Arina.id - Allah Yarham Syaikhana Maimoen Zubair pernah bercerita bahwa beliau pernah berhaji dengan kakeknya, KH Ahmad Syu’aib pada era masih menggunakan transportasi laut. Pada waktu itu, jumlah jemaah haji kurang dari 600 ribu jiwa. Diperkirakan tahun haji beliau tersebut adalah pada era 1950-an.
Jumlah jemaah haji era transportasi laut memang tidak begitu banyak dibanding dengan era kini yang mencapai hampir 2 juta jiwa pertahun. Eric Talgiacozzo dan Shawkat M. Toorawa dalam The Hajj: Pilgrimage in Islam mencatat bahwa kenaikan jumlah peziarah haji meningkat pesat sejak mengudara dari ratusan ribu hingga 1,8 juta jiwa.
Mbah Moen mengisahkan: “Bien kaji iku gak keno luweh 600 ewu, kulo teseh menangi kaji iku dibatesi kudu mok 600 ewu. Lek luweh, akeh seng mati. Nek kurang, ditambahi moloekat. Kulo nate kurang niku, kulo kaji kale Mbah Mad (KH. Ahmad Syu’aib) niku kurang 600 ewu, muk 580 ewu, kurang pinten niku ?, kaleh doso ewu."
“Niku kapan dalu seng tawaf niku wong macem-macem. Mbah kulo niku angger dalu mesti tawaf sewengi-sewengi, tak takoni Mbah sampean kok suwene-suwe tawaf ?, “Halah cung !, wong kaji nikmat saiki iki, sebab kurang 600 ewu ditambahi rijalul ghayb, koe nek kepingin ngerti rijalul ghayb tawaf karo aku sewengi”. Mbah abot Mbah, pun sampean mawon terose kulo”.
Artinya: "Haji era dulu tidak boleh lebih dari 600 ribu jiwa, saya pernah berhaji yang dibatasi hanya 600 ribu jiwa. Jika lebih, akan banyak yang meninggal. Jika kurang, akan digenapkan dengan malaikat. Saya pernah mengalami yang kurang itu. Saya berhaji dengan Mbah Mad (KH. Ahmad Syu’aib) kurang dari 600 ribu jiwa, hanya 580 jiwa, kurang berapa itu? 20 ribu jiwa."
"Setiap malam bermacam-macam orang yang tawaf. Mbah saya setiap malam tawaf sampai larut malam. Saya bertanya “mbah, anda kok tawaf sampai latur setiap malam ?, Mbah Ahmad menjawab “lha nak, berhaji paling nikmat itu tahun sekarang sebab kurang dari 600 ribu jiwa akan ditambahi dengan rijalul ghayb (tentara kasat mata), kamu kalau ingin mengerti rijalul ghayb ikut aku tawaf sampai larut malam”. Saya menjawab “berat mbah, anda sajalah”.
Kisah Mbah Moen ini merupakan salah satu dari keutamaan Baitullah, sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’-nya chapter Asrarul Hajj berikut:
قَالَ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ عز وجل قد وعد هذا البيت أن يحجه كل سنة ستمائة ألف فإن نقصوا أكملهم الله عز وجل من الملائكة
Artinya: "Rasulullah bersabda bahwa Allah sungguh telah berjanji kepada Baitullah ini untuk berhaji 600 ribu orang setiap tahun. Jika berkurang maka Allah akan menggenapkannya dengan malaikat." (Ihya’ Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma’rifah], juz 1, hal. 241.).
Memang benar bahwa banyak para kritikus hadits menilai hadits ini dengan “tidak berdasar” atau dikategorikan sebagai hadits palsu karena tidak ditemukan riwayat dalam kitab-kitab hadits yang sudah terpublikasi, dan tidak ditemukan jalur periwatannya hingga kepada Rasulullah.
Namun, hadits tersebut juga dikutip oleh Muhammad bin Abdul Baqi al-Zarqani dalam Syarh al-Zarqani alal Mawahibil Laduniyah, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1996, juz 4, hal. 146], berikut:
وفي حديث أن الله وعد هذا البيت أن يحجه في كل سنة ستمائة ألف إنسان، فإن نقصوا كملهم الله بالملائكة.
Sulaiman bin Umar al-Jamal dalam Futuhatul Wahhab bi Taudhihi Syarh Manhajit Thulab [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 2013, juz 4, hal. 79], berikut:
وَرَدَ فِي خَبَرِ إنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَعَدَ هَذَا الْبَيْتَ بِأَنْ يَحُجَّهُ كُلَّ سَنَةٍ سِتُّمِائَةِ أَلْفٍ مِنْ الْإِنْسِ فَإِنْ نَقَصُوا كَمَّلَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ الْمَلَائِكَةِ
Sulaiman bin Umar al-Bujairami dalam Al-Tajrid li Naf’i Abid [Beirut: Darul Fikr, 2005, juz 2, hal. 181] berikut:
وَرَدَ فِي خَبَرٍ إنَّ اللَّهَ وَعَدَ هَذَا الْبَيْتَ بِأَنْ يَحُجَّهُ كُلَّ سَنَةٍ سِتُّمِائَةِ أَلْفٍ فَإِنْ نَقَصُوا كَمَّلَهُمْ اللَّهُ مِنْ الْمَلَائِكَةِ
Hanya redaksi kutipan Abdullah al-Syarqawi dalam Hasyiyah al-Syarqawi ala Tuhfatit Thulab [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1997, juz 2, hal. 387] yang sedikit berbeda, berikut redaksinya:
إن البيت الحرام يحجه كل عام سبعون ألفا من البشر فإذا نقصوا عن ذلك أتمهم الله عز وجل بالملائكة وإذا زادوا على ذلك يفعل الله ما يريد
Artinya: "Sesungguhnya Baitullah Masjidil Haram berhaji didalamnya 70 ribu manusia. Jika berkurang, maka Allah akan menggenapkannya dengan malaikat. Jika bertambah, maka Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki."
Jika melihat poin terahir dari redaksi al-Syarqawi, maka sama dengan kesimpulan kisah Mbah Moen bahwa jika lebih dari 600 ribu, maka akan banyak yang meninggal. Hal ini bisa dipahami dengan melihat kondisi kota Makkah itu sendiri. Di era dulu mungkin akan terjadi kematian tinggi jika melebihi 600 ribu jiwa.
Syihabuddin Ahmad al-Qasthallani dalam Al-Mawahibul Laduniyah bil Minahil Muhammadiyah [Kairo: Maktabah al-Taufiqiyah, juz 1, hal. 435] mengatakan bahwa jumlah orang yang berhaji bersama Rasulullah dalam Haji Wada’ mencapai 70 ribu jiwa, dikatakan juga 114 ribu jiwa, bahkan dikatakan juga lebih dari itu.
Penafsiran Mbah Moen relevan dengan era itu, yakni lebih 600 ribu jiwa akan menyebabkan angka kematian tinggi. Hal ini karena kapasitas sarana prasarana Kota Makkah dan Madinah era itu tidak bisa menampung jumlah banyak.
Kondisi itu berbeda dengan era sekarang yang bisa menampung hingga 1,8 juta jiwa. Lebih dari itu, pemerintah Saudi Arabia juga terus melakukan proyek pembangunan sarana dan prasarana kepentingan Haji dan Umrah, itu sebabnya persentase angka kematian cenderung tidak lebih dari 1%. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


