Arina.id - Sudah menjadi hal yang mafhum, di bulan Ramadan, Allah SWT membuka pintu ampunan dan melipatgandakan pahala bagi setiap hamba yang beribadah. Oleh karena itu sebagai bentuk rasa syukur, sudah sepantasnya kita memanfaatkan keutamaan ini dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat.
Jika belum bisa maksimal dalam beribadah, setidaknya kita menahan diri dari perbuatan dosa, sebab ibarat seorang karyawan yang telah diberi banyak fasilitas tentu tidak pantas mengkhianati bosnya dengan melanggar aturan.
Menghormati Ramadan dengan meninggalkan maksiat dan memperbanyak ibadah bisa menjadi jalan menuju ampunan Allah. Seperti kisah seorang pemuda yang selama hidupnya gemar bermaksiat, tetapi saat Ramadan tiba, ia menjauhi dosa dan menghidupkan ibadah.
Tak disangka, setelah meninggal, ia justru mendapatkan ampunan dan masuk surga. Simak kisah lengkapnya berikut ini.
وَحُكِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ العِلْمِ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ عِنْدَنَا رَجُلٌ اسْمُهُ مُحَمَّدٌ، وَكَانَ لَا يُصَلِّي إِلَّا قَطْعًا، فَإِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ زَيَّنَ نَفْسَهُ بِالثِّيَابِ الفَاخِرَةِ وَالطِّيبِ، وَيَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَقْضِي مَا فَاتَهُ، فَقُلْتُ لَهُ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ: هَذَا شَهْرُ التَّوْبَةِ وَالرَّحْمَةِ وَالبَرَكَةِ، عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنِّي بِفَضْلِهِ، فَمَاتَ، فَرَأَيْتُهُ فِي المَنَامِ، فَقُلْتُ لَهُ: مَا فَعَلَ اللَّهُ بِكَ؟ قَالَ: غَفَرَ لِي لِأَجْلِ حُرْمَةِ شَهْرِ رَمَضَانَ
Teks ini diambil dari kitab Irsyadul ‘Ibad karangan Syekh Zainudin Al Malibari. Beliau mengisahkan pemuda maksiat yang menghormati bulan Ramadan dengan mengutip perkataan ulama.
Pada zaman dulu, di suatu daerah, ada seorang pemuda bernama Muhammad. Ia jarang mendirikan sholat kecuali hanya sekali. Namun ketika memasuki bulan Ramadan, tiba tiba ia berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, ia memperindah dirinya dengan pakaian yang bagus dan wewangian, lalu berpuasa, sholat, serta mengganti ibadah yang pernah ia tinggalkan.
Masyarakat sekitar pun lantas penasaran dengan sikap pemuda ini dan bertanya kepadanya tentang sikapnya yang berubah menjadi pribadi yang baik, ia pun menjawab: “Ini adalah bulan tobat, rahmat, dan keberkahan. Semoga Allah mengampuni dosaku dengan karunia-Nya."
Setelah berlalunya waktu, pemuda itu pun meninggal dunia. Ada seseorang yang bermimpi bertemu dengannya lantas orang itu pun bertanya perihal keadaannya sekarang: "Apa yang telah Allah lakukan kepadamu?"
Pemuda itu pun lantas menjawab: "Allah telah mengampuniku karena kemuliaan bulan Ramadan."
Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran untuk menambah motivasi agar kita menghormati bulan Ramadan dengan memperbanyak amal ibadah pun juga menahan agar tidak bermaksiat. Harapannya tentu agar mendapat ampunan Allah seperti kisah pemuda dalam kisah tersebut.
Sejatinya ketika kita menghormati bulan Ramadan, itu adalah sebuah tanda bahwa Allah SWT peduli dan sayang kepada hambaNya. Buktinya Allah menakdirkan kita berjumpa kembali dengan bulan Ramadan dengan memaksimalkan amal ibadah.
Namun jika kita tambah brutal dan lalai di bulan Ramadan ini, itu artinya Allah sedang marah dan benci kepada kita. Sebagaimana dawuh ulama nusantara Syekh Nawawi Al Bantani berikut;
فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا اسْتَعْمَلَهُ فِي الْأَزْمِنَةِ الْفَاضِلَةِ بِفَواضِلِ الْأَعْمَالِ، وَإِذَا مَقَتَهُ اسْتَعْمَلَهُ فِي الْأَزْمِنَةِ الْفَاضِلَةِ بِالسَّيِّئِ الْأَعْمَالِ، لِيَكُونَ أَوْجَعَ فِي عِقَابِهِ وَأَشَدَّ لِمَقْتِهِ لِحِرْمَانِهِ بَرَكَةَ الْوَقْتِ وَانْتِهَاكِهِ حُرْمَتَهُ.
Artinya: ”Sesungguhnya Allah Ta’ala, jika mencintai seorang hamba, Allah akan menakdirkan hamba tersebut di waktu-waktu yang mulia dengan amalan-amalan yang mulia. Namun jika Allah murka, Allah akan menggerakkanya di waktu-waktu yang mulia dengan amalan-amalan yang buruk, agar azab-Nya lebih pedih dan murka-Nya lebih besar karena telah kehilangan keberkahan waktu dan melanggar kehormatannya.” (Muraqil Ubudiyyah Syarh Bidayatul Hidayah, halaman 58)
Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


