Arina.id - Membincangkan Madinah Munawarah, terdapat beberapa masjid yang sarat dengan nilai sejarah. Masjid bersejarah tersebut seperti Masjid Quba, Masjid Ghamamah, Masjid Abu Bakar, Masjid Umar bin Khatab, Masjid Ali bin Abi Thalib maupun masjid lainnya.
Salah satu yang menarik untuk diulas adalah Masjid Quba yang merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah ketika pertama kali berada di Madinah. Apalagi dalam surat Attaubah 108 disebutkan:
لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Artinya: "Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih."
Penjelasan ayat ini menurut Wahbah Zuhaili dalam tafsir Wajiz mengandung pesan agar Rasulullah tidak sholat di masjid Dhirar yang dibangun oleh orang-orang munafik. Sesungguhnya Masjid yang dibangun atas dasar ketakwaan sejak hari pertama Nabi memasuki Madinah untuk berhijrah itu lebih utama untuk sholat di dalamnya daripada di masjid Dhirar.
Timbul pertanyaan, manakah masjid yang dimaksud dalam surat At-Taubah yang didirikan atas dasar takwa? Masjid Quba atau Masjid Madinah (Nabawi)?. Dalam keterangan tafsir Ibnu Katsir diuraikan:
والسياق إنما هو في معرض مسجد قباء ؛ ولهذا جاء في الحديث الصحيح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " صلاة في مسجد قباء كعمرة
Artinya: "Konteks ayat tentang masjid yang dibangun atas dasar takwa itu mengarah kepada masjid Quba. Karena itulah dalam hadits sahih disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: sholat di masjid Quba pahalanya laksana umrah."
وفي الحديث : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بناه وأسسه أول قدومه ونزوله على بني عمرو بن عوف ، كان جبريل هو الذي عين له جهة القبلة فالله أعلم .
Artinya: "Dalam hadits lain, ketika Rasulullah membangun dan memondasi masjid, tepatnya saat pertama kali datang dan turun di Bani Amr bin Auf, maka Jibril yang menentukan arah kiblat untuknya. Wallahu a'lam"
Sedangkan dalam tafsir Wasith mengemukakan perbedaan pendapat, bahwa yang dimaksud masjid dalam surat At-Taubah adalah masjid Nabawi:
وقيل المراد بالمسجد الذي أُسس على التقوى هو المسجد النبوى بالمدينة فعن أَبي سعيد الخدرى رضى الله عنه قال: سَأَلْتُ النَّبِىَّ ﷺ عن المسْجِدِ الَّذِى أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى، فأَخَذَ حَصْباءَ، فضرَبَ بِها الأَرْض وَقالَ: مَسْجِدُكُمْ هَذا مَسْجِدُ الْمَدِينةِ
Artinya: "Yang dimaksud masjid ussisa alattaqwa adalah masjid Nabawi. Menurut riwayat Abu Said Al-Khudri ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi Muhammad tentang masjid yang dibangun atas dasar taqwa, kemudian beliau mengambil kerikil lalu melemparkan ke tanah dan bersabda: Masjid kalian semua (umat Islam) ini adalah masjid Madinah."
Demikian juga dalam Sahih Muslim 4/126:
عَنْ حُمَيْدٍ الْخَرَّاطِ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: «مَرَّ بِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قُلْتُ لَهُ كَيْفَ سَمِعْتَ أَبَاكَ يَذْكُرُ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى؟ قَالَ: قَالَ أَبِي : دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي بَيْتِ بَعْضِ نِسَائِهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الْمَسْجِدَيْنِ الَّذِي أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى؟ قَالَ: فَأَخَذَ كَفًّا مِنْ حَصْبَاءَ فَضَرَبَ بِهِ الْأَرْضَ، ثُمَّ قَالَ: هُوَ مَسْجِدُكُمْ هَذَا» - لِمَسْجِدِ الْمَدِينَةِ
Artinya: "Diriwayatkan dari Humaid Kharrat, ia berkata: aku mendengar Aba Salamah bin Abd Rahman, ia berkata, aku bertemu dengan Abdurrahman bin Said Al-Khudri dan aku bertanya padanya, apa yang engkau ketahui tentang masjid ussisa alattaqwa menurut penjelasan ayahmu?. Abdurrahman menjawab: Ayahku (Abu Said Al-Khudri) berkata: aku menghadap Rasulullah yang sedang berada di rumah salah satu istrinya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, dimanakah masjid yang dibangun atas dasar takwa? Kemudian Rasulullah mengambil kerikil dan melemparkan ke tanah seraya berkata: Inilah masjidnya, masjid Madinah. "
Meski terjadi perbedaan pendapat tentang penafsiran surat At-Taubah 108 berkenaan tentang manakah masjid ussisa alattaqwa yang dimaksud, kiranya yang perlu dijadikan pedoman tentang kemuliaan masjid Quba adalah salah satu hadits nabi:
مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيهِ صَلاَةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ
Artinya: "Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia sholat di dalamnya. Maka baginya pahala seperti pahala umrah." (HR Tirmizi dan Ibnu Majah)
Dari sini dapat dipahami bahwa masjid Quba memiliki keistimewaa luar biasa bagi siapa saja yang melakukan sholat di dalamnya. Biasanya, para jamaah haji umrah memanfaatkan untuk sholat tahiyat masjid, sholat sunah, sholat berjamaah, zikir, dan amalan lain. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


