Dark
Light
Dark
Light

Nuzulul Qur'an: Dari Manakah Turunnya Kitab Suci Umat Islam?

Nuzulul Qur'an: Dari Manakah Turunnya Kitab Suci Umat Islam?

Momentum Ramadhan bukan hanya tentang puasa dan tarawih,. Bulan Ramadhan juga identik dengan bulan Al-Qur’an bahkan dalam bulan ini diperingati malam Nuzulul Qur’an yakni malam diturunkannya Al-Qur’an bertepatan pada 17 Ramadhan di setiap tahunnya.

Tradisi seremonial yang sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat kita itu tentunya berdasar. Seperti catatan founder PP. Al-Hidayah Tanggulangin Sidoarjo yakni KH. Ma’shum Ahmad bahwa surat yang pertama kali diturunkan yakni surat al-Alaq ayat 1-5 tepat diturunkan di malam 17 Ramadhan. (Ma’shum bin Ahmad gMarzuqi, Al-Risalatu Al-Shughra fi Ilmi Al-Tafsir, [Sidoarjo: Maktabah PP. Al-Hidayah, 2023],  hal. 23.).

Namun perlu difahami oleh setiap Muslim, sebagai bentuk refleksi seremonial ini tentang terminologi Nuzulul Qur’an itu sendiri, bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad mempunyai beberapa tahapan tertentu. Al-Qur'an tidak diturunkan sebagaimana kitab-kitab samawi sebelumnya yang hanya diturunkan sekali dengan jumlah keseluruhan.

Prof. Dr. Nuruddin Ittr mencatat dalam bukunya yang berjudul Ulumul Qur’anil Karim bahwa terdapat tiga fase turunnya Al-Qur’an hingga sampai kepada Nabi Muhammad, yaitu:

  1. Fase pertama diturunkan oleh Allah menuju Lauhul Mahfudz.
  2. Fase kedua diturunkan dari Lauhul Mahfudz menuju ke langit dunia yang disebut dengan Baitul Izzah secara keseluruhan.
  3. Fase ketiga diturunkan dari Baitul Izzah kedalam hati Nabi Muhammad berangsur selama 23 tahun. (Nuruddin Ittr, Ulumul Qur’anil Karim, [Rembang: Maktabah Al-Anwariyah, tt,], hal. 26.).


Al-Suyuthi dalam al-Itqan-nya mencatat tiga perbedaan dalam fase diturunkannya Al-Qur’an dan mengatakan bahwa tiga fase sesuai yang telah disebutkan adalah pendapat yang paling sahih dan masyhur.

Al-Suyuthi menyebutkan sebagai berikut:

.اُخْتُلِفَ فِيْ كَيْفِيَّةِ إِنْزَالِهِ مِنْ اللَّوْحِ المَحْفُوْظِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْوَالٍ .أَحَدُهَا وَهُوَ اَلْأَصَحُّ اَلْأَشْهَرُ أَنَّهُ نُزِلَ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ القَدَرِ جُمْلَةً وَاحِدَةً ثُمَّ نُزِلَ بَعْدَ ذَلِكَ مُنَجَّمًا فِيْ عِشْرِيْنَ سَنَةً أَوْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِيْنَ أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ عَلَى حَسْبِ الخِلَافِ فِيْ مُدَّةِ إِقَامَتِهِ بِمِكَّةَ بَعْدَ البِعْثَةِ

Artinya: “Terdapat tiga pendapat tentang model turunnya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz, yang pertama yang paling sahih dan paling masyhur adalah Al-Qur’an diturunkan adri Lauhul Mahfudz ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar dalam satu wujud keseluruhan, kemudian diturunkan secara berkala selama 20 tahun atau 23 atau 24 tahun sesuai perbedaan tentang masa tinggal Nabi di Makkah setelah Bi’tsah (diutus menjadi Nabi)." (Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2018], hal. 64.).

Terdapat dua term yang bisa mewakili terhadap proses penurunan Al-Qur’an antara langsung dan bertahap, yakni اَنْزَلَ  dan نَزَّلَ, sebagaimana menurut Fakhruddin al-Razi sebagai berikut:

أَنَّ التَّنْزِيْلَ مُخْتَصٌّ بِالنُّزُوْلِ عَلَى سَبِيْلِ التَّدْرِيْجِ وَالإِنْزَالُ مُخْتَصٌّ بِمَا يَكُوْنُ النُّزُوْلُ فِيْهِ دَفْعَةً وَاحِدَةً وَلِهَذَا قَالَ اللهُ تَعَالَى نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقّ مُصَدّقاً لّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاة َ.

Artinya: “Term al-Tanzil khusus untuk turunnya kalamullah dengan model tadrij (berangsur), sedangkan term al-Inzal khusus untuk yang turun sekaligus. Oleh karena itu  dalam surat Ali Imran ayat 3 Allah menggunakan term Nazzala untuk Al-Qur’an dan menggunakan term Anzala untuk torah dan bible." (Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghayb, [Beirut: Darul Fikr, tt.], juz V, hal. 93.).

Banyak hikmah yang bisa dipelajari dari proses turunnya Al-Qur’an di antaranya sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Nuruddin Ittr. Hikmah Al-Qur’an diturunkan dengan fase keseluruhan adalah bahwa proses itu menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an beserta orang yang menerimanya dengan memberi khabar kepada penduduk langit bahwa ini adalah kitab yang terakhir diturunkan kepada Nabi terakhir dan diperuntukkan kepada umat terbaik.

Kemudian hikmah diturunkan dengan fase berkala menurutnya adalah: Pertama, Menguatkan hati Nabi Muhammad. Kedua, Menghadapi hal-hal baru yang muncul untuk kebutuhan dakwah. Ketiga, memelihara umat yang diturunkan Al-Qur'an kepadanya. Keempat, Salah satu model I’jazul Qur’an. (Nuruddin Ittr, Ulumul Qur’anil Karim, [Rembang: Maktabah Al-Anwariyah, tt,], hal. 27.).

Al-Qur’an memang berbeda dari kitab-kitab terdahulu terutama tentang model turunnya yang mempunyai tiga fase yakni fase Lauhul Mahfudz, fase Baitul Izzah, dan fase terakhir yakni hati Nabi Muhammad. Al-Qur’an juga diturunkan dengan dua model yakni model turun keseluruhan dalam dua fase pertama dan turun berkala dalam fase ketiga. Al-Qur’an juga adalah penyempurna dan pemungkas bagi kitab-kitab terdahulu. Wallahu a’lam bis shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo