Dark
Light
Dark
Light

Kisah Pengusaha Bangkrut karena Abaikan Saudaranya yang Kena Musibah

Kisah Pengusaha Bangkrut karena Abaikan Saudaranya yang Kena Musibah

Islam mengajarkan umatnya untuk menebarkan kasih sayang dan saling menolong terhadap sesama manusia, terlebih kepada saudara kandung. Pasalnya, hubungan persaudaraan dalam keluarga memiliki ikatan emosional yang cukup kuat. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 26:

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا

Artinya: “Berikanlah kepada kerabat dekat haknya, (juga kepada) orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”

Berkaitan dengan hal tersebut, ada kisah menarik yang disampaikan Sayyid Muhsin al-Nuri al-Musawi dalam kitab Qasasul Zawaj wal Mutazawwijin (Beirut, Darul Hadi: 2007), h. 100. Dalam kitab tersebut dikisahkan, ada seorang pengusaha yang mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Dia pun mengunjungi sahabatnya dan mencurahkan kegelisahan yang menyelimuti hati dan pikirannya.

“Coba temui Syekh Fulan yang arif bijaksana itu, lalu kamu ceritakan semua permasalahan hidupmu kepadanya,” saran sahabatnya.

“Aku tidak tahu rumahnya dan juga tidak mengenalnya,” jawab si pengusaha yang bangkrut itu.

Singkat cerita, setelah didesak oleh sahabatnya, si pengusaha itu akhirnya mau menemui Syekh Fulan. Sambil menundukkan kepala, pengusaha itu mulai menceritakan kondisi ekonominya yang semakin memburuk. 

Pada saat yang bersamaan, Syekh Fulan pun menyimak setiap penjelasan tersebut dengan saksama. Berkat ketajaman intuisi dan kebijaksanaannya, Syekh Fulan akhirnya menemukan akar permasalahan yang dihadapi pengusaha itu.

“Kamu termasuk orang yang tidak punya belas kasihan. Saudara perempuanmu sudah empat bulan ditinggal wafat suaminya. Jangankan membantu kesulitannya, menanyakan kabarnya pun tidak. Padahal dia dan keponakan-keponakanmu butuh perhatian darimu,” kata Syekh membeberkan kondisi pengusaha itu.

“Sikap kamu ini menjadi salah satu penghambat kelancaran usaha kamu,” tegas Syekh Fulan.

“Memang benar, Syekh. Saya bersikap demikian karena sedang ada perselisihan di antara kami berdua,” jelas si pengusaha itu.

“Itu masalahnya. Kamu lebih memahami tentang urusanmu sendiri,” ucap Syekh seraya menyuruhnya pulang dan memperbaiki hubungan dengan saudarinya.

Sebelum pulang ke rumahnya, pengusaha itu mampir dulu ke sahabatnya dan menceritakan pertemuannya dengan Syekh. Tidak lama kemudian, pengusaha ini membeli sembako dan kebutuhan rumah tangga lainnya lalu menemui saudarinya untuk meminta maaf dan berdamai dengannya. 

Usai kembali harmonis dengan saudarinya, perlahan tapi pasti usaha yang digeluti pengusaha itu mulai merangkak naik dan kembali normal sebagaimana sebelumnya. 

***

Kisah ini memiliki hikmah yang bisa dipetik pelajarannya. Salah satunya adalah tentang pentingnya mempunyai kepedulian dan kasih sayang terhadap saudara, terutama ketika mereka berada dalam kesulitan. Membantu orang yang sedang dilanda kesulitan pada hakikatnya adalah sama dengan membantu diri sendiri. 

Selain itu, kisah ini mengajarkan tentang pentingnya memiliki guru spiritual yang arif dan bijaksana. Sosok guru semacam ini bisa membantu melihat “blind spot”, yakni sisi-sisi atau area gelap yang kerap tidak disadari oleh seseorang. Dengan nasihat dan bimbingan dari guru tersebut, seseorang dapat memahami akar persoalan yang dihadapinya untuk kemudian memperbaiki perilakunya. 

Di sisi lain, kisah ini juga bisa menjadi bahan introspeksi atau muhasabah. Ketika usaha terasa lesu dan kurang baik, boleh jadi ada hubungan yang kurang baik dengan saudara atau keluarga. Meskipun hal ini berada di luar nalar bisnis, hal ini layak menjadi bahan renungan demi menghadirkan keberkahan di dalam menjalankan bisnis dan usaha. Wallahu a’lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo