Arina.id ~ KH Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha, menjelaskan tafsir surat Al-Isra ayat 1. Menurutnya, dari asbabul nuzul (sebab turun) ayat tersebut, sebagian besar para ulama telah bersepakat bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah hiburan atau pelipur lara dari Allah swt kepada Rasulullah saw.
Disebut sebagai pelipur lara karena saat itu Nabi Muhammad baru saja ditinggal dua orang terbaik yang selama ini memberikan perlindungan yakni Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah. Abu Thalib adalah paman Nabi, yang merupakan bangsawan Arab dari klan terhormat bernama Quraisy. Abu Thalib adalah satu-satunya orang yang bisa menggaransi hidup Nabi Muhammad dari ancaman kafir Makkah.
“Periode Makkah adalah masa tersulit Nabi Muhammad. Karena beliau itu sudah minoritas, kecil, dan pendukungnya tidak ada. Satu-satunya yang menggaransi Nabi tidak dibunuh itu karena beliau dilindungi oleh pamannya yaitu Abu Thalib. Selain itu, secara kasta sosial tinggi karena beliau punya istri yang saudagar kaya yakni Sayyidah Khadijah” jelas Gus Baha.
Dengan wafatnya kedua orang yang menyokong Rasulullah, baik secara moral (Abu Thalib) maupun material (Khadijah), tahun ini dikenal dengan ‘âmul huzn atau tahun duka. Secara psikologis manusia normal, wafatnya dua orang secara beruntun tersebut menjadikan kejiwaan Nabi terguncang.
Keguncangan psikologi Nabi bersumber dari masyarakat Arab kala itu yang sudah terlanjur terdikte oleh propaganda pemuka Yahudi dan Nasrani.
“Orang kafir Makkah itu orang-orang bodoh, orang-orang tidak terpelajar. Mereka itu punya satu mitos atau keyakinan yang ditanamkan tokoh-tokoh Yahudi maupun Nasrani. Apa keyakinan itu? Bahwa kenabian yang paling memungkinkan itu kalau orang itu keturunan Bani Israil,” sambung Gus Baha.
Karena pemuka Yahudi ini yang dijadikan sumber konsultasi masyarakat Arab, mereka menjadi yakin atas doktrin mitos yang diembuskan. Mitosnya adalah tidak mungkin jika ada Nabi yang lahir di luar garis keturunan Bani Israil. Nabi-nabi itu tidak jauh-jauh dari Palestina. Nabi Ibrahim, Isa, Yahya, Zakariya, Musa, semuanya dari komunitas Masjidil Aqsha.
Sehingga, ketika Nabi Muhammad mendakwahkan diri sebagai nabi mereka menyatakan kalimat yang dikutip Al-Qur’an sebagai berikut:
أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ
Artinya: “(Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kalian (tidak) mengatakan, "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (QS Al-An’am: 156)
Atas keraguan orang Arab, mereka mencoba menelisik lebih dalam kepada Nabi Muhammad, “Hai Muhammad, nabi-nabi itu semua dari Palestina. Kalau kamu memang benar-benar Nabi, apakah kamu tahu ke arah mana masjid (Aqsa) itu menghadap, berapa jumlah tiangnya?”
Dengan pertanyaan itu, pada hakikatnya Nabi Muhammad saw sedang diasah intelektualitasnya oleh Tuhan melalui proses Isra' yang menjadikan Nabi Muhammad bisa menjawab bahwa jumlah pintu Masjid al-Aqsha itu sekian, wajah dan perilaku Nabi Musa begini, wajah Nabi Ibrahim itu begini.
“Ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa para nabi selain diuji secara fisik seperti diludahi, shalat dilempari batu, kotoran dan lain sebagainya, mereka juga diuji secara intelektual. Ujian intelektual Nabi Muhammad dimulai dari periode Makkah sampai Madinah,” pungkas Gus Baha.
Editor: Muhammad Faizin


