Dark
Light
Dark
Light

Gus Miek dan Dakwahnya di Kalangan Bromocorah

Gus Miek dan Dakwahnya di Kalangan Bromocorah

“Amiin, ya Allah.. Duh Gusti kang melasi, panjenengan moho lumo aris lan mitulungi” 

Syi’iran Dzikrul Ghafilin (Gus Miek Ploso Mojo Kediri)

Arina.id - Sosok Gus Miek memang penuh daya pikat, seakan menjadi legenda yang tak lekang zaman. Bagaimana tidak. Beliau dikaruniai Allah beberapa keistimewaan yang kerap disembunyikan. Statusnya sebagai putra ulama besar tidak pernah beliau tunjukkan, tujuannya agar lebih mudah bergaul dan mendengarkan suara hati masyarakat tanpa ada jarak. Bahkan tak jarang, beliau melewati pintu belakang tatkala ada acara tertentu untuk menghindari kerumunan orang yang berniat menemuinya.

Dentuman musik jazz dalam Nightclub, Diskotik, Pub, Bar seakan menjadi bagian “lelaku” sosok penggemar rokok Diplomat hitam ini. Hotel Sahid maupun Hotel Elmi adalah dua dari sekian hotel yang pernah disinggahinya. Bahkan tatkala Gus Miek “kapundut”, ajaibnya beberapa tempat hiburan malam, hotel di Surabaya seketika menjadi sunyi. Tempat-tempat itu ikut berduka atas meninggalnya sang kiai nyentrik ini.

Kedekatan Gus Miek dengan lapisan masyarakat tidak membuat beliau pilah-pilih. Bagi beliau, semua sama-sama memiliki status “mengharap rahmat Allah”. 

Dakwah yang dilakoni itu pun penuh risiko, mulai dikucilkan dan disuudzani oleh kalangan “putih” hingga dicap sebagai “dukun”. Gus Miek tak bergeming dengan anggapan-anggapan itu. Beliau pernah berkata—sependek ingatan saya: ”Siapakah yang akan menjemput mereka dari tempat gelap?! Bila ada yang berani terjun langsung menjemput mereka, saya akan berhenti."

Pernyataan Gus Miek ini, saya artikan sebagai bentuk otokritik kepada para ulama agar sadar dan peduli terhadap umatnya tanpa pandang bulu serta memperluas radius wilayah dakwahnya, bukan hanya di zona pesantren saja.

Bahkan Abah Thoyib Krian pernah mengemukakan: “Syiar agomo iku ojo nang pondok ae tapi yo metu serawungan lan ngajak wong sing peteng dadi insaf” (syiar agama itu jangan hanya di dalam pondok saja tapi juga kontemplasi keluar bergaul dan mengajak mereka yang “gelap” agar insaf). Saya pribadi beranggapan Gus Miek berusaha mengenalkan konsep “amar makruf bilmakruf, wa nahyul munkar bilmakruf” (mengajak kebaikan dengan cara yang baik dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik pula)."

Jadi, sangatlah wajar jikalau ada yang menilai dakwah Gus Miek tergolong “nyeleneh”. Di saat para gawagis  (para gus) dikader menjadi penerus estafet kepemimpinan pesantren dengan menggelar pengajian kitab, ternyata ada satu gus dengan laku yang berbeda.

Terobosan Gus Miek mengajak para “pemabuk dunia” tidaklah semudah membalikkan tangan. Rintangan dan tantangan beliau lalui dengan “dodo jembar”. Senyum hangat tetap berkembang tanpa lelah. Sungguh berat perjuangan dakwah Gus Miek yang oleh sebagian Kiai khas diterjemahkan dengan hamlul adza  wal balwa (menanggung risiko berat dan cobaan).

Perlahan namun pasti, satu persatu dari kalangan WTS, germo, pecandu, artis, seniman bertobat dan menjadi pengikut setia Gus Miek. Sebut saja ada Ayu Wedayati, Deddy Dores, dan sederet artis beken menunjukkan rasa hormatnya kepada Gus Miek. Ada yang memanggil beliau dengan sebutan papa, om, dukun, gus, kiai, dan lain-lain. Dan hebatnya, Gus Miek tidak terpengaruh oleh ragam sebutan tersebut.

Santri Gus Miek dan Godaan Duniawi

Diakui atau tidak diakui, peran Gus Miek menyebarkan Islam rahmatan lil alamin di kalangan masyarakat bromocorah sangat terasa unsur positifnya. Pasca beliau kapundut, banyak kalangan yang beranggapan sulit mencari penggantinya. Bahkan ada yang mengatakan tokoh sekaliber Gus Miek dan Gus Dur hanya muncul satu kali dalam jangka 100 tahun.

Ada sebuah kisah santri yang mencoba napak tilas Gus Miek dengan cara berdakwah dalam dunia remang-remang. Awalnya dia berhasil (hingga diklaim sebagai pengganti Gus Miek) sehingga mampu mengajak para bromocorah tobat. Akan tetapi di tengah proses dakwahnya itu, ia tiba-tiba jatuh tergoda oleh kecantikan salah satu jamaahnya, sehingga kebeningan jiwanya terkotori. Bagaimana bisa seperti itu?

Setelah santri tersebut sukses mengajak "aliran hitam” untuk taubatan nasuha, tak terasa ia tersisipi perasaan ujub (bangga diri) akan keberhasilan dakwahnya. Nah, tatkala pintu ujub ini terbuka, masuklah akhlaq madzmumah lainnya yang tanpa dia sadari mengganggu kejernihan hatinya.

Adapula santri yang berdakwah di dunia remang-remang dan sukses mengajak beberapa pelaku maksiat bertobat, buru-buru oleh sebagian orang ia ditahbiskan mirip Gus Miek. Tapi ternyata ia tidak mampu menahan godaan duniawi.

Berkaca dari kisah ini, ternyata jatah porsi manusia memiliki daya tampung yang berbeda-beda. Semisal ada yang mampu puasa Daud, ada pula yang tidak kuat berpuasa. Ada juga yang tangguh qiyamullail, tapi ada juga yang tidak mampu.

Sungguh tepat hal ini bila dikaitkan dengan dawuh Kiai Munif Djazuli: “Semua orang memiliki bagiannya masing-masing. Nikmati saja bagianmu”. 

Dari sini, jelaslah sudah kadar perjuangan dakwah santri yang secara kasat mata memiliki kelebihan itu kualitasnya masih jauh berbeda dengan yang dilakoni Gus Miek. 

Gus Miek dengan segala kelebihan dan kekurangannya tetaplah sosok yang patut diteladani dari sisi keikhlasannya. Saya pribadi mendapatkan kesaksian bahwa Gus Miek sering maringi (memberi) sesuatu kepada yang menginginkan. 

Semisal, ada seorang santri yang tidak memiliki motor, tiba-tiba Gus Miek menghadiahinya motor. Bahkan pasca tindak-nya beliau, khadam ndalem juga dikasih kenang-kenangan di saat Gus Miek masih hidup. 

Sungguh keikhlasan Gus Miek bukan isapan jempol belaka. Kehadiran beliau dalam majelis semaan dan berlanjut menyapa aktor-aktor “dunia hitam” untuk memperkenalkan bagaimana cara menundukkan kepala dan menekuk kerasnya hati sembari menengadah mengharap pancaran rahmat Allah taala.

Sebagai pamungkas coretan ini, saya kutip salah satu syiiran arab yang berbunyi:

هيهاتَ لا يأتي الزمانُ بمثلهِ # إنَّ الزمانَ بمثلهِ لبخيلُ

Zaman tidak mungkin datang  seperti sediakala,

sebab zaman sangatlah bakhil-pelit untuk mengulanginya

Dari syi'iran ini menegaskan bahwa zaman terus bergulir dan terus akan melahirkan ratusan tokoh beserta pernak-pernik peristiwa. Ada yang baik untuk dipelajari dan ada yang buruk untuk diikuti. 

Gus Miek hadir di zaman yang kala itu belum ada medsos, beliau berdakwah dari satu pintu ke pintu lain untuk mengajak kalangan bromocorah mencintai Al-Qur'an, memompa harapan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo