Pada suatu masa, helm itu gegeran di Indonesia. Kota-kota bergolak. Penguasa cemas melihat ulah massa. Helm bukan sekadar benda. Helm itu demonstrasi! Helm mengandung “pemaksaan”, keselamatan, penolakan, ketertiban, dan kebingungan.
Helm bercerita kekerasan. Helm itu kematian. Di Indonesia, helm telah lama menjadi ingatan buruk sebelum seruan-seruan keselamatan diwujudkan berdasarkan undang-undang. Benda di kepala itu tak mudah diterima oleh jutaan orang di seantero Indonesia. Helm menjadi pusat polemik dan keributan panjang: mencipta sejarah kelam di Indonesia.
Kita masih bisa membuka ingatan masa lalu. Di majalah Tempo, 14 November 1987, sampul depan memuat judul besar: “Heboh Helm di Ujungpandang.” Gambar helm disilang merah berlatar kain putih memberi pesan “menakutkan” kepada para pembaca. Majalah itu referensi tak lengkap mengenai helmisasi di Indonesia tapi kita bisa memungut sekian hal ketimbang terlupa.
Kutipan dari laporan panjang: “Selama dua hari, Sabtu dan Senin, pekan lalu, kota terbesar di Indonesia Timur itu diguncang oleh demonstrasi yang dilakukan oleh ribuan anak muda. Akibat kerusuhan, tiga orang meninggal dunia.” Demonstrasi dipicu helmisasi. Gejolak pun terjadi di pelbagai kota untuk kebijakan wajib mengenakan helm selama berkendara di jalan.
“Penentangan terhadap wajib helm diduga karena masyarakat umumnya kurang puas terhadap pelayanan aparat Polri,” tulis di Tempo.
Pada masa Orde Baru, kebijakan agar orang berhelem saat mengendarai sepeda motor bukan masalah sepele. Beragam sikap dan argumentasi bermunculan mencipta dua kubu: menolak dan menerima. Usaha memberi penjelasan bertema keselamatan digencarkan tapi kritik atas mutu helm, kerancuan peraturan, dan ketiadaan panutan menimbulkan gegeran. Orang tak berhelm mendapat sanksi. Perlawanan gara-gara kewajiban itu mudah menjalar ke pelbagai kota. Helmisasi menguak demonstrasi dan kematian.
Kita masih menemukan gejolak berhelm melalui puisi berjudul “Kepalaku Tak Terbuat dari Helm” gubahan Afrizal Malna (2005). Puisi berbeda masa tapi tetap mengisahkan pengalaman dan risiko mengenakan helm. Afrizal Malna menulis:
aku tak suka pakai helm, kepalaku seperti berada/ dalam keranjang bola basket berkeringat, aku/ tak suka kepalaku berkeringat, dan melihat helm/ dalam keranjang bola basket, helm itu cerewet/ banyak bercerita tentang kecelakaan,/ kepalaku tidak terbuat dari kecelakaan, aku tak suka bola/ basket dalam helm.
Afrizal Malna menulis kepala, helm, jalan, kecelakaan, dan lain-lain. Ia tak sedang merekam sejarah (silam) tentang helmisasi dan tak meramalkan nasib sosok berhelm dalam bara demokrasi di Indonesia.
Pada 28 Agustus 2025, orang-orang mengenakan helm turut dalam demonstrasi. Mereka biasa menggunakan helm setiap hari dalam misi mencari rezeki. Mereka menjadi “manusia di jalan” menanggung lelah, panas, dingin, dan mengantuk. Di jalan, pertaruhan nasib diadakan sebagai sopir ojol. Di kepala mereka, helm itu warna dan logo khas. Publik lekas mengerti pesan-pesan tersampaikan melalui helm.
Jamaah berhelm itu bersuara. Mereka mewujudkan hak berdemokrasisi. Hari-hari terasa buruk dan bergelimang penderitaan dipicu oleh omongan dan ulah orang-orang “terhormat” di DPR. Keruwetan bertambah dengan penjelasan dan celotehan tokoh-tokoh di kabinet Prabowo-Gibran. Indonesia terlalu bermasalah dalam penggunaan bahasa berkaitan kerja-kerja legislatif dan eksekutif. Indonesia linglung oleh kebijakan-kebijakan “aneh”. Jamaah berhelem berhak menggugat, berpendapat, dan melawan.
Situasi memburuk saat demonstrasi. Jamaah berhelm tampil khas dengan jaket. Mereka memang berjaket dalam menunaikan kerja di jalan. Jaket itu memiliki warna, logo, dan kata. Publik mengerti kerja penuh risiko ditanggungkan jamaah berjaket dan berhelm, Jaket itu “komunikasi” bila kita mengikuti penjelasan Malcolm Barnard (2007). Jaket tak sekadar penutup tubuh dan pelindung. Benda itu mengabarkan kelas, nilai, dan peran sosial-ekonomi-kultural. Jaket mengungkapkan makna bercampur: dari kesopanan sampai kekuasaan.
Di Jakarta, kita melihat peristiwa mengerikan menimpa sosok terbiasa berjaket dan berhelm dalam bekerja di jalan. Ia dilindas kendaraan gagah melaju kencang. Kendaraan bercap polisi. Kendaraan untuk memenuhi tugas-tugas mulia polisi justru tampak mencipta petaka, Kita melihat lelaki berjaket hijau menjadi korban. Rekaman kejadian dilihat jutaan orang di gawai. Kematian itu “tontonan” mengerikan dan menimbulkan kemarahan. Pada 29 Agustus 2025, kejadian itu membarakan perlawanan di pelbagai kota. Demontrasi digelar dengan duka, kecewa, marah, benci, harapan, dendam, dan kasih.
Sopir ojol menjadi martir di jalan. Ia dilindas roda berkekuatan besar. Roda itu simbol kekuasaan bercampur kekerasan. Roda berputar di jalan dalam agenda transportasi dan lalu lintas berubah menjadi “roda kematian”. Kita perlahan membuka halaman-halaman sejarah mengenai roda, sebelum menimbulkan kematian dan penghancuran demokrasi.
Di buku berjudul Roda (1985) susunan Wilfred Owen dan Ezra Bowen, kita membaca penjelasan: “Penemuan roda harus dimulai sebagai kemenangan terbesar manusia di bidang teknik. Tiadalah sesuatu pun yang hakikatnya dapat dibandingkan sehingga dapat dicontoh atau dijadikan bahan penyesuaian. Roda harus diciptakan sebagai suatu keutuhan sekaligus suatu lompatan raksasa khayalan manusia. Ketika akhirnya berhasil dibuat oleh seorang jenius Sumeria yang tak dikenal lebih dari 5.000 tahun yang lalu, roda mengubah jalan peradaban untuk selamanya. Sangat besar pengaruh roda terhadap masyarakat sehingga sejarah bangsa-bangsa dapat ditulis dengan memandangnya dari segi perkembangan dan pengangkutan beroda.” Penemuan roda dianggap telat, menunggu waktu sangat lama. Semula, roda memudahkan pekerjaan bagi kalangan petani dan pengembara. Abad-abad berganti, teknik makin menjadikan roda penting dalam pelbagai lakon hidup.
Pada abad XX, kita melihat roda-roda di jalan berbatu dan beraspal. Roda-roda makin mengukuhkan modernitas dan membawa dampak-dampak besar meski kadang penghancuran. Di Indonesia, roda-roda mencipta kecepatan, kemacetan, kecelakaan, dan lain-lain. Pada suatu hari, roda itu melindas untuk mencipta kematian membarakan perlawanan atas nama demokrasi. Kini, kita mengerti sejarah nestapa Indonesia gara-gara roda. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


