Light

Sumpah Umar bin Khattab saat Rakyatnya Dilanda Penderitaan

Sumpah Umar bin Khattab saat Rakyatnya Dilanda Penderitaan

Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat Nabi dan pemimpin yang tegas dan ditakuti banyak orang. Namun demikian, di balik ketegasannya itu tersimpan kasih sayang yang luar biasa kepada rakyatnya. Salah satu contohnya adalah ketika rakyat Madinah dan sekitarnya dilanda paceklik dan kesusahan, Umar bertekad akan ikut merasakan penderitaan mereka dengan meninggalkan makanan enak. Untuk mempertegas komitmennya itu, Umar sampai mengucapkan sumpah.

Imam At-Thabari dalam kitab Tarikh At-Thabari (Kairo, Darul Ma‘arif: 1387 H), Juz IV, halaman 98 mengisahkan, saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, tepatnya pada akhir tahun 17 H hingga awal tahun 18 H, Madinah dan sekitarnya dilanda kesusahan akibat cuaca ekstrem. Saking panasnya, debu yang tertiup angin terasa seperti abu. Maka tahun ini dinamakan Tahun Rimâdah, nama ini berasal dari kata rimâd yang berarti abu atau sisa arang.

Kondisi ini tentu saja memengaruhi siklus pertanian dan perekonomian masyarakat setempat. Aneka tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik karena kekurangan air dan hasilnya pun menurun drastis. Akibatnya, banyak warga yang sulit mendapat akses makanan bahkan ada juga yang sampai kelaparan. 

Terlepas dari cara Umar yang berusaha keras keluar dari situasi sulit ini, ada sebuah sikap yang dinilai tidak populer yang dilakukan oleh Umar. Dia bersumpah tidak akan makan makanan enak di zamannya, seperti daging, susu, dan keju. Ini akan dilakukan Umar selama situasi ini belum berakhir. Padahal saat itu, Umar punya peluang untuk mendapatkan makanan tersebut.

Beberapa waktu kemudian, musim paceklik berubah menjadi musim subur, pasar pun kembali dipenuhi dengan aneka makanan, termasuk daging, susu, dan keju. Saat itu, ada seseorang yang datang ke pasar untuk membeli aneka makanan tersebut dengan biaya 40 dirham yang akan diberikan kepada Umar. Dia pun kemudian datang menemui Umar.

“Wahai Amirul Mukminin, Allah telah membebaskanmu dari sumpahmu, semoga engkau mendapatkan pahala yang besar dari-Nya. Karena di pasar telah banyak dijual keju dan susu, maka aku membeli sekantung samin dan sebotol susu dengan harga 40 dirham,” kata orang tersebut.

Rupanya, Umar hanya menerima sedikit dari makanan mewah tersebut. Alasannya adalah karena dia ingin merasakan penderitaan rakyatnya.

“Kamu terlalu berlebihan membelinya, sedekahkan saja kepada orang-orang yang membutuhkannya. Aku tidak suka makan yang berlebihan,” jelas Umar.

Umar pun menegaskan, ia tidak bisa makan berlebihan karena ingin memiliki kepekaan sosial terhadap rakyatnya. “Bagaimana aku bisa peduli dengan urusan rakyatku jika apa yang mereka rasakan tidak aku rasakan,” tegasnya.

Penggalan kisah kepemimpinan Umar bin Khattab tersebut idealnya bisa dilakukan oleh para pemimpin dan pejabat di negeri ini, yaitu memiliki kepekaan sosial terhadap perasaan rakyat. Para pemimpin dan pejabat mestinya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Sangat tidak elok jika di negeri ini ada pemimpin dan pejabat yang hidup bermewah-mewahan di saat rakyatnya menderita masalah ekonomi. 

Terlihat kurang adil ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang kurang efektif dan cenderung menekan rakyat, misalnya pajak yang terlalu banyak. Pajak yang dipungut, mulai dari tanah, bangunan, kendaraan, jual beli, penghasilan, dan sebagainya, harus memberi umpan balik maksimal yang bisa dinikmati rakyat. Bukan dinikmati pejabat. 

Untuk itu, para pejabat dan pemimpin negeri sebaiknya melakukan pendidikan kepemimpinan dengan cara hidup sederhana di tengah-tengah rakyat. Hal ini dilakukan agar mereka bisa merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat, sebagaimana hal itu dilakukan oleh Umar bin Khattab. Wallahu a‘lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo