Dark
Light
Dark
Light

Tafsir Surat Al-Qadr Ayat 1: Awal Turunnya Al-Qur’an dan Kemuliaan Lailatul Qadar

Tafsir Surat Al-Qadr Ayat 1: Awal Turunnya Al-Qur’an dan Kemuliaan Lailatul Qadar

Arina.id - Surat ini dinamakan Surat Al-Qadr, yang berarti: keagungan dan kemuliaan. Kata Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitab Tafsir Al-Munir, malam tersebut memiliki kedudukan yang sangat agung dan penuh berkah. Nama Surat Al-Qadr ini, diambil dari bagian ayatnya, yakni: Lailatul Qadar, malam yang sangat istimewa karena pada malam itu Allah SWT menurunkan Al-Qur’an.

Ini tergambar dalam firman Allah, dalam Surat pertama Surat Al-Qadr:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝١

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.”

Jika ditelisik lebih jauh, Surat Al-Qadr memiliki korelasi dengan Surat sebelumnya, yaitu Surat Al-Alaq. Dalam Surat Al-Alaq, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk membaca Al-Qur’an dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan manusia dan mengajarkan ilmu [iqra’].

Sementara dalam Surat Al-Qadr, Allah SWT menjelaskan kapan Al-Qur’an pertama kali diturunkan, yaitu pada malam Lailatul Qadar, malam yang penuh kemuliaan dan keistimewaan. Kenapa mulia? Karena Al-Qur’an turun pada malam tersebut. Kata Syekh Wahbah Zuhaili:

سميت سورة القدر أي العظمة والشرف تسمية لها بصفة ليلة القدر الذي أنزل الله فيها القرآن، فقال سبحانه: {إِنّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ} أي في ليلة عظيمة القدر والشرف

Artinya: “Surat ini dinamakan Al-Qadr, yang berarti kebesaran dan kemuliaan, sebagai penamaan yang merujuk pada sifat Lailatul Qadar, malam yang di dalamnya Allah menurunkan Al-Qur’an. Allah berfirman:
‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Al-Qadr’, yaitu pada malam yang memiliki kedudukan dan kemuliaan yang agung
.” (Syekh Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir, [Beirut: Darul Kutub, 1991 M], Jilid XXX, hlm. 330).

Lebih jauh lagi, Al-Qadr termasuk Surat Makkiyah yang berisi tentang sejarah awal turunnya Al-Qur’an serta keutamaan malam Lailatul Qadar dibandingkan dengan malam-malam lainnya. Malam ini memiliki keistimewaan karena pada saat itu para malaikat, termasuk Malaikat Jibril, turun ke bumi dengan membawa cahaya, keberkahan, dan kebaikan bagi hamba-hamba Allah yang beriman dan saleh. Semua rahmat dan keberkahan ini berasal dari Allah SWT, dianugerahkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Sejatinya, turunnya Al-Qur’an di malam Lailatul Qadar menandai awal dari wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun, wahyu pertama diturunkan pada malam istimewa ini, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasulullah pada bulan Ramadan. 

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT dalam Surat Al-Qadr ayat 1: 

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝١

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” 

Begitu jua, dalam Surat Ad-Dukhan ayat 1-6, Allah menjelaskan bahwa pada malam yang diberkahi ini, ditetapkan berbagai ketentuan penuh hikmah sebagai bentuk rahmat dari-Nya kepada umat manusia.

حم[1] وَالْكِتابِ الْمُبِينِ[2] إِنّا أَنْزَلْناهُ فِي لَيْلَةٍ مُبارَكَةٍ إِنّا كُنّا مُنْذِرِينَ [3]، فِيها يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ[4]، أَمْراً مِنْ عِنْدِنا، إِنّا كُنّا مُرْسِلِينَ،  [5] رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ[6] 

Artinya: “[1] Haa Miim. [2] Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan. [3] Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sesungguhnya Kami adalah pemberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] sebagai ketetapan dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah pengutus (para rasul), [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Lebih jauh lagi, Allah SWT juga menegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 bahwa bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia serta pembeda antara yang benar dan yang batil. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan bulan Ramadan dan malam Lailatul Qadar, yang penuh dengan keberkahan dan menjadi momen turunnya wahyu yang menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat Islam.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Pada sisi lain, ada keterangan lanjutan tentang turunya Al-Qur’an di malam Lailatul Qadar. Menurut Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marah Labib, Al-Qur’an pertama kali diturunkan secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Di sana, Al-Qur’an disimpan di tempat yang disebut Baitul ‘Izzah, yang menjadi perantara sebelum wahyu diberikan kepada Nabi Muhammad.

Setelah itu, Al-Qur’an tidak langsung diberikan kepada Rasulullah sekaligus, melainkan diturunkan secara bertahap. Malaikat Jibril menjadi perantara dalam menyampaikan wahyu kepada Nabi sesuai dengan situasi dan kebutuhan umat Islam saat itu. Proses ini berlangsung selama 23 tahun, sejak Nabi mulai menerima wahyu hingga akhir hayatnya.

Dengan cara ini, Al-Qur’an dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap ayat turun sebagai jawaban atas peristiwa atau pertanyaan yang muncul di masyarakat. Inilah salah satu hikmah dari turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, agar umat Islam dapat memahami dan mengamalkan ajaran-Nya dengan lebih baik.

 إنا أنزلنا القرآن جملة واحدة في ليلة القدر من اللوح المحفوظ على كتبة ملائكة سماء الدنيا إلى بيت العزة منها، ثم نجمته السفرة على جبريل فكان جبريل ينزله على رسول الله صلّى الله عليه وسلّم نجوما في ثلاث وعشرين سنة بحسب الوقائع، 

Artinya: “Maksudnya, sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an secara keseluruhan pada malam Lailatul Qadar dari Lauh Mahfuzh kepada para malaikat penulis di langit dunia, ke dalam Baitul ‘Izzah. Kemudian, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Jibril, yang kemudian menyampaikannya kepada Rasulullah secara bertahap selama dua puluh tiga tahun, sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan.” (Syekh Nawawi Banten, Tafsir Marah Labib li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an al Majid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1417 H], Jilid II, hlm. 550)

Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Lebih lanjut, menurut Syekh Nawawi Banten, makna “Al-Qadr” dalam ayat tersebut berarti takdir atau ketetapan. Pasalnya, malam Lailatul Qadar disebut demikian karena pada malam ini Allah menetapkan segala urusan yang akan terjadi hingga tahun berikutnya. Ketetapan ini mencakup berbagai aspek kehidupan seperti kematian, rezeki, dan ajal. 

Setelah itu, Allah kemudian menyampaikan keputusan-Nya kepada para malaikat yang bertugas mengatur urusan, yaitu Israfil, Mikail, Izrail, dan Jibril. Mayoritas ulama sepakat bahwa malam Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadan, meskipun ada perbedaan pendapat mengenai tanggal pastinya.

Terkait waktu terjadi malam Lailatul Qadar, sebagian ulama meyakini bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 Ramadan. Pendapat ini didasarkan pada beberapa tanda, meskipun sebagian besar dalilnya dianggap lemah. Salah satu riwayat, Ibnu Abbas, yang terkenal dengan kecerdasannya, berpendapat bahwa angka tujuh memiliki keistimewaan dalam Islam. Ia menyebutkan beberapa contoh seperti tujuh langit, tujuh bumi, tujuh hari dalam seminggu, serta tujuh kali putaran tawaf, yang menunjukkan kemungkinan besar Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27.

Ibnu Abbas juga menemukan petunjuk dalam Surat Al-Qadr. Ia mengamati bahwa Surat ini terdiri dari tiga puluh kata, dan kata “هِيَ” (hiya) berada di posisi ke-27. Selain itu, frasa “Lailatul Qadar” yang terdiri dari sembilan huruf disebutkan tiga kali dalam Surat tersebut, yang jika dikalikan hasilnya adalah 27. 

Sementara itu, Al-Wahidi dalam kitab Tafsir Al-Wajiz mengatakan malam Lailatul Qadar adalah malam di mana Allah menetapkan segala keputusan dan takdir untuk satu tahun ke depan. Malam tersebut disebut juga sebagai malam ketetapan dan pemisahan karena pada saat itulah berbagai ketentuan hidup manusia ditentukan.

Pada malam yang penuh keberkahan ini, Allah menurunkan Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauh Mahfuz ke langit dunia secara keseluruhan. Setelah itu, malaikat Jibril menyampaikan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad secara bertahap selama dua puluh tahun.

Simak keterangan berikut:

 ليلة الحكم والفصل يقضي الله فيها قضاء السَّنة والقَدْر: بمعنى التَّقدير أنزل الله تعالى القرآن كلَّه في ليلة القدر جُملةً واحدةً من اللَّوح المحفوظ إلى سماء الدُّنيا ثمَّ به جبريل عليه السَّلام على النبي صلى الله عليه والسلام في عشرين سنةً

Artinya: “Malam ketetapan dan pemisahan, di mana Allah menetapkan keputusan selama setahun dan takdir: dalam arti penentuan. Allah Ta’ala menurunkan Al-Qur’an secara keseluruhan pada malam Lailatul Qadar dalam satu kali turunan dari Lauh Mahfuz ke langit dunia, kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi secara bertahap selama dua puluh tahun.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa siapa saja yang membaca Surat Al-Qadr akan mendapatkan pahala setara dengan orang yang berpuasa di bulan Ramadan dan menghidupkan malam Lailatul Qadar. Keutamaan ini menunjukkan betapa besarnya ganjaran bagi mereka yang senantiasa membaca dan merenungkan makna dari Surat ini. 

وَمَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْقَدْرِ أُعْطِيَ مِنَ الأَجْرِ كَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَحْيَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Artinya: “Dan barang siapa membaca Surat Al-Qadr, maka ia akan diberikan pahala seperti orang yang berpuasa di bulan Ramadan dan menghidupkan malam Lailatul Qadar.”

Dengan demikian, Surat Al-Qadr ayat 1 menegaskan bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar, suatu malam yang penuh keberkahan dan lebih baik dari seribu bulan. Sejatinya, keutamaan  yang terkandung dalam malam ini, seyogianya menjadikannya sebagai kesempatan istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan memohon ampunan Allah SWT.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo