Dark
Light
Dark
Light

Razia Warung saat Ramadan, Apakah Tepat?

Razia Warung saat Ramadan, Apakah Tepat?

Arina.id – Beberapa hari lalu, media sosial diramaikan oleh aksi sekelompok pria yang melakukan razia terhadap sebuah warung yang buka pada siang hari di bulan Ramadan. Diketahui, mereka merupakan anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut. Dalam video singkat yang beredar, mereka terlihat menegur pemilik warung dengan cara yang kurang etis, bahkan membentak dan merusak fasilitas warung.

Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, menyayangkan tindakan tersebut karena dinilai dapat mencoreng citra daerah. Kejadian ini pun memicu perdebatan di masyarakat mengenai etika dan kebijaksanaan dalam menegakkan aturan selama Ramadan. Lantas, bagaimana pandangan Islam terhadap razia warung di siang hari Ramadan yang dilakukan dengan cara anarkis? Simak penjelasannya berikut ini.

Menegur secara Bijak

Dalam Islam, etika berdakwah sudah disampaikan dalam prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Dalam menegur orang yang dinilai tidak mematuhi aturan agama, hendaknya kita lakukan dengan cara yang santun. Sebab, teguran yang santun dan menghindari kekerasan akan lebih mudah diterima oleh publik. Dalam konteks razia warung saat Ramadan, jika memang terbukti warung tersebut membuat banyak orang tidak berpuasa, kita bisa mengingatkannya dengan cara yang bijak.

Etika dakwah demikian sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ


Artinya, “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl [16]: 125.

Ayat ini secara tegas memerintahkan umat Muslim untuk mengajak orang lain ke jalan yang benar dengan cara yang santun dan penuh hikmah. Islam tidak membenarkan kekerasan dalam menyebarkan ajarannya, sebab hal itu justru bertentangan dengan esensi agama sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dakwah harus dilakukan dengan kelembutan agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa menimbulkan permusuhan atau kebencian.

Bahkan, dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Nabi Musa diperintahkan untuk berbicara dengan lembut saat berdakwah kepada Fir’aun, seorang penguasa zalim yang mengaku sebagai Tuhan. Jika kepada orang sekejam Fir’aun saja masih diwajibkan untuk bersikap santun, maka lebih-lebih terhadap sesama Muslim. Oleh karena itu, berdakwah harus mengedepankan kebijaksanaan, bukan dengan paksaan atau tindakan kasar yang justru menjauhkan orang dari kebenaran.

Berperasangka Baik

Mengedepankan prasangka baik ketika melihat suatu kemungkaran -terlebih terhadap sesuatu yang belum tentu buruk-  adalah sikap utama yang harus kita terapkan dalam menyikapi berbagai hal. Misalnya, saat melihat warung buka di siang hari bulan Ramadan, respons pertama yang sebaiknya kita lakukan adalah berprasangka baik. Bisa jadi, warung tersebut sengaja dibuka untuk melayani orang-orang yang tidak memiliki kewajiban berpuasa.

Dalam Islam, tidak semua orang diwajibkan berpuasa, seperti non-Muslim, seorang Muslim yang musafir, perempuan hamil, orang sakit dengan kondisi tertentu, serta lansia yang sudah tidak mampu berpuasa. Oleh karena itu, sebelum berprasangka buruk, kita perlu mempertimbangkan kemungkinan lain. Bisa saja pemilik warung tidak memiliki sumber penghasilan lain selain usahanya tersebut. Dengan menanamkan prasangka baik, kita dapat menjaga hati dan menjauhi sikap terburu-buru dalam menilai sesuatu.

Dalam Al-Qur’an, Allah swt telah melarang kita untuk berperasangka buruk:

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ.

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat [49]: 12)

Ayat ini dengan jelas melarang kita berprasangka buruk terhadap orang lain. Saat berpuasa, kita dituntut untuk menjaga hati dan perilaku agar terhindar dari dosa. Sebab, jika seseorang tetap bermaksiat saat berpuasa, pahala puasanya bisa hilang sia-sia. Rasulullah saw pernah bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إَّلا الْجُوْعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ.

Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan pahala puasanya selain rasa lapar dan haus. Betapa banyak orang yang bangun malam, tetapi tidak mendapat pahala kecuali sekadar begadang.” (HR. An-Nasai)

Hadits ini menjadi peringatan keras bagi kaum Muslimin agar tidak menyia-nyiakan ibadah puasa dengan perbuatan dosa. Jika seseorang tidak menjaga lisannya dan perbuatannya, maka puasanya hanya tersisa lapar dan dahaga tanpa pahala.

Perbedaan adalah Fitrah

Setelah menyadari bahwa tidak semua manusia memiliki kewajiban berpuasa karena mereka memiliki kondisi dan status yang beragam, harusnya kita sadar bahwa perbedaan yang telah Allah takdirkan tersebut adalah fitrah atau realitas alamiah. Mengingkari perbedaan berarti tidak mengimani kuasa Allah. Dalam Al-Qur’an sudah ditegaskan: 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ.

Artinya, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS Al-Hujurat [49]: 13)

Konsekuensi perbedaan ini kemudian mengakibatkan tidak semua orang berpuasa saat Ramadan, karena tidak semua manusia di bumi ini memenuhi syarat sah atau mampu untuk melaksanakannya.

Kesimpulannya, melakukan razia warung pada siang hari di bulan Ramadan dengan tindakan anarkis merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan bertentangan dengan nilai-nilai dakwah Islam. Sikap seperti ini justru mencerminkan ketidakhikmatan dalam berdakwah dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam.

Terlebih di era media sosial, ketika segala sesuatu mudah viral, tindakan semacam ini dapat merusak citra umat Muslim dan memperkuat stigma sebagai kelompok yang intoleran dan tidak ramah. Semoga kasus di Garut yang sempat ramai di media sosial menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar lebih bijak dalam menyikapi persoalan sosial, terutama di bulan suci Ramadan.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo