Dark
Light
Dark
Light

Al-Qur’an Tidak Hanya Turun di Bulan Ramadan, Ini Dalilnya

Al-Qur’an Tidak Hanya Turun di Bulan Ramadan, Ini Dalilnya

Arina.id- Ramadan memiliki nama lain Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an). Sebab, bulan ini menjadi momen diturunkannya Al-Quran, bertepatan dengan tanggal 17 Ramadan. Oleh karena itu, umat Muslim biasa merayakan tanggal tersebut sebagai hari Nuzulul Qur’an (Turunnya Al-Qur’an). Karena itu pula, pada bulan ini kita dianjurkan perbanyak tadrus ayat Al-Qur’an. Anjuran tadarus ini diperkuat dengan hadits berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ. وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ. فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ.

Artinya, “Dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah saw adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah saw orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus.” (HR Al-Bukhari)

Namun, penting diketahui bersama bahwa Ramadan bukan satu-satunya momen diturunkannya Al-Qur’an. Turunnya Al-Qur’an pada bulan ini adalah fase penurunan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia yang terjadi secara sekaligus. Sedangkan turunnya Al-Qur’an secara berangsur dari Baitul ‘Izzah kepada Nabi Muhammad terjadi dalam waktu 23 tahun, bukan hanya di bulan Ramadan. Berikut adalah dalill dan penjelasan lebih lengkapnya. 

Turun Secara Sekaligus

Syekh Manna’ Khalil al-Qattan dalam Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an menyebutkan, tahap pertama turunnya Al-Qur’an dilakukan secara sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Tujuan peristiwa ini adalah untuk memuliakan kitab suci umat Muslim tersebut di sisi malaikat. Al-Qattan mendasari argumennya ini dengan tiga ayat berikut:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ 

Artinya, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝١

Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.” (QS. Al-Qadar: 1)

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ ۝٣

Artinya, “Sesungguhnya Kami (mulai menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan: 3)

Menurut Al-Qattan, penafsiran ayat ini sebagai dalil bahwa Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah didukung oleh mayoritas ulama (jumhur ulama), termasuk oleh Ibnu Abbas, salah satu sahabat Nabi. (Al-Qattan, tanpa tahun: juz 1, h. 95)

Turun Secara Bertahap

Tahap kedua penurunan Al-Qur’an dilakukan secara berangsur selama 23 tahun, baik saat Nabi berdakwah di Makkah maupun ketika sudah hijrah ke Madinah. Setiap ayat yang turun memiliki latar belakang historis (asbabun nuzul) masing-masing. Al-Qattan mendasari argumennya ini dengan beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya adalah berikut:

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ ۝١٩٢  نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُۙ ۝١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَۙ ۝١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍۗ ۝١٩٥

Artinya, “Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar diturunkan Tuhan semesta alam. Ia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril). (Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan. (Diturunkan) dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195)

قُلْ نَزَّلَهٗ رُوْحُ الْقُدُسِ مِنْ رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ ۝١٠٢

Artinya, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ruhulkudus (Jibril) menurunkannya (Al-Qur’an) dari Tuhanmu dengan hak untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang muslim (yang berserah diri kepada Allah).” (QS. An-Nahl: 103)

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ عَلٰى قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ ۝٩٧

Artinya, "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapa yang menjadi musuh Jibril?” Padahal, dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah sebagai pembenaran terhadap apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 97)

Al-Qattan menyebutkan, secara linguistik, ayat-ayat yang menjadi dasar Al-Qur’an diturunkan secara berangsur menggunakan redaksi nazzala-tanzilan (نزّل-تنزيلا), berbeda dengan ayat-ayat yang menjadi dasar turun secara sekaligus menggunakan redaksi anzala-inzalan (أنزل-إنزالا). (Al-Qattan, tanpa tahun: juz 1, h. 101)

Penting untuk dicatat, proses penurunan secara bertahap kepada Nabi Muhammad hanya terjadi pada kitab suci Al-Qur’an, sementara kitab samawi lainnya seperti Taurat dan Injil, diturunkan dengan sekaligus. Hal ini berdasarkan firman Allah berikut:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةًۛ كَذٰلِكَۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا ۝٣٢

Artinya, “Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” (QS. Al-Furqan: 32)

Kesimpulannya, meskipun Ramadan disebut sebagai bulan Al-Qur’an dan didalamnya biasa diperingati hari turun Al-Qur’an, bukan berarti bulan ini menjadi satu-satunya momen turunnya kitab suci umat Muslim tersebut. Sebab, Al-Qur’an memiliki dua fase penurunan. Fase pertama pada malam Ramadan yang diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul ‘Izzah, dan fase kedua secara bertahap dari Baitul ‘Izzah kepada Nabi Muhammad di bumi.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo