Toleransi bukan berarti melemahkan keyakinan Islam, tetapi justru memperkuat nilai-nilai kebaikan, keadilan, dan kasih sayang yang menjadi inti ajaran Islam
Pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW, Islam memberikan teladan tentang toleransi dan kebebasan beragama. Salah satu peristiwa yang mencerminkan hal ini adalah ketika Nabi Muhammad mengizinkan delegasi Nasrani dari Najran untuk beribadah di Masjid Nabawi.
Peristiwa ini tidak hanya menunjukkan sikap terbuka Nabi, tetapi juga menjadi simbol bagaimana umat Islam dan Non-Muslim dapat hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati.
Latar Belakang Kunjungan Delegasi Nasrani Najran
Pada tahun 9 Hijriah, sekelompok delegasi dari Najran, sebuah wilayah di selatan Jazirah Arab yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani, datang ke Madinah untuk berdialog dengan Nabi Muhammad. Kunjungan ini merupakan rangkaian dari jalinan hubungan yang baik antara komunitas Muslim di Madinah yang dipimpin oleh Nabi dan komunitas Nasrani di Najran. Sebelumnya memang telah terjadi hubungan yang baik antara keduanya dengan saling berkorespondensi dan berkunjung.
Delegasi ini terdiri dari 60 orang yang dipimpin oleh seorang uskup bernama Al-Aqib Abdul Masih, bersama beberapa pemuka agama lainnya, seperti As-Sayyid Al-Aiham, Abu Haritsah bin Alqamah, Aus, Al-Harits, Zaid, Qais, Yazid, Nabaih, Khuwailid, Amr, Khalid, Abdullah dan Yuhannas. Mereka datang untuk berdialog mengenai keyakinan mereka dan ajaran Islam, mengingat saat itu banyak pemimpin suku di Arab yang telah memeluk Islam.
Sejarawan Ibnu Hisyam merekam kejadian kunjungan delagasi Nasrani Najran ini dengan mengutip sebuah hadits riwayat Ibnu Ishaq:
قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ، قَالَ: لَمَّا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، فَدَخَلُوا عَلَيْهِ مَسْجِدَهُ حَيْنَ صَلَّى الْعَصْرَ، عَلَيْهِمْ ثِيَابُ الْحِبَرَاتِ ، جُبَبٌ وَأَرْدِيَةٌ، فِي جَمَالِ رِجَالِ بَنِي الْحَارِثِ بْنِ كَعْبِ
قَالَ: يَقُولُ بَعْضُ مَنْ رَآهُمْ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمئِذٍ: مَا رَأَيْنَا وَفْدًا مِثْلَهُمْ، وَقَدْ حَانَتْ صَلَاتُهُمْ، فَقَامُوا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعُوهُمْ، فَصَلَّوْا إلَى الْمَشْرِقِ.
Artinya: “ Ibnu Ishaq berkata, ‘Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair meriwayatkan bahwa rombongan (Najran) mendatangi Rasulullah SAW di Madinah dan memasuki masjid beliau dengan mengenakan gamis dan pakaian setelah beliau sholat Ashar. Mereka ditemani oleh kafilah unta yang dipimpin oleh Bani Al-Harits bin Ka’b”.
‘Muhammad bin Ja’far berkata: ‘Sebagian dari para sahabat Rasulullah yang melihat mereka berkata, ‘Kami tidak pernah melihat rombongan seperti itu setelah itu. Ketika waktu sholat mereka tiba, mereka berdiri untuk melaksanakan sholat di Masjid Nabawi. Rasulullah SAW berkata, ‘Biarkan mereka (beribadah),’ dan mereka sholat ke arah timur.’ ”
Meskipun tidak diceritakan bagaimana tatacara ibadah yang dilakukan oleh Nasrani Najran di Masjid Nabawi ini, namun perkataan Nabi “Biarkan mereka” menunjukkan bahwa Nabi memberikan izin sepenuhnya kepada Nasrani Najran untuk beribadah menurut keyakinan mereka yakni dengan menghadap ke timur, tidak menghadap ke kiblat kaum Muslim yakni ke Ka’bah. Perkataan Nabi tersebut juga mengindikasikan instruksi Nabi kepada para sahabatnya agar tidak mengganggu proses peribadatan yang mereka lakukan.
Delegasi Nasrani Najran dihormati dengan sangat baik oleh Nabi Muhammad. Setelah mereka beribadah, kemudian mereka melakukan dialog dengan Nabi yang berlangsung dengan penuh kedamaian. Mereka berbincang tentang isu-isu teologis, termasuk perbedaan keyakinan antara Islam dan Kekristenan. Meski ada perbedaan pandangan, Nabi Muhammad tetap menerima mereka dengan sikap terbuka dan bijaksana.
Pasca dialog, Nabi kemudian membuat surat perjanjian dengan Nasrani Najran yang menegaskan bahwa Nabi memberikan perlindungan kepada mereka, termasuk perlindungan terhadap keyakinan dan peribadatan mereka.
Peristiwa ini menjadi salah satu contoh nyata tentang bagaimana Islam menghargai keberagaman dan menghormati hak-hak beribadah setiap orang, termasuk Non-Muslim. Toleransi ini bukan berarti melemahkan keyakinan Islam, tetapi justru memperkuat nilai-nilai kebaikan, keadilan, dan kasih sayang yang menjadi inti ajaran Islam.
Kisah Nabi Muhammad yang mengizinkan delegasi Nasrani Najran untuk beribadah di Masjid Nabawi menunjukkan betapa Islam sangat menghargai toleransi, kerukunan, dan hak asasi manusia. Nabi Muhammad tidak hanya menjadi pemimpin umat Islam, tetapi juga teladan dalam memperlakukan sesama manusia dengan adil dan hormat, tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa Islam, sejak awal kemunculannya, menekankan pentingnya hidup dalam kedamaian, menghormati perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Wallahu a’lam bis shawab
Editor: Muhammad Faizin


